Surat dari Rantau

Berdamai dengan Musim Panas di Kota 'Black Forest'

Putri Ronosulistyo, CNN Indonesia | Minggu, 07/07/2019 15:46 WIB
Berdamai dengan Musim Panas di Kota 'Black Forest' Kota Freiburg di Jerman. (Istockphoto/Bluejayphoto)
Freiburg, CNN Indonesia -- Sudah 8,5 tahun saya meninggalkan Bandung untuk menetap di Freiburg, demi menamatkan pendidikan kedokteran di Albert-Ludwigs-Universität Freiburg.

Freiburg adalah salah satu kota kecil di selatan Jerman, dekat dengan perbatasan kota Swiss dan Perancis.

Saya masih ingat di bulan-bulan pertama saya tinggal di sini, saya sempat merasa . Kotanya yang kecil dengan bangunan tuanya, lingkungan yang sepi serta saat itu saya belum memiliki teman.



Dibandingkan dengan Bandung yang berpopulasi sekitar 2,3 juta, Freiburg hanya memiliki 227 ribuan jiwa. Rasanya lebih banyak orang berlalu-lalang di Mall Central Park Jakarta ketimbang yang ada di pusat kota Freiburg.

Tapi kesibukan di perkuliahan membuat saya lama-lama terbiasa. Saya pun menemukan teman sesama WNI yang menuntut ilmu di sini, walaupun memang WNI di Freiburg tidak sebanyak WNI di kota-kota lainnya di Jerman. Teman-teman WNI disini sudah seperti keluarga kedua bagi saya.

Saya selalu ingat pepatah 'di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung'. Jadi sebagai pendatang, saya berusaha untuk mengikuti kebiasaan penduduk di sini. Salah satu yang saya pegang teguh ialah cara mereka menghargai waktu.

Contohnya saat saya janji dengan teman, baik untuk kongko atau belajar bersama, saya selalu berusaha datang tepat waktu karena mereka pun demikian.

Saat ingin naik kereta juga demikian. Kalau ada gangguan, pengelola jasa transportasi memberi pengumuman resmi melalui beragam media, mulai dari media, radio, sampai aplikasi media sosial.

Bisa dibilang tidak ada alasan menggerutu akibat jam karet di sini.

Salah satu khas Freiburg adalah kota yang ramah untuk bersepeda. Di sini dari yang tua sampai yang muda banyak yang menggunakan sepeda sebagai transportasi utama mereka. Selain untuk kesehatan, memang lebih murah juga.

Berbeda dengan di Indonesia, di mana setiap akhir pekan Mall selalu penuh dan menjadi tujuan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, di Freiburg penduduknya menghabiskan hari minggu mereka bersama keluarga atau kerabat dengan piknik di taman, danau dan di samping sungai.


Kalau mencari ruang publik hijau, Freiburg bisa dibilang salah satu surganya di Jerman. Kota ini juga mendapat sebutan Kota Hijau karena kotanya yang ramah lingkungan dan banyak pepohonan dan rumput di ruang terbukanya.

Freibug juga dikelilingi oleh Schwarzwald atau kawasan hutan Black Forest. Anda tidak salah dengar karena nama itu memang sama dengan kue khas di sini, kue tart Black Forest. Jangan lupa mencicipinya saat datang ke sini ya!

Walaupun berada dekat dengan kawasan pegunungan, Freiburg termasuk salah satu kota di Jerman yang 'paling hangat' saat musim dingin dan musim panas.

Saat musim dingin tiba Freiburg termasuk destinasi bagi penduduk dan turis yang ingin bermain ski karena letaknya yang dekat dengan gunung Feldberg. Sebagai manusia tropis, tentu saja saya sangat senang saat salju datang. Saat ini tahun ke-tiga saya menggeluti hobi ski.

Jika saya senang melihat salju, penduduk asli di sini sepertinya lebih gembira saat musim panas datang. Mereka yang biasanya jarang banyak bicara jadi terlihat ceria saat matahari bersinar.

Kalau udara dingin bisa dihalau dengan pemanas atau jaket yang tebal, maka udara panas memang paling pas diusir dengan kipas angin atau AC.

Karena musim panas yang hanya beberapa bulan saja, rumah di sini jarang yang memiliki pendingin udara, sehingga mencari angin di luar rumah menjadi kegiatan utama saat musim panas.

Kebetulan komplek apartemen saya berada dekat danau. Mahasiwa yang tinggal di sini sering menghabiskan waktu di sana saat musim panas, mulai dari berenang, berjemur, sampai pesta BBQ. Undangan piknik di tepi danau jadi selalu mengalir selama musim panas.

Suhu gerah musim panas di Freiburg pernah mencapai 39 derajat Celcius. Tahun ini kabarnya bakal lebih panas karena isu gelombang panas yang menghantam Eropa.

Pemerintah Jerman sudah menghimbau penduduknya agar tidak meremehkan gelombang panas.

Kami diminta tak berjejal di angkutan umum. Pekerja kantoran dan anak sekolah juga diminta pulang lebih awal karena di musim panas siang bakal lebih panjang. yang juga berarti lebih gerah saat gelombang panas datang.

Bagi turis yang hendak berwisata ke Jerman di musim panas ini saya sarankan untuk banyak minum air putih saat berkegiatan di luar ruang.

Jangan malas menggunakan krim anti-matahari, kalau bisa kenakan topi agar kepala tidak langsung terkena terik matahari yang bisa membuat tubuh lemas lunglai.


---
Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com / ike.agestu@cnnindonesia.com / vetricia.wizach@cnnindonesia.com

(ard)