Selayang Pandang Jejak Petasan saat Lebaran

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 06/06/2019 17:13 WIB
Selayang Pandang Jejak Petasan saat Lebaran Ilustrasi kembang api. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Suara petasan yang memekakkan telinga mulai terdengar dimainkan anak-anak di malam bulan Ramadan. Jelang Lebaran, langit mendadak akan dihiasi pudaran cahaya kembang api.

Intensitas petasan dan kembang api akan semakin meningkat saat malam takbiran dan juga Hari Raya Idul Fitri.

Aktivitas ini bukan hal baru, tapi sudah terjadi sejak lama dan menyebar menjadi tradisi hampir di seluruh daerah di Indonesia.


Sosiolog Dwi Winarno mengatakan, petasan dan kembang api pada malam takbiran di Indonesia bisa dimaknai sebagai realitas agama dan budaya. Tradisi ini merupakan produk akulturasi budaya China dan agama Islam.

"Dalam praktiknya, ini merupakan hasil dari kombinasi tradisi dan agama," kata Dwi kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Bubuk mesiu yang jadi bahan petasan, jelas Dwi, awalnya dibawa dari China. Sesampainya di Indonesia, petasan berakulturasi dengan budaya lokal.

Bukan hanya dengan agama Islam, tapi juga budaya lain seperti hajatan dalam budaya Betawi. Petasan dan kembang api digunakan untuk menyemarakkan suatu acara agar lebih meriah.

"Yang kemudian dalam masyarakat Indonesia saat Ramadan petasan ini seolah dipinjam agar lebih meriah," tutur Dwi yang merupakan pengajar di Universitas Nadhlatul Ulama Indonesia ini.

Dalam perjalanannya, menurut Dwi, upaya menyemarakkan ini tidak selalu berujung positif dan cenderung menciptakan citra negatif. Misalnya, petasan digunakan secara berlebihan dan dianggap mengganggu kenyamanan masyarakat serta memicu keresahan masyarakat.

Ini pula yang membuat pemerintah memunculkan peraturan membatasi peredaran petasan dan kembang api saat Ramadan sehingga muncul beragam modifikasi petasan dan kembang api dengan daya ledak rendah dan aman digunakan.

[Gambas:Video CNN] (ptj/asr)