Pungli Masih 'Melanda' Objek Wisata di Sumba Barat Daya

CNN Indonesia | Senin, 10/06/2019 12:38 WIB
Pungli Masih 'Melanda' Objek Wisata di Sumba Barat Daya Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), merupakan salah satu kawasan di Indonesia yang menyimpan banyak potensi pariwisata. Sayangnya praktik pungutan liar atau pungli masih terjadi di sejumlah objek wisata yang ada di Pulau Sumba.

Ketua Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Provinsi Nusa Tenggara Timur, Abed Frans, meminta kepala daerah turun tangan untuk mengatasinya.

"Kepala daerah perlu turun tangan atasi pungli objek wisata di Sumba Barat Daya mengingat kondisi ini masih marak dan menjadi kendala para pelaku wisata ketika melayani wisatawan yang datang ke sana," kata Abed, seperti yang dikutip dari Antara, Senin (10/6).


Menurutnya praktik pungli tersebut sempat dialaminya secara langsung, bahkan rekan-rekan operator tur anggota ASITA NTT yang melayani para wisatawan ketika berwisata di Sumba Barat Daya juga mengalami hal yang sama.

Kondisi ini, ia melanjutkan, terjadi pada sejumlah destinasi wisata di seperti Tanjung Mareha, Watu Malando, Pantai Mbawana.

Praktik pungutan liar, ia melanjutkan, dilakukan dengan berbagai kedok seperti buku tamu untuk tiket masuk, parkiran, pemakaian toilet.

Selain itu, ketika wisatawan berdiri di samping kuda untuk berpose juga harus membayar di luar dari biaya ketika ingin menunggangi kuda.

"Ini yang membuat pusing kita sebagai operator tur karena akan menimbulkan kesan buruk bagi wisatawan," katanya.

Ia mengatakan, pada destinasi wisata lainnya di Pulau Sumba memiliki manajemen yang cukup baik seperti di Kabupaten Sumba Timur, namun khusus di Sumba Barat Daya yang menurutnya masih terkesan adanya pembiaran.

"Khusus di Sumba Barat Daya ini, sepertinya Pemda adem ayem saja," katanya.

Untuk itu pihaknya meminta pemerintah daerah di Sumba Barat Daya agar fokus menata kembali berbagai objek wisata dengan keindahan yang sangat memikat wisatawan.

Menurutnya upaya promosi yang gencar di luar tidak akan berdampak banyak terhadap kunjungan wisatawan jika destinasi belum ditata secara baik termasuk aspek keamanannya.

"Pemda hendaknya berkonsentrasi pada pembenahan destinasi, sementara untuk promosi tinggal berkoordinasi bersama para pelaku pariwisata karena itu memang tugas mereka" pungkasnya.

Tak hanya Abed, praktik pungli juga dialami oleh Pemilik operator tur PT Flores Komodo Tours, Oyan Kristian.

"Anak-anak datang begitu saja berdiri di depan pintu toilet tanpa menginformasikan biaya penggunaan toilet tapi ketika selesai digunakan baru ditodong untuk bayar sekian," kata Oyan.

Oyan menjelaskan, selain itu kelakuan warga pada di berbagai objek wisata setempat juga telah menimbulkan ketidaknyamanan bagi wisatawan.

"Ketika saya membawa para tamu tiba di Pantai Mbawana langsung dikerumuni warga setempat, anak-anak minta uang untuk beli permen, beli buku, dan yang dewasa menyodorkan souvenir terkesan memaksa tamu untuk membelinya," katanya.

[Gambas:Video CNN] (ANTARA/agr)