Bahaya Kontaminasi Kabut Asap pada Makanan dan Minuman

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 22/09/2019 11:56 WIB
Bahaya Kontaminasi Kabut Asap pada Makanan dan Minuman Ilustrasi. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan mengandung sejumlah zat berbahaya yang dapat menempel pada makanan atau minuman. (Foto: ANTARA FOTO/Rahmad)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nestapa kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak kunjung reda dirasakan oleh warga yang tinggal di Riau, Jambi, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Selatan. Jangankan untuk bernapas lega, melihat kejauhan pun sulit akibat pandangan yang tertutup asap.

Namun, kabut asap tak sekadar mengganggu penglihatan atau penciuman. Lebih dari itu, kabut asap kini membuat banyak warga terserang sejumlah penyakit seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kabut asap yang mengontaminasi air hingga bahan pangan juga dinilai berbahaya, sebab kabut asap mengandung toksik yang dapat mempengaruhi kesehatan tubuh.

Kabut asap mengandung zat berbahaya berupa karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), ozon permukaan (O3), dan partikel debu (PM10). Selain itu, kabut asap juga mengandung formaldehid, akrelein, dan benzen.



Semua zat-zat yang terkandung dalam kabut asap itu dapat membahayakan kesehatan karena dapat merusak organ tubuh secara langsung. Organ tubuh yang berada dalam saluran cerna seperti tenggorokan, lambung, dan usus dapat meradang sehingga memicu munculnya sejumlah penyakit.

Dikutip dari Daily Monitor, penelitian menunjukkan binatang yang mengonsumsi makanan dan air yang tercemar polusi udara berisiko mengalami infeksi pada organ.

Secara normal, tubuh memiliki mekanisme untuk menyaring zat yang tidak diperlukan dan mengeluarkan racun yang masuk ke dalam tubuh, termasuk paparan polusi udara yang menempel di makanan dan minuman.

Namun, jika tubuh terus-terusan bekerja keras menyaring racun dalam waktu yang lama, maka dapat merusak kinerja organ. Organ yang berhubungan langsung dengan penyaringan racun ini di antaranya adalah hati, ginjal, paru-paru, dan kulit.

Kondisi ini bakal lebih rentan terjadi pada bayi dan anak-anak, lanjut usia, orang yang sakit, dan memiliki sistem imun yang rendah.

Kabut asap juga berdampak pada kualitas tanaman penghasil makanan. Dikutip dari eHow, sulfur dioksida dan nitrogen dioksida dapat merusak tanaman dengan cara menghancurkan membran sel, menghambat fotosintesis, dan respirasi. Sementara itu, ozon juga dapat menutup stomata pada tanaman, mencegah respirasi, dan memperlambat foto sintesis.

Alhasil, pertumbuhan daun dan buah terhambat. Sulfur dioksida juga membuat warna daun dan buah menjadi lebih pucat. Padahal, di dalam warna hijau sayuran terkandung banyak manfaat dan antioksidan yang baik untuk tubuh.

Agar dampak buruk dari makanan dan minuman yang terpapar kabut asap dan polusi udara ini, Kementerian Kesehatan menyarankan untuk melakukan beberapa tindakan pencegahan.


Pertama, sayuran dan buah-buahan harus dicuci terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Kedua, makanan dan minuman perlu dimasak dengan baik. Ketiga, simpan makanan dan minuman dalam tempat tertutup agar bebas dari polusi udara. Keempat, tempat penampungan air juga harus tertutup rapat.

[Gambas:Video CNN] (ptj/ayk)