Surat dari Rantau

Ramadan dan Bumbu di Venezuela

Restu Fajar Angriawan, CNN Indonesia | Sabtu, 01/06/2019 13:51 WIB
Ramadan dan Bumbu di Venezuela Ilustrasi buka puasa di Caracas, Venezuela. (Dok. Restu Fajar Angriawan)
Caracas, CNN Indonesia -- Berpuasa saat Ramadan di negeri orang tidak sama seperti di Indonesia. Namun, bagi saya yang seorang abdi negara, hal itu menjadi kesempatan mengenal lebih jauh kebudayaan masyarakat lain.

Tahun ini adalah pertama kali saya melalui Ramadan di luar negeri. Tepatnya saat ditugaskan di Ibu Kota Caracas, Venezuela.

Negara ini belakangan menjadi bahan pemberitaan di mana-mana karena gejolak yang terjadi di dalam negeri.


Caracas bisa dibilang kota yang majemuk. Jumlah penduduknya yang sekitar lebih dari 4 juta jiwa terdiri dari pemeluk keyakinan yang beragam.
Mayoritas penduduk Venezuela memeluk Katolik. Sedangkan lainnya adalah minoritas yang memeluk Buddha, Yahudi, Islam, dan kepercayaan lainnya.

Pemerintah Venezuela memberi kebebasan penuh kepada warganya untuk memeluk agama dan kepercayaan tanpa ada larangan apapun.

Umat Muslim di negara ini berjumlah sekitar 100 ribu orang. Sekitar 15 ribu di antaranya adalah pendatang dari Suriah, Libanon, Arab Saudi dan negara Timur Tengah lainnya yang bermukim di Caracas.

Masjid Sheikh Ibrahim Al Ibrahim menjadi titik pertemuan seluruh umat Muslim di negara ini, apalagi rumah ibadah ini menjadi masjid terbesar kedua di kawasan Amerika Latin.

Masjid ini menjadi pusat kegiatan umat Muslim di Venezuela ketika Ramadan. Mulai dari buka bersama dan ibadah salat berjemaah.
Bagi umat Muslim berlatar belakang dari Indonesia seperti saya yang kental dengan nuansa Islam, menjalankan ibadah puasa saat Ramadan di Venezuela adalah pengalaman yang cukup unik.

Beruntung durasi waktu berpuasa di Caracas dan Indonesia tidak jauh berbeda. Hal ini tentu membuat saya tetap seolah-olah seperti berada di kampung halaman.

Meski begitu, saya tidak akan bisa menjumpai menu berbuka puasa yang dijual di sepanjang jalan layaknya di tanah air. Warga Indonesia di Caracas biasanya mengobati kerinduan menyantap takjil khas Ramadan dengan mengolah sendiri di kediaman mereka dengan bahan-bahan yang bisa didapat.

Kendati demikian hal itu pun tidak mudah. Sebab Venezuela saat ini tengah dilanda krisis ekonomi yang cukup berat sejak beberapa tahun yang lalu. Salah satu imbasnya adalah kelangkaan bahan makanan.
Ramadan di Venezuela dan Rindu Menu IndonesiaSuasana di Masjid Sheikh Ibrahim Al Ibrahim, Caracas, Venezuela. (Dok. Restu Fajar Angriawan)
Walaupun demikian, saat ini bahan makanan sudah mulai tersedia, meski saya harus merogoh kocek cukup dalam karena harganya melonjak tajam.

Meskipun makanan Indonesia yang dibuat di sini rasanya tidak persis dengan di tanah air karena keterbatasan bahan, tapi paling tidak hal itu cukup mengobati kerinduan akan kampung halaman.

Meski demikian, tidak seluruh WNI di Caracas bisa menunaikan salat tarawih berjemaah. Sebab jarak masjid satu-satunya di Caracas cukup jauh dari daerah kediaman mayoritas WNI.

Imbas krisis politik dan ekonomi di negara ini juga berdampak terhadap keamanan. Situasi keamanan pada malam hari juga menjadi pertimbangan bagi mereka yang hendak menunaikan ibadah tarawih dan witir berjamaah di mesjid.
Ramadan di Venezuela dan Rindu Menu IndonesiaSuasana buka puasa bersama di Caracas, Venezuela. (Dok. Restu Fajar Angriawan)
Beberapa teman di Venezuela cukup terkejut ketika saya menyatakan sedang tidak makan dan minum dari terbit fajar hingga matahari terbenam matahari.

"Bagaimana kalian melakukannya?," begitu kata mereka.

Walau begitu, masyarakat Venezuela cukup terbuka dengan ibadah puasa yang dijalankan umat Muslim. Meskipun tidak semua mengetahui akan kewajiban yang dijalankan umat Muslim, tetapi ketika dijelaskan mereka bisa memaklumi dan cukup menghormati.

[Gambas:Video CNN]

---
Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com / ike.agestu@cnnindonesia.com / vetricia.wizach@cnnindonesia.com

(ayp)