Jamaika Rangkul Nelayan Jadi 'Petani' Terumbu Karang

CNN Indonesia | Selasa, 17/09/2019 18:32 WIB
Jamaika Rangkul Nelayan Jadi 'Petani' Terumbu Karang Area White River Fish Sanctuary di Jamika. (AP Photo/David Goldman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejak dua tahun yang lalu, Everton Simpson (68) menjadi petani terumbu karang di Jamaika. Pria yang sebelumnya berprofesi sebagai instruktur selam dan nelayan ini memilih karier baru karena kekhawatirannya terhadap kerusakan lingkungan yang semakin parah.

Terumbu karang - yang sering disebut hutan hujan di dalam laut - di Jamaika sedang dalam kondisi memprihatinkan. Selain pemanasan global, kerusakan yang terjadi juga karena ulah manusia membuang sampah dan limbah ke lautan.

Hanya ada dua persen area terumbu karang di lautan dunia. Namun area mungil tersebut menjadi habitat paling nyaman bagi flora dan fauna bawah laut.



Sejak tahun 1990an, Jamaika kehilangan 85 persen area terumbu karangnya. Keberadaan ikan juga semakin jarang, sehingga banyak nelayan Jamaika yang kini berada di garis kemiskinan.

Banyak ilmuwan mengira sebagian besar terumbu karang di Jamaika telah diganti secara permanen oleh rimbunnya rumput laut, seperti semak-semak yang mengelilingi bangunan tua yang hancur.

Tetapi saat ini, terumbu karang dan ikan tropis perlahan-lahan muncul kembali, sebagian berkat serangkaian intervensi yang cermat.

Kerja keras petani terumbu karang merupakan salah satu kegiatan dalam rangkaian pemulihan terumbu.

Selain itu nelayan juga diminta menangkap ikan hanya di area tertentu, dan penduduk setempat dilarang membuang sampah dan limbah langsung ke lautan.

"Ketika Anda memberi kesempatan pada alam, ia dapat memperbaiki dirinya sendiri," kata Stuart Sandin, ahli biologi kelautan di Scripps Institution of Oceanography di La Jolla, California, seperti yang dikutip dari AP pada Selasa (17/9).

"Tidak ada kata terlambat."

Sandin sedang mempelajari kesehatan terumbu karang di seluruh dunia sebagai bagian dari proyek penelitian "100 Island Challenge."

Asumsi awalnya adalah bahwa pulau-pulau yang paling padat penduduknya akan memiliki alam yang paling terdegradasi, tetapi sebaliknya ia menemukan bahwa manusia dapat menjadi berkah atau kutukan, tergantung pada bagaimana mereka mengelola sumber daya alam.

Ketika populasi ikan di Jamaika mulai berkurang pada dua dekade lalu, sesuatu harus segera diubah.

Dalam 10 tahun terakhir, lebih dari selusin pembibitan karang dan suaka ikan yang dikelola oleh komunitas lokal telah bermunculan, didukung oleh hibah kecil dari yayasan, bisnis lokal seperti hotel dan klinik scuba, dan pemerintah Jamaika.

Di White River Fish Sanctuary, yang baru berusia sekitar dua tahun dan tempat Simpson bekerja, bukti paling jelas keberhasilan awal kembalinya ikan tropis yang menghuni karang - serta burung pelikan.

Solusinya adalah menciptakan kawasan lindung bagi ikan yang belum dewasa untuk mencapai usia reproduksi sebelum ditangkap.


Sebagian besar nelayan yang lebih mapan memiliki perahu menaati zona larangan menangkap ikan.

Beberapa nelayan muda berburu dengan tombak, berenang ke laut, dan menembak ikan dari jarak dekat. Orang-orang ini - beberapa dari mereka terbilang miskin - adalah yang paling mungkin masuk area tanpa izin.

Namun, setelah jelas bahwa zona larangan menangkap ikan benar-benar membantu populasi ikan pulih, maka menjadi lebih mudah untuk membangun dukungan.

Jumlah ikan di Oracabessa Bay Fish Sanctuary meningkat dua kali lipat antara 2011 dan 2017, menurut Badan Lingkungan dan Perencanaan Nasional Jamaika. Dan itu meningkatkan tangkapan di daerah sekitarnya.

Oracabessa adalah yang pertama dari upaya yang dipimpin oleh komunitas lokal untuk menghidupkan kembali terumbu karang Jamaika.

Area ini secara resmi didirikan pada tahun 2010, dan pendekatannya untuk mendaftarkan nelayan lokal sebagai petugas patroli agar dicontoh daerah lain.

Setelah tersiar kabar tentang Oracabessa, daerah lain mulai mengikuti jejak pelestarian alam yang sama.

"Para nelayan sebagian besar berada di atas kapal dan senang - itulah perbedaannya. Itulah sebabnya ini berhasil," kata manajer suaka Inilek Wilmot.

Belinda Morrow, seorang penggemar olahraga air yang mengelola White River Marine Association, mencatat bahwa, di Jamaika, "Kita semua bergantung pada lautan."

"Jika kita tidak memiliki terumbu karang yang sehat dan lingkungan laut yang sehat, kita akan kehilangan banyak hal," katanya.

"Terlalu banyak negara bergantung pada laut."


[Gambas:Video CNN]

(AP/ard)