Kontaminasi plastik dalam tubuh ini berasal dari mikroplastik. Nama terakhir merupakan partikel berukuran lebih kecil dari 5 milimeter. Mikroplastik dapat masuk ke dalam makanan, minuman, bahkan udara. Di seluruh dunia, setiap orang rata-rata menelan sekitar 2 ribu partikel mikroplastik per minggu.
Melansir CNN, penelitian yang dilakukan Newcastle University, Australia ini menyebut, partikel kecil tersebut berasal dari berbagai sumber. Mulai dari serat pakaian buatan, microbeads yang terkandung dalam pasta gigi, atau potongan plastik lebih besar yang secara bertahap pecah menjadi potongan-potongan kecil saat dibuang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, mikroplastik juga dapat ditemukan di sejumlah makanan dan minuman sehari-hari yang dikonsumsi seperti air mineral, garam, dan masih banyak lagi.
"Sangat jelas bahwa mikroplastik menjadi masalah global. Meski sebuah negara telah berusaha 'membersihkan', bukan berarti mereka terlindung dari mikroplastik," ujar salah seorang peneliti, Kala Senathirajah.
Penelitian dilakukan dengan mengulas 52 studi yang memperkirakan konsumsi plastik di seluruh dunia. Penelitian didukung oleh World Wildlife Fund (WWF) untuk laporannya teranyarnya.
Studi lain menemukan bahwa makanan, minuman, dan udara yang dihirup orang AS mengandung partikel mikroplastik. Sebanyak 74 ribu hingga 121 ribu partikel mikroplastik terhirup setiap tahunnya. Mereka yang terbiasa meminum air botol bisa menambah hingga 90 ribu total partikel plastik setiap tahunnya.
Kerang menjadi sumber kedua terbesar yang berkontribusi terhadap konsumsi mikroplastik. Rata-rata sebanyak 182 mikroplastik atau sekitar 0,5 gram yang berasal dari kerang dikonsumsi setiap orang per minggu.
(Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Mikroplastik juga terdeteksi di udara. Studi menyebutkan bahwa inhalasi menyumbang asupan mikroplastik dalam kondisi tertentu.
Berangkat dari penelitian ini, muncul kekhawatiran akan risiko kesehatan yang mengintai penduduk Bumi akibat mikroplastik. Kendati demikian, hingga saat ini belum jelas dampak terbesar kesehatan akibat mikroplastik.
"Ada ketidakpastian yang sangat besar tentang bahaya yang ditimbulkan plastik," kata Profesor Richard Lampitt, dari Pusat Kelautan Nasional Britania Raya, yang tidak terlibat dalam penelitian.
Lampitt mengatakan, plastik bukan bahan dengan bahaya tinggi. "Namun ada potensi bahwa itu [plastik] sangat berbahaya," tambahnya. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai dampak plastik jangka panjang terhadap kesehatan.
Tapi, jika benar bahwa mikroplastik memberikan dampak yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, maka pengendaliannya akan berjalan sangat sulit.
Secara global, lebih dari 330 juta ton metrik plastik diproduksi setiap tahunnya. Produksi plastik secara global diprediksi akan meningkat tiga kali lipat pada 2050 mendatang.
"Penanganan plastik dan target mengurangi produksi yang dilakukan perusahaan harus menjadi fokus," pungkas Parkash-Mani.
[Gambas:Video CNN] (nad/asr)
(Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)