Wisata Pengamatan Paus di Jepang Terancam Gulung Tikar

CNN Indonesia | Jumat, 12/07/2019 19:14 WIB
Wisata Pengamatan Paus di Jepang Terancam Gulung Tikar Ilustrasi. (AFP Photo/Don Emmert)
Jakarta, CNN Indonesia -- Turis-turis yang memenuhi geladak kapal wisata mengamati paus di Jepang berteriak kegirangan saat sekelompok orca memulai pertunjukkannya: menyibak air dengan siripnya yang lebar, berguling, sampai melompat keluar dari air.

Di Kushiro, hanya 160 kilometer selatan Rausu, tak jauh dari kemeriahan wisata bahari itu, terlihat kapal pemburu paus komersial kembali berlayar untuk yang pertama kalinya setelah terhenti selama 31 tahun.

Yang menjadi bintang hari itu dua paus minke, yang juga diincar oleh kapal-kapal pemburu di Rausu - suatu situasi yang diakui oleh kapten kapal pengamat paus, Masato Hasegawa, membuatnya khawatir.



"Mereka tidak akan datang ke daerah ini, ini adalah taman nasional. Jika tidak nanti akan ada masalah besar," kata mantan nelayan berusia 57 tahun itu.

"Dan paus yang kita lihat hari ini, paus sperma dan paus pembunuh, bukanlah hewan yang mereka buru."

"Tapi terkadang kita juga menonton minke," tambahnya.

"Jika mereka berburu di Laut Okhotsk akan terasa perubahannya, dan itu sangat buruk untuk wisata pengamatan ikan paus."

Wisata pengamatan paus adalah bisnis yang berkembang di seluruh Jepang, mulai dari pulau Okinawa selatan hingga Rausu, desa nelayan di pulau Hokkaido yang begitu jauh di utara sehingga lebih dekat ke Rusia daripada ke Tokyo.

Jumlah turis wisata mengamati paus di Jepang meningkat lebih dari dua kali lipat antara tahun 1998 dan 2015, tahun terakhir di mana data nasional tersedia.

Satu perusahaan di Okinawa memiliki 18 ribu pelanggan antara Januari dan Maret tahun ini.

Di Rausu, 33.451 turis datang untuk wisata mengamati paus dan burung, naik 2.000 dari 2017 dan lebih dari 9.000 lebih tinggi dari 2016.

Selain sewa perahu, bisnis penginapan, restoran, dan toko cinderamata juga laris manis.

"Dari bisnis kapal wisata, 65 persen adalah wisata mengamati paus," kata Ikuyo Wakabayashi, direktur eksekutif Asosiasi Pariwisata Shiretoko Rausu, yang mengatakan jumlahnya meningkat secara substansial setiap tahun.

"Anda tidak hanya melihat satu jenis paus di sini," katanya.

"Mengamati paus adalah sumber daya wisata yang sangat besar bagi Rausu dan ini akan terus berlanjut, saya harap."

Wakabayashi datang ke Rausu karena tertarik dengan pengamatan paus.

"Saya pikir ini adalah tempat yang luar biasa," katanya.

"Musim dinginnya memang parah, tetapi pemandangannya sangat indah."

Hasegawa, yang mengatakan sudah memiliki daftar tunggu turis di musim ramai, kini telah memesan kapal kedua.

"Saat ini, bisnis yang kami miliki berkembang dengan baik," kata Hasegawa.

"Lebih baik dari pada memancing."


Lima kapal penangkap paus terlihat ditambatkan di pelabuhan Kushiro. Anggota kru datang dan pergi. Hampir 300 orang terlibat langsung dengan perburuan paus di Jepang.

Walau pemerintah mengatakan daging paus adalah bagian penting dari kuliner Jepang, jumlah yang dikonsumsi setiap tahun telah turun menjadi hanya 0,1 persen dari total konsumsi daging.

Namun Jepang, di bawah Perdana Menteri Shinzo Abe - orang yang lahir dan besar di distrik perburuan paus - meninggalkan Komisi Penangkapan Ikan Paus Internasional (IWC) dan kembali melakukan perburuan paus komersial pada 1 Juli 2019.

Pendukung perburuan paus, seperti Yoshifumi Kai, kepala Asosiasi Perburuan Paus Kecil Jepang, merayakan perburuan itu.

"Kami bertahan selama 31 tahun, tetapi sekarang penantian itu terbayarkan," katanya di Kushiro setelah minke pertama tertangkap.

Semua orang mengakui bahwa permintaan pasar bisa jadi sulit setelah berpuluh-puluh tahun paus menjadi bahan makanan yang mahal dan sulit ditemukan.

Jepang mulai mengkonsumsi daging paus setelah Perang Dunia Kedua, karena penduduknya miskin dan membutuhkan protein murah.

Kondisi tersebut berubah setelah awal 1960-an ketika daging sapi dan lainnya mulai dikonsumsi karena harganya lebih murah.

"Jepang memiliki begitu banyak makanan sekarang, jadi kami tidak berharap permintaan daging paus akan meningkat secepat itu," kata Kazuo Yamamura, presiden Asosiasi Penangkapan Ikan Paus Jepang.

"Tapi melihat ke masa depan, jika Anda tidak makan daging paus, Anda lupa bahwa itu adalah makanan," katanya.

"Jika Anda pernah dibuatkan bekal makan siang sekolah dari daging paus, Anda akan mengingatnya sebagai kenangan yang baik."

Bagi Rausu, kawasan di Semenanjung Shiretoko yang terpencil di Hokkaido, bisnis yang layak adalah wisata mengamati paus.

Meskipun penangkapan ikan adalah tulang punggung ekonomi Rausu sejak dulu, industri ini telah terpukul akibat menurunnya stok ikan, yang oleh penduduk setempat dipersalahkan atas pukat Rusia dan penurunan harga.

Populasi telah menurun beberapa ratus per tahun, turun di bawah 5.000 tahun ini.

Hasegawa, seorang nelayan generasi keempat, memulai bisnis perahu wisata pada tahun 2006.

Meskipun beberapa tahun pertama adalah perjuangan, ia sekarang senang dengan pilihannya ketika reputasi Rausu tumbuh secara global.

Pada hari kerja baru-baru ini, turis memenuhi tempat parkir di dermaga yang dipadati dengan perahu nelayan cumi, menunggu untuk naik kapal Hasegawa dan tiga perusahaan lainnya.

Turis yang naik kapal Hasegawa datang dari seluruh Jepang dan beberapa negara asing.

"Hari ini ada lebih banyak (paus) dari biasanya; itu fantastis," kata Kiyoko Ogi, seorang supir bus Tokyo berusia 47 tahun yang telah tiga kali berwisata mengamati paus di Rausu.

"Saya benar-benar menentang perburuan paus komersial; melihat paus dekat sangat menyenangkan. "

Perburuan paus tidak pernah besar di Rausu, dan meskipun Hasegawa mengatakan pernah ada "masalah" dengan orang-orang yang berburu paus kecil, para nelayan paus sekarang tinggal jauh dari lokasi wisata mengamati paus dan akan memberi tahu dia di mana menemukan orca dan paus sperma.

Tapi dia meragukan apakah permintaan akan daging paus akan meningkat. Restoran dan hotel di Rausu menghindari menyajikannya.

"Kami mendapatkan banyak turis anak di liburan musim panas. Jika Anda memberi tahu mereka di atas kapal bahwa 'ini adalah paus yang kita makan tadi malam,' mereka akan menangis," katanya.

"Jika mereka memburu paus, tak seorang pun turis dari luar negeri akan datang, terutama orang Eropa," tambahnya.

"Mengingat bahwa pemerintah nasional berusaha merayu wisatawan luar negeri untuk datang ke Jepang, pemikirannya (tentang perburuan paus) tampaknya agak salah."


[Gambas:Video CNN]

(REUTERS/ard)