Kaitan antara kualitas tidur dan pola makan di atas ditemukan dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di Journal of American Heart Association pada Senin (17/2).
Para peneliti dari Irving Medical Center di Columbia University, Amerika Serikat, meneliti pola makan dan tidur sebanyak 500 perempuan di AS. Studi dilakukan selama satu tahun lamanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam masyarakat modern, kita sering kali bekerja lembur, makan larut malam, dan terkadang mengabaikan tidur," ujar penulis studi, Brooke Aggarwal. Padahal, tidur menjadi salah satu faktor penting dalam gaya hidup sehat.
Dalam penelitian, peserta perempuan berusia 20-76 tahun melaporkan pola tidur dan makan mereka melalui sebuah kuesioner. Hasilnya, lebih dari sepertiga peserta memiliki kualitas tidur yang buruk atau mengalami insomnia.
Hampir 30 persen dari peserta tidur dalam waktu kurang dari tujuh jam per malam. Hampir 25 persen dari peserta tidur dalam waktu kurang dari tujuh jam per malam dan dilaporkan mengalami insomnia. Waktu tidur peserta rata-rata kurang dari tujuh jam per malam.
Secara keseluruhan, peserta yang tidur kurang dari tujuh jam per malam mengonsumsi rata-rata tambahan 500-800 kalori per hari. Mereka juga ditemukan gagal memenuhi rekomendasi asupan biji-bijian dan serat harian.
Lihat juga:5 Ritual Menenangkan Agar Tidur Nyenyak |
Para peneliti meyakini bahwa kurang tidur dapat merangsang rasa lapar yang membuat seseorang makan dalam porsi berlebih.
Kadar insomnia sendiri diketahui dapat memengaruhi hippocampus sebagai area otak yang mengatur asupan makanan. Hal ini membuat seseorang lebih sulit untuk menghindari konsumsi makanan yang tidak sehat.
"[Saat kurang tidur] kita cenderung membuat keputusan yang tidak rasional dan lebih impulsif. Sering kali, keputusan yang didorong emosi muncul saat tubuh merasa lelah [kurang tidur]," ujar ahli kesehatan Stanford University, Maya Adam, yang tidak terlibat dalam penelitian.
[Gambas:Video CNN]
(asr/asr)