Buku Langka dan Mereka yang Masih Setia pada Pasar Santa

Yogi Anugrah, CNN Indonesia | Sabtu, 28/12/2019 20:54 WIB
Buku Langka dan Mereka yang Masih Setia pada Pasar Santa Salah satu kios di lantai satu Pasar Santa yang cukup ramai didatangi pengunjung. (CNN Indonesia/Yogi Anugrah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tidak banyak pengunjung yang berlalu lalang di lantai 1 Pasar Santa, Jakarta Selatan, pada Sabtu (28/12) sore ini.

Mereka yang datang mayoritas anak-anak muda yang datang berpasang-pasangan atau bergerombol, serta pengunjung keluarga. Sesekali, terlihat pengemudi ojek online yang datang membeli pesanan.

Selain memburu kios-kios yang menjajakan makanan dan minuman, mereka terlihat silih berganti masuk mendatangi pedagang aksesoris, pakaian, hingga piringan hitam.


Salah satunya Aditya, warga Jakarta Selatan yang datang bersama teman perempuannya.

"Habis makan, ini keliling lihat-lihat bentar," saat berbincang dengan CNNIndonesia.com.

Pria berusia 23 tahun tersebut bercerita dirinya mulai mendengar Pasar Santa pada akhir 2014 -- saat tempat itu masih menjadi tongkrongan kekinian anak muda Ibu Kota.

"Dulu kan memang sempat dibicarain di mana-mana. Tapi saya baru datang ke sini itu awal 2015 kalau tidak salah," ujar dia.

Beberapa tahun berlalu, Aditya masih menjadi salah satu pengunjung setia Pasar Santa, meski tempat itu tak lagi ingar-bingar seperti dahulu. "Sebulan sekali mungkin ada (datang ke sini)," kata dia

Suasana yang tidak begitu ramai dan kios yang menjual barang-barang unik jadi alasannya masih kerap berkunjung ke Pasar yang berada di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan itu.

"Belakangan ini paling sering ke toko buku yang di belakang itu, buku-bukunya langka. Kadang beli, kadang cuma baca-baca," ucap dia.

Selain itu, harga makanan dan minuman yang tidak terlalu mahal, juga membuatnya masih beberapa kali makan di kios-kios kuliner yang ada di Pasar tersebut.

"Kadang makan di sini kalau lapar habis keliling. Kalau nongkrong (di sini) jarang," kata dia.

CNNIndonesia.com mendatangi toko buku independen yang dimaksud Aditya tersebut, di bagian belakang lantai satu Pasar Santa. Dengan tempat yang tidak terlalu luas, pengunjung harus silih berganti masuk ke toko buku bernama Post Santa tersebut.

Ketika menengok ke dalamnya, sekitar enam pelanggan berada di sana -- jumlah yang terhitung banyak jika dibandingkan dengan lapak-lapak lainnya. Toko buku yang rutin menggelar diskusi itu bisa bertahan dengan caranya sendiri, dan mendapatkan tempat di hati para pegiat literasi. Tak banyak penghuni Pasar Santa yang bisa mengikuti.

Saat ini, Pasar Santa memang sudah tidak sepopuler akhir 2014 lalu. Kini banyak kios dengan rolling door warna-warni yang terkunci rapat. Tutup entah sampai kapan.

Menurut salah satu pedagang bernama Imam, kini banyak kios-kios yang gulung tikar dikarenakan harga sewa kios yang melambung. Berdasarkan penelusuran CNNIndonesia.com, lapak yang berada di area paling depan pasar alias yang berpotensi paling ramai, disewakan dengan harga Rp25 juta per tahun. Padahal lima tahun lalu hanya Rp3,5 juta per tahun. Belum lagi jika bicara jumlah pembeli yang semakin berkurang. Para pedagang pun memilih menutup lapak.

"Penghasilan berapa, bayar kios berapa. Itu yang pada tutup memang tutup permanen, bukan karena lagi libur," kata Imam.

(vws)