Umat Islam di Slovenia Akhirnya Punya Masjid

CNN Indonesia | Selasa, 04/02/2020 14:24 WIB
Ide pembangunan masjid sudah tercetus sejak 50 tahun yang lalu. Kini umat Muslim di Slovenia tak perlu lagi menyewa gedung olahraga untuk ibadah. Ilustrasi masjid. (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masjid pertama di Slovenia akhirnya dibuka pada Senin (3/2) setelah melewati berbagai rintangan, mulai dari masalah dana hingga kritik oposisi sayap kanan.

Ide pembangunan masjid yang berlokasi di ibu kota Ljubljan itu telah direncanakan sejak 50 tahun yang lalu.

Para pengkritik - termasuk mereka yang mengkritik pembiayaan pembangunan masjid dari Qatar - telah berulang kali mencoba untuk menghentikan pembangunan masjid itu.


Beberapa kali mereka mengirimkan kepala babi dan darah ke area pembangunan masjid.

Kepala komunitas Islam di Slovenia, Mufti Nedzad Grabus mengatakan pembukaan masjid adalah "titik balik dalam kehidupan kita".

"Slovenia adalah bekas negara bagian Yugoslavia terakhir yang mendapatkan masjid, menjadikan Ljubljana sebagai ibu kota daripada kota provinsi di ujung dunia," katanya dalam konferensi pers.

Muslim di negara asal Melania Trump yang mayoritas beragama Katolik itu pertama kali mengajukan permintaan untuk membangun masjid pada akhir 1960-an.

Di masa itu Slovenia masih menjadi bagian dari bekas Komunis Yugoslavia.

Komunitas Islam di Slovenia akhirnya menerima izin 15 tahun yang lalu, tetapi mendapat tentangan dari politisi dan kelompok sayap kanan, serta masalah keuangan.

Konstruksi, yang dimulai pada 2013, menelan biaya sekitar 34 juta euro (sekitar Rp515 juta), di mana 28 juta euro merupakan sumbangan Qatar, kata Grabus.

Terletak di kawasan semi-industri Ljubljana, masjid, yang dapat menampung hingga 1.400 orang itu merupakan inti dari enam bangunan Pusat Kebudayaan Islam.

Pusat Kebudayaan Islam ini terdiri dari kantor-kantor komunitas; pusat pendidikan, yang mencakup perpustakaan; restoran; lapangan basket; perumahan bagi ulama Muslim; dan menara setinggi 40 meter.

Semua bangunan terbuat dari beton putih yang dipadukan dengan baja, kaca, dan kayu.

Sebuah kubah besar berwarna biru mendominasi bagian dalam masjid, merujuk ke surga dan mengingatkan pada masjid-masjid terkenal seperti Masjid Biru di Istanbul, Turki.

Menunjukkan keterbukaan

"Kami ingin mengaitkan nilai-nilai arsitektur Islam tradisional dengan arsitektur kontemporer," kata arsitek Matej Bevk kepada AFP, seperti yang dikutip pada Selasa (4/2).

Bevk menambahkan fasad kaca di bangunan itu dimaksudkan untuk menunjukkan transparansi dan keterbukaan.

Sebelumnya, umat Islam di Slovenia melakukan ibadah dan upacara keagamaan dengan menyewa gedung olahraga atau gedung pertemuan.

Jumlah mereka 2,5 persen dari 2 juta penduduk negara itu, yang merupakan kelompok agama terbesar kedua, menurut sensus tahun 2002.

Grabus memperkirakan ada sekitar 80 ribu Muslim di Slovenia saat ini.

Penentang proyek telah dua kali mencoba untuk menghentikannya, pada tahun 2004 dan pada tahun 2009, dengan meminta referendum. Mahkamah Konstitusi menolak permintaan tersebut.

Para kritikus juga mengklaim Qatar adalah salah satu pemodal utama terorisme.

Kepala dan darah babi dilemparkan ke area pembangunan dalam dua insiden pada 2016. Babi dianggap najis dan babi dan produk sampingannya dilarang di bawah Islam.

Walikota Ljubljana, Zoran Jankovic, telah mendukung proyek ini.

Azra Lekovic, seorang Muslim Slovenia berusia 40-an, menggambarkan masjid sebagai bangunan "penting".

Ia mengatakan anak-anaknya, 22 dan 24, telah menjauhkan diri dari agama selama bertahun-tahun, sehingga berharap masjid bisa membawa aura positif.

"Saya berharap masjid memungkinkan anak-anak saya untuk kembali berkomunikasi dengan komunitas Islam, untuk bertemu orang-orang progresif dan menemukan teman-teman yang dapat berbagi ilmu agama mereka," kata pengusaha dari Sezana, barat Slovenia itu.

(AFP/ard)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK