Penyakit yang Mengintai Ketika Terbiasa Bernapas Lewat Mulut

tim, CNN Indonesia | Kamis, 11/07/2019 14:27 WIB
Penyakit yang Mengintai Ketika Terbiasa Bernapas Lewat Mulut Tren plester mulut saat tidur seperti yang dilakukan Andien menuai pro kontra, namun sebenarnya ada manfaatnya bernapas dengan hidung saat tidur. (Istockphoto/SergeyChayko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tren plester mulut saat tidur seperti yang dilakukan penyanyi Indonesia Andien Aisyah menuai pro dan kontra.

Dalam unggahan stories-nya, Andien mengungkapkan bahwa bernapas lewat mulut kerap terjadi saat tidur dan menyebabkan ngorok.

Hal ini pun membuat penyanyi dan juga beberapa selebriti lainnya juga melakukan plester mulut untuk membiasakan bernapas lewat hidung, bukan mulut.


"Bernapas itu harus melalui hidung," kata Profesor Faisal Yunus, pengajar Bagian Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI kepada CNNIndonesia.com.

"Tubuh memiliki mekanisme untuk mengolah udara yang masuk melalui hidung. Ketika bernapas lewat hidung, udara yang masuk akan disaring, disesuaikan suhunya, baru ke paru-paru."


Hanya saja, karena beberapa kondisi, bernapas juga bisa dilakukan lewat mulut. Misalnya karena kondisi penyakit tertentu misalnya polip, sinus, dan lainnya.

"Jika tidak, ada risiko-risiko gangguan pernapasan yang mengancam manusia," ucapnya.

Berikut beberapa penyakit yang mengintai jika kebiasaan bernapas lewat mulut.

1. Bronkitis

Bronkitis merupakan peradangan yang terjadi pada bronkus atau saluran utama pernapasan. Bronkus berfungsi untuk membawa udara dari dan menuju paru-paru. Penyebab utamanya infeksi virus tetapi ada kondisi-kondisi yang membuat orang rentan terkena bronkitis salah satunya paparan zat-zat berbahaya seperti debu atau kotoran di udara. 

Orang yang terkena bronkitis akan mengalami gejala antara lain, batuk terus-menerus dan disertai nyeri dada, sakit tenggorokan, penurunan kesadaran, mual, muntah dan diare. 

2. Sesak napas

Sesak napas atau asma adalah kondisi peradangan dalam bronkus. Peradangan membuat bronkus membengkak, menyempit dan memproduksi lendir berlebih sehingga napas menjadi sesak. Bagi mereka yang memiliki asma, udara kotor yang penuh polutan bisa memicu sesak napas. 

Sedangkan bagi mereka yang tidak memiliki gangguan pernapasan bisa merasakan sesak napas meski tak separah penderita asma. 

3. Infeksi saluran napas

Udara yang masuk ke mulut tidak akan tersaring seperti jika bernapas lewat hidung. Mau tak mau ada sederet kuman atau virus yang bebas masuk ke tubuh termasuk virus penyebab infeksi saluran pernapasan. 

Infeksi saluran pernapasan ada dua yakni bagian atas yang mempengaruhi hidung, sinus dan tenggorokan. Sedangkan bawah meliputi saluran udara dan paru-paru. 

Infeksi saluran pernapasan bisa ditandai dengan gejala radang tenggorokan, batuk kering, demam ringan, mata berair, suara serak, hidung tersumbat dan pilek. 


4. TBC

Selain infeksi saluran pernapasan, risiko penyakit lain yang masuk ketika terbiasa bernapas lewat mulut ialah tuberculosis alias TBC. Biasanya, TBC menyerang paru-paru tetapi bisa juga menyebar ke tulang, kelenjar getah bening, sistem saraf pusat, jantung dan organ lain. 

Bakteri Mycobacterium tuberculosis masuk dan menyerang jaringan tubuh. bakteri biasanya ditularkan melalui saluran udara. Saat bakteri sudah melalui masa inkubasi, gejala kemudian terlihat seperti, batuk berdahak selama dua minggu atau lebih, batuk darah, demam, sesak napas, meriang, penurunan berat badan, kehilangan napsu makan dan tubuh lemah. 

Faisal mengungkapkan bahwa semua penyakit ini bisa masuk ke tubuh karena bernapas lewat mulut. Pasalnya, hidung memiliki mekanisme untuk menyaring udara yang masuk ke tubuh.

"Hidung punya bulu-bulu basah, makanya kotoran nempel dan tidak masuk [ke tubuh]," kata dia. 

Hanya saja meski demikian, dia mengungkapkan bahwa praktik plester mulut untuk bernapas lewat hidung adalah hal yang ekstrem. 

"Itu cara yang ekstrem, bisa kok melatih bernapas lewat hidung dengan cara bernapas dalam-dalam kemudian keluarkan lagi perlahan. Itu sudah termasuk latihan pernapasan." (els/chs)