HARI SUMPAH PEMUDA

Sociopreneur, Wujud Sumpah Pemuda ala 'Kekinian'

Tim, CNN Indonesia | Senin, 28/10/2019 13:08 WIB
Sociopreneur, Wujud Sumpah Pemuda ala 'Kekinian' Ilustrasi. (Foto: Istockphoto/Delmaine Donson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bila pemuda 'tempo doeloe' bergerak untuk memerdekakan bangsa dengan melawan penjajah, sejumlah pemuda di masa kini berjuang dengan cara lain. Sala satunya bergerak agar masyarakat sekitarnya mendapatkan kehidupan yang lebih layak melalui wirausaha sosial atau sociopreneur.

Mengutip Center for Entrepreneurship Development and Studies Universitas Indonesia, sociopreneur adalah padanan antara sosial dan entrepreneur dan merujuk pada pelaku bisnis yang tak hanya berpusat pada profit, tapi juga melakukan perubahan positif di lingkungannya.

Dalam menjalankan bisnisnya, seorang sociopreneur memiliki misi sosial atau misi lingkungan dan menggelontorkan kembali keuntungan usahanya untuk pengembangan misi-misi tersebut.

Keberhasilan seorang sociopreneur bukan tergantung pada pundi-pundiyang melimpah, melainkan seberapa besar bisnis tersebut bisa dirasakan oleh masyarakat yang menjadi target perubahan sosial.


Kini, Indonesia memiliki sejumlah sociopreneur, sebagai salah satu bentuk 'sumpah pemuda' yang kekinian.


"Kita semua harus keluar dari makna sempit kebangsaan yang kerap dikaitkan dengan peran dalam negara. Kebangsaan juga bisa bermakna terus sadar dan beraksi. Karena jika kita cinta dan merasa memiliki bangsa ini, maka kita harus tetap sadar dan mampu berpikir kritis. Sehingga aksi-aksi yang dilakukan adalah untuk kepentingan kelompok-kelompok yang memang paling membutuhkan," papar Tety Sianipar, pendiri Kerjabilitas, saat dihubungi CNNIndonsia.com

Organisasi yang didirikan Tety membantu kaum difabel dalam mencari pekerjaan. Digagas pertama kali tahun 2014, Tety mendirikan Kerjabilitas.com dengan Rubby Emir yang kini menjadi CEO perusahaan.

Kerjabilitas lahir karena masih rendahnya akses bagi difabel untuk mencari pekerjaan, terutama di sektor formal. Sementara itu, Tety melihat bahwa banyak lulusan SLB yang membutuhkan pekerjaan demi memenuhi kebutuhan hidup. Sedangkan portal pencarian kerja yang ada saat ini tidak layak bagi difabel.

"Kami melihat bahwa sudah banyak inisiatif-inisiatif dengan teknologi, maka seharusnya teknologi juga dapat menjadi alat yang menghadirkan solusi mencari pekerjaan untuk disabilitas," lanjut Tety.

Dengan berbasis teknologi, Tety mengupayakan agar platform tersebut dapat digunakan oleh semua difabel, termasuk bagi tunanetra. Pengguna dimudahkan untuk mencari lowongan dan mengunggah CV ke platform secara mandiri.

Salah satu yang merasakan manfaat Kerjabilitas ialah Andhika Prima Yutha yang kini bekerja sebagai barista tunadaksa di Sunyi House of Coffee and Hope. Andhika hanya satu dari beberapa difabel yang menekuni kopi.

Sociopreneur, Wujud 'Sumpah Pemuda' yang KekinianAndhika Prima Yutha, barista Sunyi House of Coffee and Hope membuktikan bahwa keterbatasan fisik tak halangi kecintaannya untuk meracik kopi. (Foto: CNN Indonesia/ Elise Dwi Ratnasari)
Laki-laki asal Padang, Sumatera Barat ini awalnya kesulitan memperoleh pekerjaan di kampung halamannya. Lepas SMA pada 2011, dia hanya bekerja sebagai pengantar anak sekolah dan pramuniaga toko pestisida. Kemudian kesempatan justru datang saat dirinya menemani sang adik berlibur di Jakarta.

"Februari masukin lamaran ke Kerjabilitas, lalu akhir bulan interview. Pertengahan Maret mulai pelatihan di daerah Pondok Indah. Waktu itu kedai belum ada," ujar Andhika kepada CNNIndonesia.com.

Berdasarkan data, papar Tety, hingga saat ini Kerjabilitas menaungi 9 ribu pencari kerja difabel dan bermitra dengan 2000 penyedia kerja.

Tak hanya menjadi layanan job-matching, Kerjabilitas juga kerap memberikan pelatihan-pelatihan kesiapan kerja, career coaching, dan bekerja sama dengan pemerintah dalam meningkatkan akses pelatihan kesiapan kerja yang baik untuk disabilitas.

"Saya pikir semua orang punya peranan penting bagi kebaikan lingkungan tempat di mana mereka tinggal. Kita sedang menghadapi climate change, toxic behaviour dengan sosial media, dan banyak masalah lain yang dihadapi pemuda sekarang setiap harinya. Sehingga kita harus terus lakukan kebaikan, menolong yang membutuhkan, karena bagi saya sendiri, saya merasa lebih hidup ketika saya memudahkan hidup orang yang kesulitan," tutur Tety.

Lain halnya dengan Azalea Ayuningtyas. Ia dan rekan-rekannya menggandeng sekitar 303 perempuan Flores untuk berwirausaha bersama lewat Du'Anyam.

Mereka memproduksi beragam jenis anyaman dari daun lontar yang layak jual dan telah bermitra dengan banyak hotel maupun mal. Hasil dari penjualan diharapkan dapat memutus rantai malnutrisi yang dialami oleh anak-anak dan para ibu di Flores.

[Gambas:Instagram]

Menurut Azalea, malnutrisi bisa terjadi karena orang tua tidak memiliki cukup uang menyediakan makanan yang kaya gizi bagi keluarga, sehingga diharapkan Du'Anyam dapat menjadi salah satu solusi sumber penghasilan bagi sejumlah keluarga di Pulau Solor, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Tety maupun Azalea hanya dua dari pemuda Indonesia yang memilih untuk menjadi sociopreneur. Mengutip beberapa sumber, sejumlah pemuda yang memilih terjun dalam wirausaha sosial di antaranya, Alfatih Timur lewat Kitabisa.

Kitabisa terinspirasi dari situs-situs penggalangan dana yang ada di dunia, salah satunya crowdfunding.

Situs penggalangan dana ini mempertemukan antara mereka yang membutuhkan bantuan keuangan seperti untuk pengobatan, dengan para donatur.

Intinya, sekecil apapun bantuan yang diberikan, namun bila bantuan itu datang dari banyak orang, maka hasilnya bisa amat besar. Di tahun 2017, Kitabisa berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp 162,8 miliar. Alfatih dinobatkan sebagai salah satu 30 Under 30 Forbes Asia atas inovasinya tersebut.

Sejumlah pemuda lain yang juga melakukan wirausaha sosial ialah Dea Valencia melalui Batik Kultur. Batik kultur menggandeng banyak pengrajin dengan tantangan fisik, seperti kehilangan anggota tubuh, ketidakmampuan mendengar atau berbicara. Batik Kultur percaya bahwa setiap individu kuat, unik dan sangat produktif.
Untuk mendukung para pemuda yang juga ingin bergerak dalam wirausaha sosial, Gamal Albinsaid yang awalnya menjalankan wirausaha sosial berupa Klinik Asuransi Sampah, yaitu menyediakan akses kesehatan bagi masyarakat kurang mampu dengan cara membayar dengan sampah, kini juga membentuk pusat kaderisasi wirausaha sosial bernama Impact Indonesia.

Melalui Impact Scholarship, pemuda bangsa yang terpilih akan didukung dalam membentuk wirausaha sosial yang diharapkan berdampak besar bagi lingkungannya. 

Hari ini akan menjadi sejarah bagi pemuda yang lahir pada 50 tahun mendatang. Para pemuda yang berjuang demi kemajuan lingkungannya, akan terus terukir nama dan perjuangannya. Jadi, sudahkah Anda mewujudkan Sumpah pemuda dalam aksi? (ayk/ayk)