Mengenal Gejala Virus Corona dan Penanganan Pertamanya

Tim, CNN Indonesia | Senin, 27/01/2020 14:59 WIB
Gejala virus corona menyerupai penyakit flu. Pasien yang mengalami gejala serupa disarankan langsung dirujuk ke rumah sakit. Ilustrasi. Gejala virus corona menyerupai penyakit flu. (Hector RETAMAL / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Virus Corona jenis terbaru atau 2019-nCov kini tengah menyita perhatian dunia. Kemunculan pertamanya ada di Wuhan, China, lantas mengikuti kemudian ke sejumlah negara lain. Indonesia sendiri tengah dalam kondisi siaga satu untuk mengantisipasi penyebaran virus corona. Beberapa gejala virus corona perlu Anda ketahui.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Subandrio menjelaskan virus corona merupakan satu keluarga besar virus yang sejenis. Umumnya, sirkulasi peredaran terjadi di antara hewan.

Namun, enam jenis di antaranya yang memang bisa menyerang manusia. Termasuk, virus corona yang diidentifikasi di Wuhan tersebut. Karena itu pula virus ini disebut sebagai novel.


"Karena ditemukan pada 2019 maka disebut 2019-nCov," tutur Amin saat diwawancara CNNIndonesia TV, Senin (27/1).

Namun, jumlah kasus virus corona jenis baru ini masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan MERS-CoV dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV). Angka kematian akibat SARS bisa mencapai 80 persen, sementara MERS antara 30-40 persen. Sedangkan virus corona ini baru sekitar di angka 4 persen.

Kendati begitu, Amin mengingatkan, tingkat penyebaran virus ini rentan meluas. Ini karena orang yang terserang tak menunjukkan perubahan mencolok. Selain itu, gejala virus corona nyaris mirip dengan orang yang hendak terserang flu.

"Karena yang sudah tertular, tidak mengetahui, belum ada gejalanya jelas, tapi dia sudah pergi ke mana-mana. Karena ini berbeda dengan SARS, yang lebih cepat munculnya," jelas Amin lagi.

Itu sebabnya, ada baiknya pelbagai gejala ini harus sedini mungkin diwaspadai. Amin menerangkan, orang yang terserang virus ini biasanya menderita demam disertai batuk.

"Jadi kriterianya demam, dengan batuk. Atau, sesak napas dan yang berat lagi kesulitan bernapas," sambung dia.

Senada dijelaskan dalam keterangan tertulis Rumah Sakit Awal Bros Bekasi Timur. Gejala virus corona ini antara lain demam, lemas, batuk, dan sesak napas. Beberapa indikasi medis bahkan ditemukan lebih berat. Misalnya pada orang yang sudah lanjut usia atau yang memiliki penyakit penyerta lain.

"Ini memiliki risiko lebih tinggi memperberat kondisi. Adapun dampak terburuk yang dapat terjadi adalah infeksi berat (sepsis), kondisi syok, gagal pernapasan hingga meninggal," tulis keterangan tertulis pihak RS Awal Bros Bekasi Timur.

Ilustrasi. Gejala virus corona mirip dengan penyakit flu. (NICOLAS ASFOURI / AFP)

Namun setelah menemukan gejala-gejala di atas, masih ada sejumlah hal yang juga perlu dicek. Yakni soal riwayat kontak orang yang masuk kategori suspek atau terduga.

"Harus dikaitkan dengan riwayat kontak. Tidak selalu bepergian, bisa dia bepergian di wilayah endemis atau bisa juga dia kontak dengan orang yang baru pulang dari daerah itu. Orang itu mungkin belum sakit, tapi sudah membawa virusnya," Amin menjelaskan.

Sementara pihak RS Awal Bros membeberkan lebih detail indikasi medis yang dapat memungkinkan seseorang masuk kategori suspek atau terduga. Pertama, pasien dengan gejala tersebut namun dalam kondisi yang berat dan membutuhkan perawatan di rumah sakit yang diketahui memiliki riwayat perjalanan ke Wuhan, China selama 15 hari terakhir atau, pasien merupakan petugas kesehatan yang merawat pasien infeksi saluran akut respirasi yang berat.

Kedua, pasien dengan gejala yang disebut di atas pernah berkontak erat dengan orang yang terjangkit virus corona, atau pernah berkunjung ke pasar hewan hidup di Wuhan atau, merupakan pengunjung atau petugas kesehatan di rumah sakit yang menangani kasus virus corona.

Bila menemukan gejala-gejala tersebut, Dokter Spesialis Paru RS Awal Bros Bekasi Timur, dr. Annisa Sutera Insani menyarankan sejumlah tindakan. Kata dia, pasien yang mengalami gejala corona virus sebaiknya langsung dirujuk ke rumah sakit.

Selanjutnya, dalam penanganan perlu segera dilakukan foto toraks hingga uji diagnostik melalui swab tenggorokan atau pemeriksaan dahak.

"Jika tidak bisa dirujuk, segera kunjungi rumah sakit lainnya dan sebaiknya pasien harus dirawat di ruang isolasi dan lakukan foto toraks berkala, terapi simptomatik (terapi yang dilakukan berdasarkan gejala yang dialami), terapi cairan, ventilator mekanik (bila terjadi gagal pernapasan)," jelas Annisa.

Ia melanjutkan, jika gejala yang dialami itu disertai infeksi bakteri maka pasien dapat diberikan antibiotik berdasar petunjuk dokter.

[Gambas:Youtube]

(NMA/NMA)