Virus Corona Bisa Menular Meski Penderita Belum Ada Gejala

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 28/01/2020 14:41 WIB
Virus Corona Bisa Menular Meski Penderita Belum Ada Gejala Ilustrasi. Pembawa virus corona bisa menularkan ke orang lain sekalipun belum menunjukkan gejala infeksi. (CNN Indonesia/Sahril)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penyebaran virus corona kian meluas di pelbagai penjuru dunia. Berawal dari Wuhan, China mengikuti kemudian kasus-kasus di negara lain seperti Thailand, Amerika, Malaysia dan, Singapura.

Komisi Kesehatan Nasional China bahkan memperingatkan pembawa virus bisa menularkan ke orang lain meski belum menunjukkan gejala infeksi.

"Penularan menunjukkan tanda-tanda peningkatan dan 'sumber infeksi berjalan' [di mana pasien menunjukkan gejala penyakit] telah membuatnya sulit dikendalikan dan menimbulkan penyakit," kata Menteri Ma Xiaowei dalam konferensi pers di Beijing dikutip dari The Telegraph.

Kendati demikian, hingga kini otoritas China belum bisa mengonfirmasi sumber infeksi. Selain itu, belum ada pula kejelasan soal risiko mutasi virus dan bagaimana penyebarannya.


Pengumuman mengenai penyebaran masif virus corona tersebut menyusul analisis genetik yang diterbitkan The Lancet. Riset jurnal internasional ini menyebut corona jenis terbaru bisa menular meski pembawa virus belum menampakkan gejala atau, virus masih dalam masa inkubasi.

Kondisi tersebut pun tak ayal membuat pencegahan penyebaran virus corona menjadi kian menantang.


Ini pula yang membedakan virus corona (2019-nCoV) dengan SARS, meski keduanya memiliki patogen yang sama. Pada 2002-2003 silam, SARS melanda seluruh Asia dan menewaskan sekitar 800 orang.

Pernyataan mengenai penyebaran virus korona itu turut dibenarkan Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio. Menurut dia, penularan berpotensi terjadi sekalipun virus corona masih dalam masa inkubasi--di mana boleh jadi gejala infeksi kadang belum terlihat.


"Dalam masa inkubasi, seseorang yang tertular sudah dapat menularkan kepada orang lain," jelas Amin saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (28/1). Sementara dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, masa inkubasi virus hingga timbul penyakit diperkirakan terjadi sekitar 18 hari.

Amin mengungkapkan hingga kini belum ada antivirus spesifik untuk mengatasi 2019-nCov. Namun kata dia, pelbagai pihak memang lazim melakukan uji coba.

"Seperti biasa, orang mencoba antivirus yang ada. [Tapi] Belum ada uji klinis spesifik," sambung Amin lagi.


Seiring meluasnya penyebaran virus corona, beberapa negara menempuh pelbagai tindakan antisipasi. Jepang juga beberapa negara lain berencana mengevakuasi warga negara mereka yang berada di Wuhan, China. Sedangkan Indonesia merilis travel advisory untuk WNI yang ingin melakukan perjalanan ke China atau negara yang terdapat kasus virus corona.

Meski, bila menurut profesor Wang Linfa dari Duke-NUS medical school di Singapura, langkah mengevakuasi itu dianggap berlebihan dan justru berpotensi membuat orang stres. Pasalnya, virus corona ini memiliki tingkat mortalitas lebih rendah daripada SARS dan MERS. Itu sebab tindakan karantina sebenarnya telah membantu meredam penyebaran virus corona. Ini pula strategi yang dijalankan untuk menghentikan SARS.

"Anda tidak memiliki vaksin, tidak ada obat, jadi karantina biasanya merupakan cara yang paling klasik," kata Wang.

[Gambas:Video CNN] (els/NMA)