Mereka yang Berupaya Mengurangi Sampah Plastik

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 30/06/2019 16:20 WIB
Sejumlah komunitas telah beramai-ramai mengampanyekan gaya hidup less plastic. Ilustrasi (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Disadari atau tidak, plastik telah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Gaya hidup serba praktis di zaman kiwari jadi jawaban mengapa sampah plastik terus menggunung.

Saat ini, diperkirakan terdapat 150 juta ton plastik di lautan. Plastik merupakan bahan yang tak mudah terurai dan memiliki masa hidup yang panjang. Saat terurai, plastik menyisakan partikel-partikel kecil bernama mikroplastik yang bisa mengancam lingkungan.

Sebelum bahaya akan plastik terus mengancam manusia, tak ada salahnya untuk bergerak. Sejumlah komuntas telah beramai-ramai mengampanyekan gaya hidup less plastic. Kampanye dilakukan untuk memberikan kesadaran terhadap masyarakat tentang perlunya mengubah gaya hidup.


Berikut beberapa komunitas yang getol mengampanyekan gaya hidup anyar dengan mengurangi pemakaian plastik.

Bye Bye Plastic Bags
Siapa sangka inisiatif untuk peduli terhadap lingkungan datang dari remaja?

Komunitas Bye Bye Plastic Bags (BBPB) berawal dari dua bersaudara Melati dan Isabel Wijsen. Perkenalan dengan tokoh-tokoh seperti Mahatma Gandhi, Lady Diana, dan Nelson Mandela membuat mereka berpikir apa yang bisa mereka lakukan untuk kehidupan yang lebih baik.

"Dua bersaudara ini kembali ke rumah dan bertanya pada diri sendiri, 'Apa yang bisa kami lakukan sebagai anak-anak yang tinggal di Bali, sekarang, untuk membuat sebuah perubahan?'," tulis keterangan dalam laman resmi BBPB.

Lahir sejak 2013, komunitas ini telah melebarkan sayapnya. Tak hanya di Bali, BBPB juga eksis di sejumlah kota-kota besar di Indonesia hingga mancanegara.

Menyitat akun Instagram @byebyeplasticbagsjakarta, kegiatan tak melulu ihwal kampanye penggunaan tas belanja non-plastik. Tapi juga kegiatan edukasi terkait sampah plastik, gerakan mengumpulkan botol plastik, juga gerakan clean up dalam rangka World Clean Up Day.

Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik
Masyarakat terbiasa menggunakan kantong plastik saat berbelanja. Meski terkesan praktis, namun siapa sangka jika kebiasaan ini menjadi salah satu penyebab menyebar luasnya sampah plastik di lautan.

Komunitas ini mencoba mengajak masyarakat untuk lebih bijak menggunakan kantong plastik.

Komunitas ini bermula dari kampanye mengurangi penggunaan kantong plastik yang dilakukan sejumlah lembaga seperti Change.org, Ciliwung Institute, Earth Hour Indonesia, Greeneration Indonesia, Leaf Plus, Indorelawan, Si Dalang, The Body Shop, dan beberapa individu. Mereka-lah yang menginisiasi gerakan ini sejak tahun 2013 lalu.

Selain edukasi, kegiatan rutin yang dilakukan antara lain #T-shirtBag (membuat sendiri tas belanja dari kaos bekas), #WisataPlastik (wisata di sepanjang Ciliwung untuk melihat dampak pencemaran plastik), #RampokPlastik (menukar kantong plastik warga dengan kantong yang bisa dipakai ulang), dan #BelanjaCantikTanpaKantongPlastik (program untuk mengajak orang berbelanja dengan tas belanja yang bisa dipakai ulang dengan bahan dan desain unik).

Zero Waste Nusantara
Membuang sampah pada tempatnya rupanya tidak cukup. Mau dibawa ke mana sampah kita? Hal itu lah yang disadari Jeanny Primasari, sang pendiri. Gagasan untuk berbagi dan bertukar pikiran mengenai isu lingkungan, utamanya soal sampah, pun dimulainya melalui Facebook.

Bicara sampah, berarti bicara pula tentang plastik. Plastik mencemari daratan, lautan, dan udara, hingga kemudian kembali lagi ke manusia.

Lewat komunitas ini, Jeany mengajak masyarakat untuk menerapkan gaya hidup zero waste dengan menerapkan 5R ala Bea Johnson, seorang zero waster asal Prancis.
5R adalah refuse (mengganti wadah atau barang sekali pakai), reduce (belanja sesuai kebutuhan), reuse (pakai barang yang bisa digunakan berulang), recycle (daur ulang sampah atau barang bekas), dan ROT/compost (mengolah sampah jadi kompos).

Sustanation
Sustanation merupakan platform di mana orang bisa belajar tentang gaya hidup berkelanjutan dan minim sampah dengan produk ramah lingkungan. Penggagas Sustanation, Dwi Sasetyaningtyas awalnya membuat platform untuk mengedukasi sekaligus menjadi catatan perjalanan dirinya menuju gaya hidup yang lebih baik.

"Saya percaya tiap perubahan kecil bermakna dan tiap usaha sekecil apapun penting. Tindakan kecil yang dilakukan ribuan orang akan mengubah dunia," tulisnya di laman Sustanation.

Sebagai media belajar, ada SustainBlog untuk menyediakan informasi mengenai gaya hidup berkelanjutan dan minim sampah. Selain itu juga terdapat SUstainStore. Toko ini menjual produk-produk yang mendukung seperti alat makan dari kayu, menstrual cup, reusable pad, juga sedotan stainless steel.

Get Plastic
Mengurangi penggunaan bukan berarti 'melenyapkan' plastik dari muka bumi. Perlu ada upaya atau gerakan untuk menyelesaikan persoalan plastik dengan tepat. Komunitas Gerakan Tarik Plastik (Get Plastic) memunculkan gagasan untuk mengolah sampah plastik.

Salah satu pendiri komunitas, Dimas Bagus Widjanarko menuturkan, dari beberapa sumber dan hasil obrolan bersama kawan, dia menemukan bahwa plastik bisa diolah jadi bahan bakar.

Sejak 2014 dia berusaja mengupayakan hal tersebut. Berkat upayanya, mesin pengolah sampah pun tercipta. Banyak daerah telah menggunakan alat ciptaannya.

"Karena kami tidak memungut biaya sama sekali, jadi nanti komunitas atau kelompok yang ingin bergabung kami berikan daftar bahan untuk membuat mesin tersebut. Setelah itu ada pendampingan dan selanjutnya adalah memberikan laporannya kepada kami soal sampah plastik yang sudah dikelolanya," ujar Dimas pada CNNIndonesia.com.

[Gambas:Video CNN] (els/asr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK