Reruntuhan Pemandian Air Panas Pompeii Ditemukan

CNN Indonesia | Kamis, 28/11/2019 12:50 WIB
Reruntuhan Pemandian Air Panas Pompeii Ditemukan House of the Golden Cupids. (Filippo MONTEFORTE / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Area pemandian air panas legendaris yang dibangun di Pompeii namun hancur karena letusan gunung berapi kembali dibuka untuk pengunjung untuk pertama kalinya pada hari Senin (25/11) setelah penggalian yang memakan waktu lama.

Area pemandian air panas bernama 'House of the Golden Cupids' itu belum selesai dibangun saat Pompeii hilang setelah Gunung Vesuvius meletus dahsyat pada tahun 79 Sebelum Masehi.

Saat penggalian, ekskavator juga menemukan korban bencana letusan gunung di area tersebut. Kerangka tersebut berupa anak kecilyang berusaha mencari perlindungan ketika Gunung Vesuvius memuntahkan lahar panasnya.


Para arsitek "terinspirasi oleh pemandian termal Kaisar Nero di Roma. Ruangan di sini menjadi lebih besar dan lebih sederhana, dengan kolam marmer," kata direktur situs arkeologi Massimo Osanna, seperti yang dikutip dsri AFP.

Central Baths terletak di daerah yang direstorasi di bawah Proyek Great Pompeii, dimulai pada 2012 untuk menyelamatkan situs bersejarah itu setelah runtuhnya House of the Gladiator" yang berusia 2000 tahun, yang memicu kemarahan di seluruh dunia.

"Ini adalah penggalian yang sangat emosional," kata Alberta Martellone (43), arkeolog yang memimpin tim antropolog, geolog dan vulkanologis dalam mempelajari kerangka sang anak itu, yang meninggal dalam usia antara delapan dan 10 tahun.

"Dia sedang mencari tempat berlindung, namun malah menemukan ajalnya," katanya.

Hidup terganggu

Pemandian umum asli kota itu lebih kecil, lebih gelap dan sering penuh sesak; area baru ini direncanakan menyediakan tempat yang lebih mewah untuk semua penduduk Pompeii yang berduit.

Penggalian baru-baru ini di Pompeii telah menemukan sejumlah peninggalan yang mengesankan, termasuk sebuah prasasti yang ditemukan pada tahun lalu yang membuktikan bahwa kota di dekat Naples, Italia, ini hancur setelah 17 Oktober 79 Sebelum Masehi, dan tidak pada 24 Agustus seperti yang ditulis dalam sejarah selama ini.

Para arkeolog pada bulan Oktober menemukan sebuah lukisan dinding yang menggambarkan seorang gladiator berbaju besi berdiri sebagai pemenang saat lawannya yang terluka terseok-seok, dicat dalam sebuah kedai minuman yang diyakini menjadi lokasi kongko para prajurit dan pelacur.

Bersamaan dengan area pemandian air panas, pengunjung dari hari Senin dapat mengunjungi domus kecil dengan lukisan dinding yang menggambarkan dewa Romawi Jupiter, yang menyamar sebagai angsa, menghamili sosok mitologis Yunani Ratu Leda.

Di seberang Via del Vesuvio yang berbatu, House of the Golden Cupids yang mencolok dibuka kembali setelah renovasi lantai mosaiknya.

Tantangan terbesar

Sementara para pemburu harta karun secara teratur menjarah Pompeii selama berabad-abad demi mencari perhiasan atau artefak yang berharga, seluruh area belum dieksplorasi oleh para arkeolog.

Setiap penemuan membantu sejarawan memahami tidak hanya seperti apa kehidupan di kota kuno itu, tetapi juga apa yang terjadi pada jam-jam terakhir yang dramatis, ketika langit berubah menjadi api dan abu, kata Osanna.

Proyek Grand Pompeii, yang sebagian didanai oleh Uni Eropa, berakhir pada akhir tahun ini. Tetapi pemerintah Italia telah mengalokasikan 32 juta euro untuk penggalian lanjutan.

Perubahan iklim "adalah tantangan terbesar kami," kata Osanna, yang buku barunya "Pompeii - Time Regained" menggambarkan perlombaan untuk melestarikan situs warisan dunia UNESCO yang sangat rentan ini.

"Kami memiliki 50 orang - arkeolog, arsitek, insinyur - di lokasi secara permanen, yang melakukan inspeksi dan melakukan intervensi jika diperlukan, dan jumlah itu akan meningkat menjadi 70 orang pada tahun depan," tambahnya.

Kota yang hancur di selatan Italia itu adalah situs wisata yang paling banyak dikunjungi kedua di negara itu, setelah Colosseum di Roma, dengan perbedaan di jumlah pengunjung sebanyak 4 juta orang lebih banyak pada tahun 2019.

[Gambas:Video CNN]

(AFP/ard)