Studi: Nonton Video Porno Online Sebabkan Polusi Udara

CNN Indonesia | Sabtu, 31/08/2019 22:07 WIB
Studi: Nonton Video Porno Online Sebabkan Polusi Udara Penelitian menyebutkan bahwa nonton video porno dan video online lainnya bisa menyumbang polusi (Istockphoto/PashaIgnatov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Membebaskan dunia dan menyelamatkan bumi dari polusi ternyata tak cuma bisa dilakukan dengan melakukan penanaman pohon atau hidup minim plastik. Akan tetapi ada cara lain yang bisa dilakukan untuk membuat planet bebas polusi, yaitu dengan mengurangi menonton video online, termasuk porno secara daring.

Sulit? Bisa jadi. Tak dimungkiri menonton video online seperti Netflix dan aplikasi film streaming lainnya, -termasuk video porno- sudah jadi bagian hidup generasi masa kini.

Akan tetapi apa hubungannya antara video online dengan polusi?


Laporan yang dikutip dari Canada's National Observer mengungkapkan bahwa dua tahun terakhir konsumsi video daring kian melonjak. Hal ini menciptakan 300 juta ton emisi karbon (MtCO2) ke udara.


Jumlah ini sama dengan jumlah polusi yang dibuat oleh Spanyol atau sekitar satu persen dari emisi global.

Tahun 2018, video porno menjadi penyebab emisi karbon sebesar 27 persen yang menghasilkan lebih dari 80 MtCO2. Sementara emisi gas rumah kaca lainnya berasal dari video Netflix dan Amazon Prime sebesar 100 MtCO2. 

Penelitian yang dilakukan oleh The Shift Project, menyerukan pengguna untuk lebih bijaksana dalam mengonsumsi teknologi digital.

"Kita terkendala oleh krisis iklim di planet ini. Konten video pornografi memungkinkan membatasi bandwidth dan penggunaan Netflix membatasi akses ke Wikipedia," katanya dalam laporan tersebut.

Dengan begitu, diharapkan emisi karbon global dapat berkurang sebesar 20 persen di tahun 2030. 

Polusi udara disebabkan karena banyak halGas buangan kendaraan bermotor berbahan bakar minyak pun menjadi salah satu penyebab polusi udara. (CNN Indonesia/Febri Ardani)

Youtube, platform streaming film, dan video lainnya yang disebar di media sosial menyumbang emisi karbon sebesar 60 persen. Sedangkan FaceTime, Skype, dan streaming TV menyumbang 20 persen.

Menurut Cisco, 'lalu lintas' data saat ini meningkat lebih dari 25 persen per tahun. The Shift Project pun memperingatkan bahwa dalam lintasan tersebut, teknologi digital bis menyumbang emisi tujuh persen dari emisi global pada 2025. Jumlah ini sama dengan kontribusi emisi mobil saat ini.

Saat ini, The Shift Project mengembangkan Carbonalyser pada peramban Firefox. Hal ini berguna untuk memungkinkan para pengguna melihat berapa banyak listrik yang telah dikonsumsi serta gas rumah kaca yang mereka pancarkan saat menjelajahi internet.

Dikutip dari situs berita Jerman, Deutsche Welle, walaupun telah ada upaya untuk mengembangkannya melalui peramban, sejauh ini pemerintah dan lembaga internasional tidak melakukan upaya untuk membawa perubahan.

(chs)