Kisah Pasangan 14 Tahun Menikah Tanpa Penetrasi Seksual

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 07/12/2019 11:35 WIB
Kisah Pasangan 14 Tahun Menikah Tanpa Penetrasi Seksual Ilustrasi. Karena disfungsi seksual, sepasang suami istri tak bisa melakukan penetrasi saat berhubungan intim selama lebih dari 14 tahun pernikahan. (Istockphoto/ KatarzynaBialasiewicz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selama lebih dari 14 tahun pernikahan, sepasang suami istri tak bisa melakukan penetrasi saat berhubungan seksual. Tak ayal, selama lebih dari satu dekade, memiliki momongan hanya jadi angan-angan semata.

Sang istri selalu merasa nyeri yang tak tertahankan ketika suami akan melakukan penetrasi. Tak jauh berbeda, sang suami seolah merasa menabrak dinding keras saat mencoba memasukkan alat vitalnya.

"Hubungan intim yang mereka lakukan tak pernah berakhir dengan penetrasi, sehingga mereka tak bisa memiliki anak," ujar ahli kandungan dan kebidanan, Ni Komang Yeni, menuturkan kisah salah satu pasiennya, kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.


Sang istri merupakan satu dari sekian penderita disfungsi seksual pada wanita. Data global menunjukkan, 41 persen wanita di dunia mengalami disfungsi seksual. Vagisnismus adalah jenis gangguan seksual yang dialami sang istri.

Vaginismus merupakan kontraksi otot berlebihan pada bagian sekitar organ intim wanita. Kondisi ini membuat organ intim wanita tertutup hingga sulit atau bahkan tak bisa melakukan penetrasi.

"Dalam kondisi tersebut, penetrasi [rasanya] seperti menabrak dinding dan menimbulkan rasa nyeri pada yang melakukannya," ujar Yeni.

Vaginismus umumnya ditandai dengan gejala berupa sensasi panas seperti terbakar, sulit penetrasi, lubang vagina menutup, dan kaku otot pada bagian lain.

Ilustrasi. Vaginismus menjadi salah satu jenis disfungsi seksual yang paling sering dialami wanita. (Istockphoto/ Gmast3r)

Kisah sepasang suami istri yang tak bisa penetrasi selama 14 tahun ini menjadi kasus terlama yang pernah ditangani Yeni. Dokter yang berpraktik di Bamed Women's Clinic ini mengaku sering kedapatan pasien vaginismus. Vaginismus, kata Yeni, menjadi salah satu disfungsi seksual yang paling sering dialami kaum hawa.

"Ada yang datang sebulan setelah menikah, ada yang tiga tahun, tujuh tahun, dan yang paling lama 14 tahun," ungkap Yeni.

Sebelumnya, pasangan ini telah beberapa kali mencoba berkonsultasi dengan dokter untuk mengatasi masalah tersebut. Namun, dokter yang ditemui menyebut tak ada masalah berarti dan menyarankan untuk berhubungan seksual dalam kondisi yang lebih rileks.

Membuat tubuh lebih rileks saat berhubungan seksual pun dilakoni. Tapi, tetap saja cara itu tak berhasil membuat keduanya melakukan penetrasi.

Rekomendasi teman membuat sepasang suami istri itu mengunjungi klinik tempat Yeni berpraktik. Yeni melakukan pemeriksaan menyeluruh berupa pengujian fisik untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Setelah diagnosis didapat, dokter mencari tahu apa akar permasalahan dari vaginismus yang dialami sang istri.

Vaginismus dapat disebabkan oleh penyebab fisik berupa infeksi di area genitalia seperti luka saat melahirkan atau trauma lainnya. Vaginismus juga bisa dipicu faktor psikologis.

"Bagi yang baru menikah seminggu atau dua minggu tidak bisa penetrasi, itu mungkin masih takut atau belum jago. Tapi, kalau sudah berbulan-bulan hingga bertahun-tahun tidak bisa, ini merupakan sesuatu yang tidak wajar," kata Yeni.

Pada kasus yang dikisahkan ini, Yeni menilai faktor psikologis yang tak bisa dijelaskan berkontribusi memicu lubang vagina yang terus menutup. "Bukan kemauan dia, tapi ada beban psikologis di sana," ujar Yeni.

Sepasang suami istri itu kemudian menjalani terapi. Dalam terapi, Yeni memberikan pemahaman atau edukasi mengenai vaginismus.

Setelah berkonsultasi selama kurang lebih dua bulan, pasangan itu berhasil melakukan penetrasi dan terbebas dari jerat vaginismus. Sang istri berhasil hamil pada usianya yang telah menginjak 42 tahun.

Menurut Yeni, sekitar 10 persen orang yang mengalami vaginismus bisa disembuhkan hanya dalam tahap edukasi atau pemberian pemahaman.

"Biasanya kami beri evaluasi, perlahan-lahan untuk mengubah pola pikir, diperbaiki dengan hipnoterapi, dan edukasi yang baik, 10 persen bisa sembuh total," ungkap Yeni.

Jika belum berhasil pada tahap ini, dokter akan melakukan terapi lanjutan yang akan mengajarkan suami dan istri untuk melakukan hubungan intim yang rileks, nyaman, dan saling percaya. Pengobatan juga bisa dilakukan dengan multidisiplin bersama psikiater atau psikolog.

Selanjutnya, dokter juga bisa menggunakan alat bantu berupa dilator. Dilator merupakan sebuah alat medis yang berfungsi untuk merelaksasi otot vagina. Sebanyak 98 persen berhasil sembuh dengan menggunakan bantuan alat ini.

Jika beberapa cara di atas belum juga berhasil, dokter juga dapat melakukan terapi dengan prosedur sedasi.

Yeni mengatakan, tingkat keberhasilan pengobatan disfungsi seksual sangat bergantung pada kemauan dari pasangan suami istri serta dukungan dari berbagai pihak.

"Disfungsi seksual bisa sembuh. Tergantung kesiapan, kemauan, dukungan suami, dukungan keluarga. Jangan sampai menimbulkan hal-hal yang tidak menyenangkan seperti dicap mandul, cacat, atau tidak berbakti," kata Yeni.

Tulisan ini merupakan bagian dari fokus Kala Wanita 'Susah' Bercinta.

[Gambas:Video CNN] (ptj/asr)