'Intermittent Fasting', Puasa yang Bisa Panjangkan Usia

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 28/11/2019 06:43 WIB
'Intermittent Fasting', Puasa yang Bisa Panjangkan Usia Ilustrasi. Studi menyebut, puasa intermiten memiliki sejumlah manfaat sehat yang dapat membuat seseorang hidup lebih lama.(Foto: Istockphoto/ Tharakorn)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi pejuang diet, puasa intermiten (intermittent fasting) atau puasa selama beberapa jam dalam sehari bisa jadi bukanlah hal baru. Puasa sesekali ini dipercaya bisa menurunkan berat badan dengan lebih cepat ketimbang berdiet.

Menariknya, puasa yang hanya membolehkan Anda makan dalam kurun waktu 6 atau 8 jam sehari ini juga disebut-sebut memberi manfaat untuk kesehatan jantung. Menurut sebuah studi, puasa intermiten memberi efek yang positif bagi penderita penyakit jantung.

"Terdapat banyak bukti mengenai manfaat puasa intermiten terhadap penurunan berat badan, dan kami juga memiliki beberapa bukti yang menunjukkan bahwa cara ini mampu mengurangi peradangan, menurunkan tekanan darah, dan memberi dampak positif untuk sistem kardiovaskular," ungkap Benjamin Horne, direktur epidemiologi kardiovaskular dan genetika di Intermountain Healthcare Heart Institute di Salt Lake City, Utah.



Dalam studi yang dipimpin oleh Horne, peneliti menemukan bahwa pasien penyakit jantung yang secara teratur melakukan puasa intermiten cenderung hidup lebih lama, dikutip dari CNBC TV18.

Selain itu, mereka menemukan bahwa pasien yang melakukan puasa intermiten juga lebih kecil kemungkinannya untuk mendapat diagnosis gagal jantung.

Untuk membuktikan hal tersebut, peneliti mengumpulkan 2.001 pasien yang menjalani kateterisasi jantung dari tahun 2013 hingga 2015 dan memberikan serangkaian pertanyaan soal gaya hidup, termasuk apakah mereka rutin melakukan puasa intermiten.

Lalu, sekitar 4,5 tahun kemudian peneliti kembali menemui pasien dan menemukan bahwa pasien yang rutin berpuasa intermiten memiliki umur yang lebih panjang dibandingkan mereka yang tidak puasa.

"Ini merupakan contoh penemuan lain dari bagaimana puasa dapat mengarah kepada hasil kesehatan yang lebih baik serta umur yang lebih panjang," lanjut Horne.

Puasa dapat mempengaruhi kadar hemoglobin, jumlah sel darah merah, hormon pertumbuhan, serta menurunkan kadar natrium dan bikarbonat pada seseorang.

Sementara itu puasa ini juga dapat mengaktifkan ketosis dan autofagi, yang dapat mengarah pada kesehatan jantung yang lebih baik. Secara spesifik, hal ini dapat menurunkan risiko terserang gagal jantung dan jantung koroner.

Namun, meski berpuasa baik untuk kesehatan tubuh, tak semua orang bisa berpuasa.


Peneliti memperingatkan bahwa wanita hamil dan menyusui tak boleh berpuasa, selain itu anak-anak dan lansia juga disarankan untuk tidak berpuasa.

Pasien penyakit tertentu juga tidak boleh asal berpuasa kecuali berada di bawah pengawasan dokter, apalagi jika pasien mengonsumsi obat untuk diabetes, tekanan darah, atau obat jantung.

[Gambas:Video CNN]

(aul/ayk)


BACA JUGA