Polemik Monas: Pohon Ditebang, Diorama Butut Dilestarikan

CNN Indonesia | Minggu, 23/02/2020 11:22 WIB
Menjadi lokasi orang pacaran atau jogging mungkin hal biasa bagi Monas. Namun sebagai sirkuit Formula E, menimbulkan polemik bagi Cagar Budaya ini. Salah satu diorama di Museum Nasional (Monas), Jakarta. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejak diresmikan pada 12 Juli 1975, Monumen Nasional (Monas) telah menjadi saksi bisu perkembangan Jakarta sebagai ibu kota Indonesia, mulai dari beroperasinya TransJakarta, ledakan granat, demo alumni 212, sampai kini yang terbaru; revitalisasi demi ajang Formula E.

Menjadi lokasi orang pacaran atau jogging mungkin hal biasa bagi Monas. Namun tidak sebagai sirkuit Formula E.

Kelompok pengamat budaya sampai ikatan arsitektur sepakat tidak setuju dengan penggunaan Monas sebagai sirkuit Formula E yang dicanangkan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.


Alasannya Monas merupakan bangunan bersejarah yang masuk dalam daftar Cagar Budaya, yang artinya wajib untuk, terlarang untuk diubah bentuknya.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya, Mundardjito Otti, menyebut seluruh kawasan Monas yang berdiri di atas lahan 80 hektar merupakan Cagar Budaya. Ia mengajak semua orang untuk kembali berkaca pada UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Dalam UU tersebut, ada BAB I Pasal 1 yang menyatakan tentang sifat kebendaan cagar budaya yang meliputi benda, bangunan, struktur, situs serta kawasan.

"Jadi kawasan medan merdeka itu seluruhnya adalah Cagar Budaya, bukan tugu Monas saja," ungkap Otti kepada CNNIndonesia.com, Kamis (20/2).

Otti yang juga arkeolog menegaskan pembangunan dalam kawasan Cagar Budaya harus benar-benar memperhatikan nilai keaslian tempat itu, sehingga sejarahnya bisa dilestarikan untuk generasi di masa depan.

"Tidak boleh banyak diintervensi. Bahkan kalau mau melestarikan juga perlu merujuk pada bentuk aslinya," kata Otti.

"Harus punya keaslian, dulunya seperti apa butuh diteliti, dilihat dari foto-foto, peta-peta, jadi tidak gampang," lanjutnya.

Otti menyebut Monas sebagai tempat yang bisa disebut sakral, sebab terdapat jejak pembangunan dari masa Presiden Soekarno yang mengisahkan banyak sejarah.

Sudah pasti Otti menyayangkan jika tempat yang memiliki filosofis sejarah dibumbui dengan sesuatu yang kurang benar dan kurang beretika, seperti Formula E.

"Nah itu juga di tempat yang bisa disebut sakral ada balap mobil. Lalu area dalamnya di aspal, itu kan merusak esensi Cagar Budaya. Etikanya di mana?" ujarnya.

Otti tidak menolak ada pengembangan dan pembangunan di kawasan Cagar Budaya, asal sesuai dengan UU.

"Kalau di situ sudah diacak-acak, dibongkar-pasang, kita sudah melanggar UU, terlalu banyak intervensinya," katanya.

Polemik Monas: Pohon Ditebang, Diorama Butut DilestarikanSalah satu diorama di Museum Nasional (Monas), Jakarta. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Dihubungi terpisah, sejarawan JJ Rizal menilai polemik Formula E terjadi karena Pemrov DKI Jakarta hanya fokus pada paham sebuah bangunan di atas lahan, bukan soal Cagar Budaya.

"Persoalan besarnya berangkat dari Kepres 1995 yang bagi saya menempatkan Monas dalam konteks arsitektural saja," katanya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (21/2).

Rizal juga menilai para pemangku jabatan yang mengatur pengembangan Monas tidak paham betul bagaimana porsi yang tepat untuk pelestarian dan lebih fokus pada kepentingan yang lain.

"Mereka berdebat bukan dari posisi apa yang benar bagi Monas, tetapi apa untungnya bagi mereka," ujarnya.

Rizal tidak menampik fakta bahwa Monas dirancang sebagai ruang terbuka untuk dinikmati umum, bukan ruang inklusif yang kaku.

Namun karena Monas suatu Cagar Budaya, maka Monas menyuguhkan ruang publik yang memegang prinsip sebagai tempat pembelajaran masyarakat tentang Indonesia.

"Selama terkait dengan prinsip, [menikmati Monas sebagai ruang publik] itu boleh," pungkasnya.

Di luar penebangan pohon atau pembangunan aspal untuk Formula E, Rizal mengatakan salah satu revitalisasi yang paling penting untuk Monas ialah soal ruangan Diorama yang sudah sangat jadul.

Bukan cuma interiornya yang tua, namun sejarah yang dijelaskan dalam miniatur tiga dimensi itu juga bisa dibilang butut.

Padahal ruang Diorama itu membantu pengunjung memahami sejarah Indonesia dengan lebih sederhana.

"Menariknya, dalam konsep revitalisasi Monas digunakan kata kontemplasi, merenung, berpikir. Tetapi, yang menjadi soal adalah dalam praktiknya hal yang utama dan berkaitan dengan sejarah yang menjadi pusat perenungan itu tidak disentuh sama sekali, yaitu ruangan Diorama," jelas Rizal.

"Terlebih lagi di ruang yang disebut untuk merenung tetapi dibuat keramaian balapan mobil," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

(khr/ard)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK