Asal-usul dan Varian Donat dari Berbagai Belahan Dunia

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 08/10/2019 07:00 WIB
Asal-usul dan Varian Donat dari Berbagai Belahan Dunia Ilustrasi donat. (Foto: Daria / epicantus)
Jakarta, CNN Indonesia -- Siapa yang tak tahu donatRoti manis berbentuk bulat dengan lubang di tengahnya ini merupakan makanan yang disukai banyak orang. Popularitasnya terlihat jelas melalui gerai donat yang dapat ditemukan di setiap mal, stasiun, maupun sudut-sudut jalan di seluruh penjuru negeri.

Berdasarkan Smithsonian Magazine, legenda di awal abad 19 mengungkapkan penemuan donat pertama kali. Pedagang asal Amerika Hanson Gregory mengklaim sebagai pencetus donat berbentuk cincin pada 1847.

Ia mengaku memakan 'roti goreng' selama melaut dan tidak senang dengan bagian tengahnya yang tidak matang. Kemudian dia membuang dan melubangi bagian tengah adonan. Sejak saat itu donat identik dibuat dengan lubang di tengahnya.



Padahal menurut Ketua Departemen Antropologi Universitas Indiana-Universitas Purdue Indianapolis sekaligus dan penulis Glazed America: A History of the Donut Paul R. Mullins, sebenarnya tak satu pun dari buku masak hingga akhir abad ke-19 yang menyebut bahwa memasak donat harus membuat lubang di tengahnya.

Tapi orang-orang mengakui bahwa hal itu adalah ide yang bagus dan logis. Ini berkenaan dengan teknik dan hasil menggoreng donat. Apabila tidak dilubangi di tengahnya, donat akan lebih sulit matang merata. Bagian luar kue akan matang lebih cepat dibandingkan bagian tengah. Dengan menghilangkan tengah donat ini menghindari bagian yang masih mentah.

Donat terus diproduksi secara manual hingga masa Perang Dunia I. 'Donut Girls' dari Salvation Army menyediakan konsumsi berupa donat untuk para prajurit perang.

Kemudian pasca-Perang Dunia I, banyak orang Amerika menghendaki donat sebagai menu sarapan. Hal itu dimanfaatkan seorang imigran Yahudi bernama Adolph Levitt sebagai peluang bisnis. Untuk memenuhi besarnya permintaan terhadap donat, diciptakanlah mesin pembuat donat pertama yang mampu menghasilkan donat dengan kecepatan yang jauh lebih besar daripada buatan tangan pada 1920.

Levitt berhasil menciptakan mesin penghasil 80 donat per jam dan semua bentuknya identik. Orang-orang akan berbondong-bondong melihat donat mereka dibuat sendiri dan memakannya langsung dari mesin. Seiring waktu, mesin terus dikembangkan untuk menghasilkan kue lebih banyak dan cepat.

Asal-usul dan Varian Donat dari Berbagai Belahan di Dunia Mesin pembuat donat pertama kali ditemukan oleh Adolph Levitt pada 1920. Mesin itu dapat menghasilkan 80 donat per jam dengan bentuk yang sama, lebih cepat dan konsisten daripada pembuatan manual (Foto: Dok. Dunkin Donuts)

Selama masa itu, donat cukup murah sehingga bisa dinikmati oleh banyak orang sebagai pilihan menu sarapan yang enak, ringan, dan praktis. Inilah alasannya sampai saat ini, hampir dua abad pasar donat sangat stabil dan tak pernah mati.

Secara umum, meski bentuknya berbeda-beda namun pembuatan donat di seluruh dunia dilakukan serupa yakni dengan cara digoreng. Persiapannya dan hasil akhirnya pun berbeda-beda tergantung daerahnya. Berikut varian donat dari berbagai belahan di dunia.

1. Bomboloni - Italia
[Gambas:Instagram]
Bomboloni adalah donat isi ala Italia yang dimakan sebagai makanan ringan dan makanan penutup. Penamaan roti ini secara etimologis terkait dengan bombe yang berarti bom. Kemungkinan dinamai seperti itu karena kemiripan dengan granat atau bom kuno. Sementara, untuk saat ini relevan dengan 'bom kalori' karena kepadatan kalori dan gula yang tinggi.

2. Berliner Pfannkuchen - Jerman
[Gambas:Instagram]
Berliner Pfannkuchen adalah roti tradisional Jerman yang mirip dengan donat namun tanpa lubang tengah, dan seringkali di dalamnya diisi selai buah-buahan, cokelat, moka, mustard, atau tanpa isi. Kemudian di atasnya ditaburi icing, gula bubuk atau gula pasir.

Berliner kini dapat dimakan kapan saja. Dulu Berliner secara tradisional disantap khusus untuk merayakan pada Malam Tahun Baru (Silvester) serta liburan karnaval (Rosenmontag dan Fat Tuesday). Namun hati-hati ketika makan donat ini di Jerman. Sebab mereka punya lelucon jahil yang diam-diam mengganti isi donat dengan mustard bukannya selai.

3. Pączki - Polandia
[Gambas:Instagram]
Bentuk donat Pączki agak lain karena lebih pipih dan memiliki isian manis seperti stroberi, krim bavaria, blueberry, custard, raspberry, dan apel. Pączki juga memiliki isian tradisional yakni powidła (selai plum rebus) dan selai kelopak mawar liar.

Luar Pączki biasanya ditaburi bubuk gula, lapisan gula, glasir, atau parutan kulit jeruk. Selain itu, yang membuat khas adalah dalam adonan Pączki ditambah sedikit alkohol. Tujuannya agar mencegah banyaknya minyak yang terserap ke dalam adonan ketika digoreng. Menurut sejarahnya, Pączki telah dikenal di Polandia sejak Abad Pertengahan di bawah masa pemerintahan Agustus III.

4. Beignet - Prancis
[Gambas:Instagram]
Beignet awalnya diciptakan sebagai hidangan penutup di Prancis. Di atasnya ditaburi gula, sehingga ketika dimakan Beignet akan langsung meleleh di mulut. Tidak seperti kebanyakan donat lainnya, Beignet berbentuk bujur sangkar. Secara tradisional, donat bujur sangkar ini dinikmati dengan café au lait atau kopi susu.

5. Youtiao - China
[Gambas:Instagram]
Di China, Youtiao merupakan street food yang populer. Kadang-kadang Youtiao disajikan saat sarapan bersama dengan bubur atau dimakan begitu saja dengan susu. Bentuknya lonjong dengan rasa yang tak terlalu manis dan cenderung sedikit asin.

Youtiao merupakan salah satu jenis donat yang serbaguna karena dapat menjadi tambahan dalam makanan lain atau diberi isian seperti sandwich. Serupa dengan penyajiannya, Youtiao juga dijual di Indonesia dan disebut sebagai Cakwe yang dicocol dengan saus sambal.


6. Oliebollen - Belanda
[Gambas:Instagram]
Ketika menggoreng Oliebollen, ia dicetak dengan menggunakan sendok es krim atau dua sendok makan. Dengan cara itu, Oliebollen akan membentuk bola-bola. Secara tradisional Oliebollen dimakan pada Malam Tahun Baru dan saat musim dingin.

7. Tulumba - Turki
[Gambas:Instagram]
Tulumba dulu dikenal sebagai makanan penutup dalam masakan Ottoman maupun bekas Kekaisaran Ottoman. Tulumba adalah 'roti goreng mini' yang hanya berukuran sekitar 3 cm berbentuk bulat telur. Tulumba digoreng hingga keemasan dan renyah bagian luarnya. Setelah matang, Tulumba direndam dalam sirup yang manis nan harum. Sirup manis itu dapat dibuat dengan bunga atau bahkan buah. Tulumba dimakan ketika dingin.

8. Koeksister - Afrika Selatan
[Gambas:Instagram]
Ada dua macam koeksister yang berbeda, yakni versi donat empuk pedas yang dilapisi kelapa dan versi kering yang manis dan renyah. Untuk versi manis, Koeksister terlihat lengket di luar karena dicelupkan ke dalam sirup dingin seperti madu.

9. Sufganiyah - Israel
[Gambas:Instagram]
Sufganiyah merupakan makanan tradisional yang disajikan selama Hanukkah, The Festival of Lights. Sufganiyah adalah donat versi Israel dan memiliki berbagai isian krim dan jeli. Isiannya apa saja, termasuk krim cappuccino, cokelat, custard, dan jeli atau selai. Khusus Sufganiyah berisi jeli atau selai akan disajikan selama hari raya umat Yahudi pada Oktober itu.

10. Churro - Meksiko
[Gambas:Instagram]
Churro kini dapat ditemukan di mana saja. Di Spanyol Churro merupakan menu sarapan, sedangkan di Meksiko semua orang bisa memakannya kapan pun di sepanjang hari. Churro Meksiko adalah kombinasi sempurna dari adonan goreng serta gula dan kayu manis. Di daerah asalnya, Churro dimakan dengan mencelupkannya dalam cokelat cair.

Sementara di Kuba, Churro biasanya diisi dengan jambu biji. Di negara lain Churro divariasikan dengan isian dulce de leche, sehingga setiap gigitan churro, mulut bakal dipenuhi dengan lumeran lezat kayu manis.

11. Chapssal - Korea
[Gambas:Instagram]
Donat Korea ini agak berbeda karena terbuat dari tepung beras ketan. Chapssal memiliki rasa yang manis dan biasanya berisi pasta kacang merah manis dan luarnya dilapisi dengan campuran gula dan bubuk kayu manis. Adonan tepung ketan menciptakan tekstur luar yang renyah namun kenyal di dalam. Selain dijual di pasar tradisional, Chapssal juga banyak dijajakan di toko roti atau kedai waralaba seperti Dunkin' Donuts Korea dan Paris Baguette.

12. Dango - Jepang
[Gambas:Instagram]
Bahan dasar untuk membuat Dango sama dengan yang digunakan untuk membuat mochi, yakni mochiko (tepung beras). Orang Jepang biasanya menyajikan Dango bersama dengan teh hijau. Dango bisa dimakan kapan saja, tetapi ada jenis Dango khusus yang dimakan pada musim tertentu. Karena berbentuk bulat kecil, biasanya tiga hingga lima dango disatukan dengan tusuk sate.

13. Khanom khai hong - Thailand
[Gambas:Instagram]
Khanom khai hong menjadi jajanan dan makanan penutup khas Thailand yang terbuat dari tepung diisi dengan kacang hijau bumbu. Sebelum digoreng, donat Thailand ini dilapisi dengan icing atau biji wijen putih. Rasanya manis, asin, renyah di luar dan lembut di dalamnya.

14. Roti goreng atau roti bantal - Indonesia
[Gambas:Instagram]
Banyak sebutan untuk donat versi Indonesia ini. Di Jawa Timur biasa disebut roti goreng; bolang-baling atau galundheng adalah sebutan untuk di Jawa Tengah; di Jawa Barat disebut odading atau kue bantal karena bentuknya menyerupai bantal mini mirip dengan Beignet Prancis. Sementara di Jakarta, selain menawarkan varian original atau tanpa isi, roti bantal biasanya diberi isian seperti cokelat meses atau kacang hijau.

(fef/fef)


BACA JUGA