Astana, Kota dengan Bangunan Paling Aneh di Dunia

CNN Indonesia | Rabu, 02/10/2019 16:13 WIB
Astana, Kota dengan Bangunan Paling Aneh di Dunia Concert Hall di Astana, Kazakhstan. (iStock/Rafael_Wiedenmeier)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada kesan magis saat mengunjungi ibu kota Kazakhstan, Astana. Kota seluas 1.200 kilometer ini berkembang di atas padang rumput terluas di dunia.

Di tengah rimbunnya pepohonan, Astana berkembang sebagai kota dengan bangunan berarsitektur futuristik. Salah satunya ialah Khan Shatyr, bangunan mall berbentuk tenda yang dirancang oleh Norman Foster.

Foster juga menjadi arsitektur Istana Perdamaian, bangunan piramida kaca setinggi 60 meter.



Ada juga Central Concert Hall yang bangunannya mirip bunga yang sedang merekah, kantor presiden yang mirip Gedung Putih, sampai menara lolipop setinggi 100 meter Baiterek.

Bangunan-bangunan berbentuk ajaib itu baru ada sekitar 15 tahun yang lalu.

Pada tahun 1997, Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev memindahkan ibu kota dari Almaty ke Astana - kota yang sebelumnya bernama Akmola.

Astana pada awalnya berupa padang rumput hijau yang datar dan luas. Hanya Sungai Ishim yang melintas di tengahnya. Kawasan ini tadinya merupakan penjara Soviet.

Saat ini Astana dikenal sebagai kota fiksi ilmiah karena keberadaan bangunan-bangunan ajaib itu. Turis mancanegara, terutama yang menggemari arsitektur, semakin banyak berdatangan ke sini. Terutama juga setelah Kazakhstan membuka keran bebas visa ke beberapa negara, salah satunya Indonesia.

Neil Billett, direktur pelaksana dan mitra di Buro Happold, konsultan teknik yang bermitra dengan perusahaan Foster di Khan Shatyr dan Istana Perdamaian, memuji pemikiran progresif para arsitek lokal di Kazakhstan.

Menara Baitrek. (iStock/huseyintuncer)

"Mereka benar-benar menyukai tantangan dan mereka selalu melakukan hal baru yang menarik," katanya seperti yang dikutip dari CNN Travel pada Rabu (2/10).

"Proyek-proyek seperti ini tentu dirasa berat bagi kontraktor kelas atas, dan di Kazakhstan, mereka harus mengatasi masalah yang sama dalam iklim yang jauh lebih sulit."

Iklim di Astana membuat proses pembangunan jauh lebih rumit. Di musim dingin suhu bisa turun hingga minus 40 derajat Celcius, menjadikannya ibu kota terdingin kedua di dunia.

Di musim panas, terik matahari dapat mencapai 30 derajat Celcius.

Menurut George Keliris, seorang insinyur struktural di Buro Happold, varian suhu ini terbukti sangat menantang ketika membangun Istana Damai.

"Kami harus membangun sistem dapat yang menghilangkan tekanan atas suhu dan membiarkan struktur bangunan bisa bernapas," katanya.

Solusi yang mereka buat adalah dengan mengunci salah satu sudut piramida, sambil menempatkan sudut yang tersisa dengan bantalan jembatan.

Meskipun biasa digunakan dalam pembuatan jembatan, bantalan semacam ini tidak pernah dibangun untuk sebuah bangunan.

"Pada dasarnya, bangunan ini memakai sepatu roda," kata Keliris.

"Karena iklim, (struktur) pasti lebih futuristik."


Dari kejauhan, arsitektur Astana terlihat tidak umum, namun tema Kazakh sebenarnya meliputi setiap bangunan yang ada.

Baiterek dibangun dengan tema legenda lokal 'Pohon Kehidupan' yang memiliki telur emas di puncaknya.

Central Concert Hall sengaja dibuat menyerupai instrumen tradisional Kazakh yang dikenal sebagai dombra.

Sejak menjadi ibu kota negara, populasi di Astana meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 750 ribu jiwa.

Meskipun kota ini semakin berkembang, bangunan besar baru ada beberapa dibandingkan gedung atau rumah yang berukuran lebih kecil. Pemandangan sepi sudah pasti terlihat.

Central Concert Hall adalah salah satu gedung konser terbesar di dunia dan menampung 3.500 penonton. Sementara Astana Arena menampung 30 ribu orang.

Namun, menurut Serik Rustambekov, seorang arsitek lokal, jangkauan proyek-proyek ini sesuai dengan cara berpikir lokal.

"Anda harus memahami latar belakang Kazakh untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang pandangan dunia kami. Kami adalah peradaban nomaden yang berkembang selama ribuan tahun di bentangan luas Eurasia. Ruang bebas lebih mengesankan bagi pola pikir Kazakh daripada kemacetan dan keramaian yang ditemukan di banyak pusat Eropa."

Pemandangan megah Astana di malam hari. (iStock/huseyintuncer)

Banyak arsitek yang memberi andil dalam membentuk nuansa sebuah ibu kota baru, tetapi satu-satunya orang yang memiliki dampak terbesar dalam transformasi Astana adalah Presiden Nazarbayev.

Manfredi Nicoletti, yang perusahaannya yang berbasis di Roma, Studio Nicoletti, dan merancang Central Concert Hall, menegaskan bahwa Nazarbayev sangat terlibat dalam implementasi struktur bangunan tersebut.

"Dia sering bercanda bahwa bangunan itu tepat di depan kediamannya (Istana Presiden), sehingga kami dan bangunan itu akan selalu di bawah kendalinya."

Dalam banyak hal, Astana terlihat seperti proyek "hobi" Nazarbayev. Di puncak Baiterek, yang dibangun dari sketsa Nazarbayev, pengunjung dapat menyentuh sidik jarinya yang berlapis emas.

Dan setiap tahun perayaan ulang tahun Astana bertepatan dengan ulang tahunnya.

Namun, para pendukung Nazarbayev berpendapat bahwa Astana bukan simbol egonya, melainkan ambisinya untuk bangsa Kazakhstan.

Salah satu pendukung Nazarbayev yang paling kuat adalah Jonathan Aitken, seorang mantan politisi Inggris, yang menulis biografi berdasarkan wawancara pribadi 23 jam dan retrospeksi negara.

"Meskipun saya yakin (Nazarbayev) memang memiliki ego yang besar, itu lebih dari ego untuk mencintai negara," kata Aitken.

Aitken menyamakan Nazarbeyev dengan jenis pemimpin yang mendominasi Eropa abad ke-18, khususnya, Louis XIV.

"Sama seperti Versailles dan bagian-bagian Paris semuanya diciptakan oleh visi satu orang, demikian pula Astana," katanya.

Desain futuristik kota ini menunjukkan ambisi dan keinginan Kazakhstan untuk menjauhkan diri dari warisan Soviet yang telah merusak banyak negara Asia Tengah di sekitarnya.

"Arsitektur selalu mewakili perkembangan negara, teknologi dan budaya," catat Rustambekov.

"Karena Astana memposisikan dirinya sebagai pusat Eurasia, tempat di mana Timur bertemu Barat, campuran gaya sangatlah tepat."

(ard/ard)