Yang Harus Diperhatikan Orang Tua Saat Ajari Anak Puasa

CNN Indonesia | Senin, 20/05/2019 12:47 WIB
Yang Harus Diperhatikan Orang Tua Saat Ajari Anak Puasa ilustrasi puasa (jill111/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Puasa di bulan Ramadan menjadi kewajiban umat Islam. Para orang tua pun mengajari anak-anak mereka untuk mengenal dan mulai berpuasa.

Secara perlahan, anak mulai diajak bangun pagi untuk sahur juga diajak tarawih meski kadang anak sibuk bercengkerama dengan teman sebayanya. Mereka juga diajari untuk mulai menahan lapar dan haus, meski belum seharian penuh.

Hanya saja ketika mengajari berpuasa, sebagai orang tua, Anda juga harus memperhatikan hal-hal lainnya.


Sembari mengajari anak keutamaan puasa sesuai ajaran Islam, ada hal-hal lain yang perlu diperhatikan. 


1. Usia dan status gizi

Hal pertama yang musti jadi perhatian orang tua ialah usia anak. Orang tua yang paling tahu kapan anak bisa diajak komunikasi dan diberi pengertian tentang konsep berpuasa. 

Menurut Diana F. Suganda, spesialis gizi klinis, usia 3-4 tahun anak sudah bisa diajak puasa. Dia berkata, orang tua perlu memberikan pemahaman mengenai konsep berpuasa. 

"Orang tua perlu mencontohkan, anak akan menyerap (dari situ), dia melihat ayahnya bangun pagi, kenapa harus sahur, kenapa seharian tidak makan," kata Diana saat ditemui dalam acara Milkversation bersama Frisian Flag beberapa waktu lalu. 

Selain itu, orang tua juga harus memperhatikan status gizi anaknya. Salah satu cara untuk memantau status gizi bisa dilihat dari berat badan. Jika berat badan kurang dari berat badan normal anak seusianya, maka tidak perlu memaksakan untuk berpuasa sehari penuh.   

2. Komposisi gizi lengkap

Pada prinsipnya, kata Diana, kebutuhan nutrisi anak dan orang dewasa sama. Anak maupun orang dewasa sama-sama memerlukan makronutrien (karbohidrat, protein dan lemak) dan mikronutrien (vitamin dan mineral). 

"Sebenarnya sama. Makanan sahur dia ya makanan pagi dia, jamnya saja yang berubah," katanya. 

Barangkali sebagian orang tua harus sedikit berjuang untuk membuat anak mau makan dengan gizi lengkap. Kadang makan sayur saja susah. Biasanya sarapan dengan roti putih dan selai cokelat harus sedikit diubah karena jelas ini tak memenuhi kebutuhan gizi. 

"Kalau mau roti, isiannya jangan selai. Coba roti isi telur. Kalau mau untuk menambah nutrisi bisa dengan susu," kata Juwalita Surapsari, spesialis gizi klinis RS Pondok Indah saat ditemui beberapa waktu lalu di kawasan Jakarta Selatan. 

3. Jaga mood anak

Latih anak untuk berpuasa secara bertahap misal mulai dari puasa setengah hari kemudian sedikit demi sedikit mencoba sehari penuh. Biasanya tantangan orang tua adalah saat sahur. Anak musti bangun di jam yang berbeda dari biasanya. 

Lita menyarankan sebaiknya orang tua tidak membangunkan anak terlalu mendadak atau mepet dengan jam makan. 

"Paling tidak satu jam sebelum sahur. Ajak anak untuk terlibat saat menyiapkan menu, ajak ngobrol sehingga saat makan sahur, mood dia bagus dan mau makan," katanya. 

4. Beri pemahaman

Sebaiknya beri anak pemahaman tentang warning sign atau tanda bahaya saat tidak kuat puasa. Kadang anak tidak sadar bahwa dirinya sudah tidak kuat puasa. Kalau tidak kuat, lebih baik puasa setengah hari saja. 

"Ajak komunikasi anak, minta anak untuk kasih tahu kalau pusing. Saat anak lemas, pegang urat nadinya. Jika terasa cepat, anak bisa mengalami dehidrasi atau hipoglikemia," jelas Lita. 


5. Hadiah

Tak ada salahnya memberi anak imbalan atau hadiah saat puasanya bisa penuh. Hadiah bisa berupa makanan favorit untuk berbuka. 

"Ya jangan jadi kebiasaan, tapi sesekali boleh untuk memotivasi," kata Diana. 



(els/chs)