Menyaksikan Dampak Pemanasan Global di Bunaken

CNN Indonesia | Sabtu, 10/08/2019 18:21 WIB
Menyaksikan Dampak Pemanasan Global di Bunaken Pulau Bunaken adalah tujuan wisata utama di Kota Manado. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)
Manado, CNN Indonesia -- Bagi yang mencintai pesona bawah laut lewat kegiatan snorkeling atau scuba diving, Taman Nasional Bunaken merupakan salah satu tempat yang masuk dalam daftar wajib untuk disambangi.

Ketika ada sedikit waktu senggang di Manado, saya tak bisa melawan rasa penasaran untuk melihat pesona yang tersimpan di Bunaken.

Namun berhubung waktu tidak cukup untuk mencoba scuba diving, karena saya harus melakukan perjalanan udara di hari yang sama, akhirnya snorkeling menjadi pilihan yang masuk akal.


Taman Laut Bunaken terkenal oleh formasi terumbu karangnya yang luas dan indah, sehingga sering dijadikan lokasi penyelaman oleh turis-turis mancanegara.

Pulau Bunaken adalah salah satu dari lima pulau yang tersebar beberapa kilometer dari pesisir pantai Kota Manado. Pulau ini merupakan bagian dari kota Manado.


Saya bertolak menuju salah satu spot snorkeling di pulau Bunaken dari pelabuhan di kota Manado sekitar pukul 08.00 WITA. Kebetulan kapal yang saya tumpangi tergolong kapal cepat, sehingga hanya perlu waktu 30 menit untuk sampai di Fukui.

Biaya untuk menuju Pulau Bunaken tergantung dari jenis kapal dan jumlah orang yang akan ke sana. Namun, untuk batas amannya siapkan Rp200 ribu per orang untuk snorkeling ke Pulau Bunaken.

Fukui diambil dari nama seorang penyelam Jepang yang 'menemukan' tempat ini bertahun-tahun yang lalu. Kedalaman di tempat ini bervariasi, mulai dari 3-20 meter.

Bagi para penyelam, tempat ini cukup menyenangkan karena di tempat ini bisa ditemukan lereng curam dan hewan-hewan yang mengagumkan.

Saat memulai kegiatan snorkeling, saya langsung mengarah ke kawasan yang cukup dangkal untuk menyaksikan terumbu karang.

Saya cukup terkejut ketika sampai di area terumbu karang, karena warnanya sudah putih bahkan sebagian sudah ada yang hancur entah karena apa.

Bunaken dan Dampak Pemanasan Global yang NyataTerumbu karang yang memutih di Fukui. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Pemandangan yang saya saksikan langsung membuat saya teringat sebuah adegan dalam film dokumenter berjudul 'Chasing Coral' garapan Netflix tahun 2017.

Seorang fotografer bawah air, Richard Vevers, yang penasaran dengan dampak pemanasan global, mengunjungi kawasan Airport Reef di Kepulauan Samoa, Amerika Serikat, dan apa yang ia temukan sangat mengejutkannya.

Sejauh matanya memandang, terumbu karang di sana berwarna putih. Dalam hatinya bertanya, "Apakah terumbu karang ini sudah mati?"

Ia lantas menanyakan hal ini kepada seorang ahli biologi yang fokus mempelajari terumbu karang, Prof. Ove Hoegh-Guldberg.

Berdasarkan hasil disertasinya, Guldberg menuturkan untuk membuat terumbu karang menjadi putih, perlu menaikkan suhu minimal dua derajat celcius. Ini artinya dampak pemanasan global juga sampai ke dalam lautan.

Sementara itu, ahli biologi terumbu karang Dr. Ruth Gates menjelaskan pemutihan terumbu karang adalah respon stres, layaknya demam pada manusia.

"Karang adalah binatang dengan banyak polip, dan polip adalah bagian dari binatang. Jika terjadi sedikit kenaikan suhu, terumbu karang akan mulai memutih. Pada fase ini kesehatan terumbu karang sudah terganggu," ujar Gates.

"Pada dasarnya hewan merasakan jika ada sesuatu dalam tubuhnya yang tidak melakukan apa yang kuharapkan. Ini sama halnya dengan tubuh kita ketika kemasukan bakteri, dan pemutihan adalah metode untuk menyingkirkan bakteri itu."

Gates lantas menjelaskan terumbu karang yang berwarna putih masih memiliki kemungkinan untuk hidup, sedangkan jika terumbu karang itu sudah diselimuti semacam bulu halus yang menimbulkan kesan kusam maka ia sudah mati.


Sekitar 30 menit snorkeling mengelilingi area terumbu karang yang memutih, saya tidak menemukan terumbu karang yang diselimuti bulu halus tanda kematian itu.

Nampaknya saya tidak betah terlalu lama melihat gerombolan ikan yang berenang tanpa arah seperti sedang kebingungan karena lumbung makanannya musnah. Saya memutuskan untuk berenang menuju kapal dan menyudahi pengamatan singkat saya di Fukui.

Barangkali sebagian orang akan terhibur hatinya ketika melihat gerombolan ikan yang berenang kesana kemari, namun tidak bagi saya.

Bunaken dan Dampak Pemanasan Global yang NyataSebuah kapal yang disewa untuk mengantar pengunjung menyelam di kawasan Taman Nasional Bunaken. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Memberi makanan mungkin membantu, namun apakah hal itu akan membuat ikan cukup mendapatkan asupan?

Jangankan manusia terkaya di dunia versi lembaga survei apapun, Nabi Sulaiman yang kisah kekayaannya diabadikan dalam kitab suci akhirnya menyerah saat ia mencoba menyajikan makanan untuk beberapa jenis ikan di lautan.

Usai menyaksikan fenomena tersebut, saya mencoba mengonfirmasinya ke Kepala Balai Taman Nasional Bunaken, Dr. Farianna Prabandari.

Ia menyebut Taman Nasional Bunaken sudah mulai mengatur zonasi pemanfaatan tata ruang, terkait lokasi yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan wisata dan konservasi.

"Kawasan Taman Nasional bisa dimanfaatkan bisa asalkan sesuai dengan zonasinya, salah satunya adalah membicarakan tentang tata batas," ujar Farianna, saat dihubungi CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

"Kami punya zona pemanfaatan darat dan laut, ada ruang publik dan ruang usaha untuk dikelola tapi bukan dimiliki."

Selain itu, ia menambahkan, pihak Taman Nasional beserta beberapa komunitas dan warga sudah mulai melakukan penanaman terumbu karang.

Semoga upaya penyelamatan yang telah dilakukan oleh berbagai pihak ini bisa terus berlangsung dan berumur panjang, karena layaknya reboisasi hutan, terumbu karang juga perlu waktu lama untuk tumbuh dan berkembang. 

Apa yang saya saksikan di Bunaken menjadi penguat keyakinan tentang dampak pemanasan global. Sialnya hal ini punya kaitan erat dengan salah satu kebiasaan buruk yang dianggap wajar oleh sebagian besar warga Indonesia, yaitu membakar sampah dan buang sampah sembarangan.

(agr/ard)