Studi yang dipublikasikan di jurnal Neurology ini mencari hubungan antara kebiasaan tidur dengan risiko stroke. Para peneliti memantau kebiasaan tidur partisipan yang disertai dengan pemeriksaan fisik selama enam tahun.
Sebanyak lebih dari 31 ribu orang dewasa terlibat sebagai partisipan dalam penelitian ini. Partisipan merupakan mereka yang tak memiliki riwayat stroke atau gangguan kesehatan terkait lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Durasi Tidur Ideal agar Jantung Tetap Sehat |
Partisipan yang melakukan keduanya-tidur sembilan jam atau lebih pada malam hari dan beristirahat selama 90 menit pada siang hari-85 persen lebih mungkin terkena stroke dibanding mereka yang tidur dalam waktu ideal.
Tak hanya itu, peneliti juga menemukan, partisipan dengan kualitas tidur yang buruk melaporkan 29 persen lebih mungkin mengalami stroke dibanding mereka yang tidur cukup.
"Dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk mengetahui dengan pasti hubungan antara waktu tidur di malam dan siang hari dengan risiko stroke," ujar penulis studi dari Huangzhong University of Science and Technology, Xiaomin Zhang, melansir The Independent.
Sebelumnya, sebuah penelitian lain menunjukkan, orang yang terbiasa tidur dalam waktu lama cenderung mengalami peningkatan kadar kolesterol jahat dan ukuran lingkar pinggang yang bertambah. Keduanya diketahui merupakan faktor risiko stroke.
"Tidur dalam waktu lama mengindikasikan gaya hidup tidak aktif yang juga dikaitkan dengan risiko stroke," kata Zhang.
Sejauh ini, tak ada durasi tidur ideal yang bisa dijadikan patokan. Namun, orang dewasa direkomendasikan untuk tidur selama 7-9 jam per hari.
[Gambas:Video CNN] (asr/asr)