Mencari Metode Pelestarian Pulau Komodo

CNN Indonesia | Senin, 12/08/2019 11:55 WIB
Mencari Metode Pelestarian Pulau Komodo Pulau Komodo (Foto: Nico Wijaya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menurut legenda, satwa komodo merupakan kembaran dari suku Komodo yang dilahirkan oleh seorang wanita bernama Putri Naga yang kemudian menikah dengan seorang pria setempat.

Putri Naga kemudian melahirkan seorang laki-laki dan sebuah telur yang kemudian menetaskan hewan komodo betina.

Zaman dahulu komodo bisa mengerti bahasa suku Komodo, seperti moke mai (jangan datang), moke waki ahu (jangan gigit saya). Konon jika suku Komodo sudah mengucapkan kalimat itu, reptil purba itu akan pergi dengan sendirinya.


Tapi sayangnya kebiasaan itu kini telah pudar, seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan peradaban manusia. Bahkan para penghuni Pulau Komodo akan dipindahkan secara bertahap untuk konservasi pulau tersebut.



Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Marius Ardu Jelamu, mengatakan saat ini pemerintah provinsi sedang intensif menggelar rapat dengan sejumlah pihak terkait rencana konservasi di Pulau Komodo.

Rapat ini membahas persiapan rencana jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang terkait pulau yang menjadi habitat komodo itu. Tahapan tersebut akan dijalankan selama setahun.

Penerapan rencana itu, nantinya bisa menyasar infrastruktur ke Pulau Komodo, menumbuhkan pohon endemik setempat, memindahkan warga lokal dan pedagang kaki lima (PKL) ke pulau di sekitar Pulau Komodo.

Mengutip Antara, Senin (12/8), setelah konservasi dilakukan dan pulau tersebut kembali tertata dengan baik, akan kembali dibuka untuk tujuan wisata.



Namun, dia menggarisbawahi bahwa sistem wisata dan manajemen tata kelola di Pulau Komodo ke depannya akan berubah.

Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke Labuan Bajo mengatakan, jika ingin melihat Komodo, wisatawan bisa berwisata ke Pulau Rinca yang banyak Komodonya.

Presiden juga mengisyaratkan Pulau Komodo akan dibuat lebih eksklusif, namun tidak dengan Pulau Rinca.



Jokowi menargetkan semua pembenahan di Pulau Komodo akan selesai dalam waktu dua atau tiga tahun.

Namun, wacana relokasi terhadap masyarakat yang mendiami Pulau Komodo dinilai tidak beralasan, karena tindakan relokasi dinilai sebagai sesuatu kekeliruan besar.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) NTT, Umbu Wulang Tanaamahu Paranggi, mengatakan upaya pelestarian Komodo tidak perlu dilakukan dengan cara merelokasi penduduk yang hidup secara turun-temurun di Pulau Komodo, tetapi justru menjadikan mereka sebagai benteng terdepan dalam upaya pelestarian Komodo.

[Gambas:Video CNN] (ANTARA/agr)