WHO: Jumlah Perokok Pria Menurun Pertama Kalinya

Tim, CNN Indonesia | Senin, 23/12/2019 13:17 WIB
WHO: Jumlah Perokok Pria Menurun Pertama Kalinya Ilustrasi. Penurunan jumlah perokok pria menjadi titik cerah bagi upaya menyetop kebiasaan merokok yang menjadi penyebab kematian terbanyak di dunia. (jackmac34/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jumlah perokok pria dilaporkan menurun untuk pertama kalinya dalam sejarah. Laporan ini menjadi titik cerah bagi upaya menyetop kebiasaan merokok yang menjadi penyebab kematian terbanyak di dunia.

Hal tersebut didapat dari laporan teranyar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Penurunan menjadi indikasi kuat bagi keberhasilan kampanye anti-rokok di seluruh dunia.

"Penurunan angka perokok pria ini menandai titik balik dalam perang melawan tembakau, didorong oleh kebijakan-kebijakan yang diberlakukan di setiap negara," ujar Direktur Umum WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, melansir AFP.

Selama dua dekade terakhir, penggunaan tembakau secara global menurun secara perlahan. Dari sekitar 1,4 miliar pengguna pada 2000 menjadi 1,3 miliar pengguna pada 2018. Sebanyak 80 persen perokok di dunia didominasi oleh pria.

Penurunan drastis terjadi pada jumlah perokok perempuan dan anak atau remaja. Dari 346 juta pengguna pada 2000 menjadi 244 juta pada 2018.

Laporan yang dirilis pada Kamis waktu setempat mencakup penggunaan rokok, cerutu, kretek, dan produk tembakau yang dipanaskan. Rokok elektronik tak termasuk dalam laporan tersebut.

"Semakin sedikit laki-laki yang menggunakan produk tembakau, berarti semakin sedikit orang yang akan menderita penyakit kronis," ujar Direktur Departemen Promosi Kesehatan WHO, Ruediger Krech.

Dalam laporannya, WHO juga mengatakan bahwa sekitar 60 persen negara telah memperlihatkan penurunan penggunaan tembakau sejak 2010 lalu.

WHO menghubungkan penurunan ini dengan serangkaian kebijakan pengendalian rokok yang dilakukan sejumlah negara. Mulai dari pajak, larangan merokok di area publik, dan larangan pemasaran produk tembakau.

Indonesia sendiri telah menetapkan kenaikan cukai tembakau dan harga jual eceran (HJE) yang akan berlaku pada 2020 mendatang. Sejumlah daerah di Indonesia juga telah menerapkan konsep kawasan bebas rokok yang umumnya berada di ruang-ruang publik kota atau kabupaten.

Kendati demikian, penurunan ini dinilai terlalu lambar untuk bergerak. "Kita tidak bisa puas dengan penurunan yang lambat ini, ketika lebih dari 1 miliar orang masih menggunakan tembakau," kata Krech.

Kebiasaan merokok diperkirakan membunuh sekitar 8 juta jiwa pada setiap tahunnya. Kendati mengalami penurunan, upaya lebih lanjut untuk menyetop kecanduan tembakau masih perlu dilakukan.

[Gambas:Video CNN]


(asr/asr)