Masa Kehamilan dan Menyusui Rentan Disfungsi Seksual Wanita

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 07/12/2019 16:25 WIB
Masa Kehamilan dan Menyusui Rentan Disfungsi Seksual Wanita Ilustrasi. Beberapa perubahan pada masa kehamilan dan menyusui dapat memicu timbulnya disfungsi seksual pada wanita. (Istockphoto/ Petrunjela)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kehamilan dan masa menyusui dapat berpengaruh terhadap kehidupan seksual. Perubahan itu dapat memicu timbulnya disfungsi seksual atau gangguan dalam berhubungan intim.

Bukan tanpa alasan jika gairah bercinta menyusut pada masa pasca-melahirkan. Tak jarang bahkan aktivitas seksual justru terasa menyakitkan. Perubahan secara fisik, hormonal, dan psikologi yang dialami wanita pada masa kehamilan dan menyusui menjadi penyebabnya.

"Kehamilan dan menyusui merupakan masa-masa rentan bagi wanita untuk mengalami disfungsi seksual. Namun, tak perlu khawatir karena disfungsi seksual itu dapat diatasi," kata ahli kandungan dan kebidanan, Grace Valentine di Jakarta, beberapa waktu lalu.


Saat hamil, kata Grace, tubuh mengalami perubahan fisik berupa badan yang lebih besar serta lemak yang terlihat. Sering kali perubahan fisik ini membuat rasa percaya diri seorang wanita menurun.

Kurangnya rasa percaya diri dapat membuat wanita tak nyaman saat bercinta sehingga memicu disfungsi seksual seperti gairah yang menurun dan tak mampu mencapai orgasme.

"Sering wanita berpikiran sudah tak seksi lagi, ini menghambat mereka berhubungan intim," ungkap Grace.

Selain perubahan badan, payudara juga ikut membesar saat hamil dan menyusui. Bagian dada ini sering kali terasa nyeri dan lebih sensitif karena pengaruh hormon yang bekerja. Rangsangan tertentu pada bagian payudara dapat menimbulkan rasa sakit saat berhubungan.

Ilustrasi. Beberapa perubahan pada tubuh wanita saat hamil dan menyusui dapat memicu timbulnya disfungsi seksual. (Istockphoto/Sasiistock)

Pasca melahirkan, sering kali daerah kewanitaan mengalami trauma yang membuat bercinta seolah jadi menakutkan.

Ahli kandungan dan kebidanan Ni Komang Yeni menyebut, luka atau trauma saat melahirkan dapat menimbulkan disfungsi seksual seperti vaginismus atau kontraksi otot yang berlebihan. Kontraksi otot itu dapat membuat vagina menutup sehingga tak bisa melakukan penetrasi.

"Setelah melahirkan, vaginismus sering kali terjadi, biasanya karena trauma," ujar Yeni.

Untuk mengatasi disfungsi seksual ini, Yeni menyarankan agar wanita dapat menerima citra diri yang dimilikinya untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Rasa percaya diri akan meningkatkan gairah dan kualitas hubungan.

Selain itu, wanita juga harus menghilangkan rasa takut dan membuat dirinya merasa nyaman agar dapat bercinta dengan baik.

Jika kualitas bercinta belum juga membaik dan disfungsi seksual tak dapat ditangani, Yeni menyarankan untuk berkonsultasi dengan para ahli seperti dokter maupun psikolog.

Tulisan ini merupakan bagian dari fokus Kala Wanita 'Susah' Bercinta.

[Gambas:Video CNN] (ptj/asr)