Bayang Gelap Pasar Wuhan Antara Hewan Liar dan Virus Corona

tim, CNN Indonesia | Kamis, 23/01/2020 14:43 WIB
Bayang Gelap Pasar Wuhan Antara Hewan Liar dan Virus Corona Pasar ikan Wuhan akhirnya ditutup pada 1 Januari 2020 lalu setelah 41 orang terinfeksi virus corona. Apa sebenarnya yang ada di pasar tersebut?(NOEL CELIS / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pasar ikan Wuhan, yang terletak di kota Wuhan, China menjadi episentrum penyebaran virus corona yang menyerupai SARS namun menimbulkan gejala mirip pneumonia. Tak heran penyakit ini juga dikenal sebagai pneumonia China atau pneumonia Wuhan. 

Pasar ini akhirnya ditutup pada 1 Januari 2020 lalu setelah 41 orang terinfeksi virus corona. Apa sebenarnya yang ada di pasar tersebut?

Pasar ikan Wuhan sebenarnya dikenal juga sebagai pasar bahan makanan. Pasar ini menjual berbagai jenis hewan dan satwa liar eksotis. Sebut saja anak serigala hingga spesies yang terkait dengan pandemi sebelumnya seperti musang. Hal ini diungkapkan oleh vendor terkait dan laporan media China.


Sebuah daftar harga terkait bisnis penjualan hewan ini juga beredar di internet. Daftar tersebut mencantumkan harga serangkaian hewan atau produk berbasis hewan termasuk rubah hidup, buaya, anak serigala, salamander raksasa, ular, tikus, buruk merak, landak, daging unta dan lainnya. Totalnya mencapai 112 item.

"Baru disembelih, dibekukan, dan dikirim ke pintu Anda," tulis daftar tersebut.


AFP tidak dapat secara langsung mengkonfirmasi keaslian daftar harga. Panggilan telepon ke vendor tidak dijawab, dan upaya untuk menghubungi lewat akun media sosialnya ditolak.

Pasar seafood Huanan di pusat kota Wuhan berada dalam pengawasan yang lebih ketat pada Rabu lalu ketika pejabat China mengatakan bahwa virus tersebut kemungkinan berasal dari hewan-hewan liar yang dijual di kawasan makanan.

antisipasi virus coronaFoto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono
antisipasi virus corona


Tak dimungkiri epidemi SARS di masa lalu yang mematikan di negara tersebut dikaitkan dengan konsumsi daging musang di China. Hal ini dianggap bakal membuat pemerintah China malu jika ada kelalaian pengawasan perdagangan satwa liar yang ditemukan dalam wabah virus saat ini.


Gao Fu, direktur pusat pengendalian dan pencegahan penyakit China mengatakan bahwa pihak berwenang yakin jika virus itu berasal dari binatang buas di pasar seafood meskipun sumber pastinya masih belum ditemukan.

China melarang perdagangan sejumlah spesies liar atau memerlukan lisensi khusus. Hanya saja peraturannya cukup longgar untuk beberapa spesies jika mereka dibudidayakan secara komersial.

The Beijing News menerbitkan sebuah foto pada hari Selasa yang menunjukkan bagian depan toko penjual yang sekarang sudah tutup, ketika pihak berwenang dengan jas hazmat putih berseliweran.

Surat kabar itu juga mengutip pedagang-pedagang lain yang mengatakan perdagangan satwa liar terjadi sampai pasar tutup karena desinfeksi tak lama setelah wabah.

Sejumlah penderita awal virus, sekarang dikenal sebagai Novel 201 Coronavirus (2019-nCoV), adalah karyawan pasar.

Banyak spesies eksotis masih banyak dikonsumsi di Cina atau negara-negara Asia lainnya di mana mereka dianggap sebagai makanan lezat - seperti musang atau tikus atau kelelawar - atau untuk manfaat kesehatan yang diakui yang tidak terbukti oleh ilmu pengetahuan.

Tetapi ini membawa risiko kesehatan manusia yang meningkat, kata Christian Walzer, direktur eksekutif Program Kesehatan Masyarakat Konservasi Margasatwa yang bermarkas di AS.

Walzer mengatakan 70 persen dari semua penyakit menular baru berasal dari satwa liar, dengan perambahan habitat meningkatkan kemungkinan penyebaran patogen.

"Pasar satwa liar menawarkan peluang unik bagi virus untuk menyebar dari inang satwa liar," katanya.

"Sangat penting untuk menginvestasikan sumber daya tidak hanya untuk menemukan virus baru, tetapi yang lebih penting, untuk menentukan penyebab epidemiologis baik vektor (perantara), penyebab, dan penyebar penyakit menular."

Antisipasi Virus CoronaFoto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono
Antisipasi Virus Corona


Kelelawar diperkirakan telah melahirkan SARS, yang pada 2002-03 membunuh ratusan orang di Asia, kebanyakan Cina.

SARS juga ditemukan di musang di pasar satwa liar di China, dengan banyak ilmuwan percaya virus kelelawar menginfeksi makhluk seperti kucing dan kemudian manusia yang memakannya.

Menyusul SARS, Cina menindak konsumsi musang dan beberapa spesies lain, tetapi para konservasionis mengatakan perdagangan itu berlanjut.

China juga dipuji atas keterbukaannya untuk menangani wabah virus corona. (chs)