Kesaksian Pilot saat Terbang dekat Gunung Meletus

CNN Indonesia | Sabtu, 03/08/2019 14:44 WIB
Kesaksian Pilot saat Terbang dekat Gunung Meletus Foto udara letusan gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Minggu, 23 Desember 2019. (ANTARA FOTO/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat)
Jakarta, CNN Indonesia -- Erik mendadak mencium bau belerang. Tak lama, ia merasakan mesin pesawatnya memanas. Saat melihat ke bawah, ternyata asap mulai terlihat dari kawah Gunung Anak Krakatau. Seketika ia menghubungi Air Traffic Control di Jakarta untuk meminta pembaharuan rute.

Setelah mendapat rute terbaik, ia langsung "banting setir" pesawatnya menjauh dari gunung yang sedang batuk-batuk itu. Saat mendarat, ia dapat berita kalau telah terjadi Tsunami Selat Sunda.  

Begitulah kesaksian Erik (bukan nama sebenarnya), seorang pilot yang menjabat first officer di sebuah maskapai Indonesia, saat melintas dekat gunung berapi yang sedang menggelegak beberapa waktu yang lalu.


Berada di Cincin Api, Indonesia memang dikelilingi banyak gunung berapi yang aktif. Jika erupsi Tangkuban Parahu "hanya" menutup taman wisata dari kedatangan turis selama satu minggu, maka letusan Gunung Merapi, Gunung Sinabung, Gunung Anak Krakatau, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani sempat membuat penerbangan lumpuh. 


Alasan dibatalkan

Erik, yang diwawancara oleh CNNIndonesia.com pada Jumat (2/8) melalui sambungan telepon, menjelaskan alasan di balik tertundanya penerbangan saat gunung berapi bergejolak.

"Bandara, terutama yang berada dekat dengan gunung berapi, seperti di Bali atau Lombok, tidak akan beroperasi jika gunung sudah mengeluarkan asap vulkanik. Alasannya sebenarnya sepele; debu. Tapi debu vulkanik seperti beling yang tajam bisa menghancurkan mesin pesawat," kata Erik.

"Asap vulkanik juga mengganggu pemandangan lepas landas dan mendarat. Jadi walau saat gunung erupsi tapi langit di bandara cerah, ketahuilah bahwa ada alasan keamanan di balik penundaan atau pembatalan penerbangan Anda," lanjutnya.

Dijelaskan Erik, bisa saja penerbangan dilanjutkan saat gunung berhenti erupsi. Syaratnya, pilot akan terbang di rute baru sesuai informasi dari Air Traffic Control (ATC) bandara tujuan.

Penerbangan yang tetap dilaksanakan ini juga bakal berdurasi lebih lama dari biasanya. Kembali lagi, alasannya menghindari asap vulkanik.

"Misalnya penerbangan dari Makassar ke Bali. Makassar ada di utara dan Bali di selatan. Kita ga bisa langsung terbang lurus ke selatan kalau Gunung Agung meletus. ATC memberi informasi rute baru demi menjauh dari dampak letusan tersebut," ujar Erik.

"ATC bekerja lebih keras, pilot dan awak bekerja lebih keras, semua demi keamanan penumpang. Jadi saya harap penumpang jangan kesal-kesal ya kalau penerbangan tertunda saat gunung berapi dekat bandara meletus," lanjutnya sembari tersenyum.

Mengenai erupsi Gunung Tangkuban Parahu, penumpang pesawat tidak perlu khawatir mengenai pembatalan penerbangan sebelum ada informasi resmi dari pemerintah.

Tapi jika Gunung Tangkuban Parahu meletus dengan hebat, ia memperkirakan kalau penerbangan dari dan ke Bandung serta Christmas Island di Australia akan tertunda.


Sabuk pengaman

Selama terbang ke penjuru Indonesia, Erik tentu saja sudah kenyang melihat indahnya pemandangan pegunungan Indonesia dari balik kokpit.

Kepada CNNIndonesia.com, ia mengaku sangat terkesan dengan pemandangan Gunung Bromo dan Gunung Rinjani, terutama saat melintas di sana pada pagi hari.

Erik mengatakan kalau banyak penumpang yang khawatir saat pesawat yang ditumpanginya diketahui hendak melintasi gunung berapi. Namun ia mengimbau ketakutan berlebih tidaklah perlu.

"Ini perlu diketahui penumpang, bahwa pilot sudah dibekali oleh informasi ATC, AirNav, sampai BMKG saat hendak melintasi gunung berapi. Tentu saja kami sudah menyiapkan langkah-langkah untuk menerbangkan pesawat dalam kondisi ini. Kami sudah mendapat latihan panjang untuk menghadapi situasi ini," kata Erik.

"Yang harus penumpang lakukan ialah mematuhi imbauan keselamatan di dalam kabin dan sadar akan dampak penerbangan saat melintasi area erupsi. Kalau bisa kenakan sabuk pengaman selama masih berada di dalam pesawat, karena turbulensi bisa saja terjadi," lanjutnya yang mengatakan kalau pemanasangan global juga membuat turbulensi bakal terjadi lebih sering. 


[Gambas:Video CNN] (ard)