Obesitas dan Diabetes Hantui 'Pengabdi Boba'

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 08/09/2019 17:17 WIB
Obesitas dan Diabetes Hantui 'Pengabdi Boba' Manfaat boba tak semanis rasanya. Foto: Istockphoto/Swanya Charoonwatana
Jakarta, CNN Indonesia -- Manis, kenyal, dan segar. Tiga keistimewaan yang membuat minuman boba digilai berbagai kalangan dan mampu menyabet predikat sebagai 'minuman kekinian'.

Awalnya, boba hanya menginvasi ranah teh susu yang populer dengan nama bubble tea. Tetapi kini, boba mulai merajai ranah kopi dan minuman-minuman manis kekinian lainnya. Bola-bola mini asal Taiwan ini pun semakin mudah ditemukan.

Akan tetapi, dibalik kesegarannya, minuman boba menyimpan kandungan kalori yang tinggi.



"Minuman boba itu mengandung kalori yang tinggi, bahkan setara makan nasi dengan lauk pauk, misal daging kemudian sayuran. Memang setara, tetapi nilai gizi rendah," kata Laurentius Aswin Pramono, dokter spesialis penyakit dalam di RS Atma Jaya, Pluit saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (5/9).

Kalori tinggi pada boba didominasi oleh karbohidrat. Padahal karbohidrat saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh. Tubuh juga memerlukan kandungan gizi lain seperti protein, vitamin, mineral juga serat.

Selain karbohidrat, minuman boba juga tinggi gula. Menurut penelitian, varian boba brown sugar mengandung 18,5 sendok teh gula. Padahal kebutuhan gula harian orang dewasa hanya 8-11 sendok teh, sedangkan anak-anak dan remaja 5 sendok teh. Itu sebabnya, risiko obesitas dan diabetes membayangi mereka yang keseringan konsumsi minuman boba.

Aswin menjelaskan kebutuhan kalori seseorang bisa dilihat dari tinggi dan berat badan. Dia memberikan contoh orang dengan kebutuhan kalori 1.900. Konsumsi minuman boba bisa memakan jatah kalori sebanyak 400-500, belum lagi jika ada tambahan gula atau tambahan topping sehingga kalori jadi lebih tinggi.

Artinya satu gelas minuman boba sudah mencukupi seperempat kebutuhan kalori harian. Bila dikombinasikan dengan makan besar sebanyak 3 kali dan juga kudapan lainnya, kalori yang masuk bisa mencapai 2.500 kalori per hari.

"Kalau kalori lebih besar daripada kebutuhan, orang bisa mengalami obesitas," imbuh dia.

Obesitas bisa diukur melalui perhitungan Indeks Masa Tubuh (BMI). Orang yang mengalami obesitas musti bersiap dengan meningkatnya risiko diabetes akibat resistensi insulin. Orang dengan obesitas juga memiliki kadar asam lemak bebas dalam darah yang tinggi. Akibatnya, sel-sel tidak bisa merespons insulin dengan baik. Di samping itu, kelebihan lemak yang disimpan di organ hati dan pankreas juga membuat kinerja insulin terganggu.

Aswin menambahkan, walau mekanisme obesitas dan diabetes tidak terjadi dalam tempo sehari atau dua hari, dan disebabkan oleh banyak faktor, namun minuman manis bisa menjadi pencetus.

"Selalu ada pencetus. Nah si boba ini salah satu faktor risiko atau pencetusnya," ungkapnya.


Gangguan pencernaan akibat 'kebanyakan' boba

Selain meningkatkan risiko obesitas dan diabetes, keseringan konsumsi minuman boba juga berdampak pada masalah pencernaan.

Beberapa bulan lalu tersiar kabar seorang gadis di Provinsi Zhejiang, China mengalami konstipasi atau sembelit. Setelah alami sembelit selama lima hari, dia pun memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter.

Dokter tidak mengetahui pasti penyebabnya. Hingga akhirnya dokter merekomendasikan untuk melakukan CT Scan demi mengetahui pasti penyebab sembelit. Namun hasilnya mengejutkan, sebab ratusan boba yang menggumpal di usus rupanya menjadi 'biang kerok' sembelit.

Menanggapi kasus tersebut, Aswin menuturkan keseringan minuman boba dalam jangka pendek bisa menimbulkan masalah pencernaan. Dia pun pernah menghadapi pasien dengan masalah yang nyaris sama.

"Anak muda, dia gemuk. Enggak makan yang lain tapi banyak minum minuman manis, berwarna, boba juga. Keluhannya gampang kembung, enggak nafsu makan," kata dia.

Agar tak alami masalah yang sama, Aswin menekankan untuk membatasi konsumsi minuman manis, termasuk minuman boba. Bila dikonsumsi sesekali boleh saja, namun perlu diimbangi dengan makanan berserat seperti sayur dan buah, sebab minuman boba memang mengenyangkan tetapi sama sekali tidak memiliki serat.

Rendah serat itulah yang membuat boba akhirnya bisa memicu sembelit seperti apa yang dialami wanita China. (els/ayk)