Percobaan: Menjalani Dua Hari Tanpa Ponsel Pintar

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 29/09/2019 16:18 WIB
ilustrasi (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hidup kita 'dibajak' oleh si ponsel pintar. Katanya, semua ada di dalam genggaman tangan. Meski terasa tak masuk akal, jargon singkat itu benar adanya. Lewat perangkat kecil yang ada di dalam genggaman, segala hal jadi lebih mudah. Ponsel pintar menjadi segala-galanya bagi orang-orang di zaman kiwari.

Kapan pun dan di mana pun, ada ponsel pintar yang siap membantu. Mengatasi rasa bosan, menemani beragam aktivitas, dan mempermudah mobilitas sehari-hari, semua dapat dilakukan oleh si mungil yang canggih itu. Sebentar saja ponsel pintar itu mati, kehidupan seolah 'lumpuh' dalam beberapa waktu.

Dari layar ponsel itu juga, terkadang muncul rasa gelisah. Notifikasi dari grup kantor di WhatsApp dan surat elektronik kerap bikin waswas. Rasa gelisah juga muncul saat mengetahui kabar tak menyenangkan di tengah kegiatan scrolling tak henti-henti pada feed Instagram, Twitter, dan portal-portal berita.

Bagi saya, keberadaan ponsel pintar juga terkadang membuat hal-hal yang ada di sekitar luput dari amatan mata. Sulit pula rasanya untuk mengingat berbagai hal secara merinci. Meski secara fisik saya berada di dalam sebuah ruang atau situasi sosial, tapi ponsel pintar membuat saya tak sepenuhnya ada di sana. Pikiran saya justru mengawang bebas pada kesibukan dalam layar.

Tapi, apa mau dikata? Telan saja rasa gelisah itu. Toh, faktanya saya tak bisa hidup tanpa ponsel pintar. Beberapa orang bahkan merasa hampa saat perangkat kecil itu tak ada dalam genggaman.

Nomofobia, katanya. Istilah ini merujuk pada rasa cemas yang muncul saat seseorang berada jauh dari ponsel pintar. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Computers in Human Behaviour menyebut bahwa nomofobia adalah gangguan nyata di zaman sekarang. Semakin kita sering menggunakan ponsel pintar, semakin kita bergantung padanya.

Istilah 'nomofobia'-yang baru saya ketahui-membuat saya tergelitik. Rasa penasaran pun muncul. Bisakah kita hidup tanpa ponsel pintar di zaman kiwari?

Saya mencoba untuk menjauhkan diri dari ponsel pintar selama dua hari di waktu libur. Tak ada gim. Tak ada berita-berita terbaru. Tak ada scrolling, stalking, dan gosip di media sosial. Tak ada kebebasan mendengarkan musik apa saja. Tak ada pula notifikasi WhatsApp atau surel yang kerap bikin waswas. Saya 'menghilang' untuk sementara waktu.

Sebagai pengganti, saya menggunakan ponsel lama Samsung 109E yang tak terpakai di rumah. Ponsel itu hanya memungkinkan saya untuk menelpon dan mengirimkan pesan singkat berupa SMS.

Rentang waktu dua hari itu dipilih karena, ehm, saya kurang berani untuk mematikan ponsel selama sepekan. Apa kabar rutinitas pekerjaan saya kelak? Ya, rasa takut itu bahkan telah muncul sebelum saya mencobanya.

Hasilnya, tak buruk-buruk amat. Meski rasa cemas itu tak bisa ditolak, tapi ada sesuatu yang baru dalam hari-hari saya.

Hari ke-1
Ponsel itu tergeletak di samping kasur. Spontan saja, tangan bergerak untuk meraihnya sesaat setelah bangun tidur. Tapi layar tak kunjung menyala saat saya mencoba menekan tombol kunci. Oalah, saya lupa telah mematikan ponsel sejak malam sebelumnya.

Begitu bergantungnya saya pada ponsel. Mengecek ponsel menjadi 'ritual' pada hampir setiap pagi. Tapi, keinginan itu harus dihalau.

Saya beranjak bangun, merapikan tempat tidur, membuat kopi, membaca koran, dan membereskan kamar untuk menghabiskan pagi.

Percobaan: Menjalani Dua Hari Tanpa Ponsel PintarFoto: CNN Indonesia/Hesti Rika


Hampa rasanya beraktivitas tanpa musik yang mengalun. Karena ponsel yang biasanya digunakan untuk memutar lagu sedang mati tak berdaya, saya memilih salah satu koleksi CD untuk diputar menemani aktivitas. Album agak lawas Kroncong Tenggara milik Ubiet Raseuki pun saya pilih.

Ada sedikit rasa bete yang menghampiri. Koleksi CD yang terbatas membuat beberapa lagu-yang sedang mencuri perhatian saya selama beberapa waktu ke belakang-dalam playlist di akun pribadi layanan musik streaming tak bisa didengar. Ah, rasanya jadi sedikit kurang nikmat.

Rasa bingung kemudian muncul saat kamar telah rapi sepenuhnya. Sembari berleyeh-leyeh di atas kasur, saya berpikir: apa lagi yang harus dilakukan selanjutnya? Sambil melirik ponsel yang tergeletak, dalam hati saya bergumam, saya rindu kamu.

Saya memutuskan untuk membantu ibu memasak dan mengajaknya berbincang-bincang santai. Saya bercerita tentang kegiatan sehari-hari di Jakarta. Mulai dari pekerjaan hingga hal-hal persoal lainnya. Ibu juga bercerita soal keinginannya mensterilkan salah satu kucing peliharaan kami, Piyo. Ibu merasa kasihan melihat Piyo yang hanya bisa mengeong-ngeong kencang saat siklus birahi muncul karena kelainan saraf yang dialaminya.

Sekilas, momen singkat ini terasa biasa saja. Hal lumrah yang dilakukan antara anak dengan orangtua. Tapi, percaya lah, ada rasa tenang yang muncul saat melakukan interaksi intim dengan orang-orang terdekat tanpa terganggu dering ponsel yang tiba-tiba menyala.

Waktu selanjutnya saya habiskan dengan pergi berbelanja ke Pasar Baru. Saya ingin membeli sejumlah kain dan benang untuk memuaskan hobi. Tak ada ojek daring. Saya pergi menggunakan angkutan kota yang bisa didapat setelah berjalan kaki melalui medan jalan yang menurun dan menanjak sepanjang 650 meter. Keringat bercucuran, lelah juga rasanya.

Di momen itu, saya baru menyadari bahwa betapa dimanjakannya saya selama beberapa tahun belakang dengan layanan transportasi daring. Tanpa keringat yang bercucuran dan kaki yang pegal, saya bisa tiba di tujuan dalam waktu singkat.

Banyak hal yang saya lihat dalam perjalanan di dalam angkot. Mulai dari bocah cilik yang merengek pada ibunya meminta dibelikan jajan, sopir angkot yang berkali-kali membasuh keringatnya, empat mural bertuliskan 'BUAT KAMU' yang menempel di dinding-dinding jalan, hingga lalat yang bertengger cukup lama di jendela angkot.

Ya, menjauhkan diri dengan ponsel yang biasanya hadir membuat perhatian saya lebih awas melihat banyak hal. Sementara biasanya, perhatian hanya fokus pada irama lagu-lagu favorit dari ponsel yang mengalun di telinga.

Saya mengamati pedagang kain di Pasar Baru yang sibuk melayani pelanggan. Saya bahkan ingat motif bunga serupa mawar yang menghiasi kemeja putihnya. Sambil terburu-buru dan melayani pertanyaan pelanggan lain, dia memasukkan kain yang saya beli ke dalam kantung keresek hitam. Tak lupa pula, gumaman sopir angkot yang mengeluh karena durasi pergantian lampu lalu lintas yang terlalu singkat. Mulutnya menggerutu seraya mengembuskan asap rokok filter dari mulutnya. Saya bisa mengingatnya secara merinci.

Tentu saja, amatan yang merinci ini bukan disebabkan oleh tidak adanya ponsel dalam genggaman saya. Melainkan karena saya lebih hadir di tengah-tengah situasi yang tengah dihadapi. Kehadiran membuat saya merasa lebih hidup.

Sebut saja bahwa saya seorang melankolis. Pengalaman ini mendadak mengingatkan saya pada perjalanan Jack Kerouac mengitari Amerika Serikat bermodal buku catatan harian di tangan. Dengan selalu hadir di tengah situasi yang dihadapi, dia merekam apa saja yang dilihatnya dalam benak yang kemudian ditorehkannya dalam buku catatan harian.

Jelang waktu tidur, rasa bingung kembali muncul. Maklum, ponsel pintar biasanya selalu ampuh 'menina-bobokan' saya. Kebingungan itu muncul beriringan dengan rasa kosong dari balik tangan kanan saya. Ah, tak sedikit pun ponsel itu digenggam. Ia masih tergeletak menikmati waktu istirahatnya.

Tak hanya itu, rasa cemas juga pelan-pelan muncul. Tak ada kabar apa pun dan dari siapa pun hari ini.

Saya bertanya-tanya, apakah ada seseorang yang mencari saya hari ini melalui WhatsApp? Jika iya, apa yang diperlukannya? Seberapa pentingkah itu? Bagaimana jika saya tak kunjung menjawab pesannya? Apakah dia akan marah? Di penghujung hari, rasa cemas mulai menghampiri.


Dua Hari Tanpa Ponsel Pintar

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2