Turis yang Masih Berpesta di Miami Dihujani Kritik

CNN Indonesia | Sabtu, 21/03/2020 15:20 WIB
Di bulan ini, tepi pantai di Miami, Florida, biasanya ramai oleh pelajar muda yang sedang liburan alias spring break. Ilustrasi. Pesta spring break di Miami, Florida, AS. (John Parra/Getty Images for Victoria's Secret/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di bulan ini, tepi pantai di Miami, Florida, biasanya ramai oleh pelajar muda yang sedang liburan alias spring break.

Namun acara kongko hingga larut malam sembari menyesap bir Corona di sana kini berganti dengan kekhawatiran akan virus corona.

Spring break yang sering dilakukan pelajar tingkat awal di perguruan tinggi dan universitas Amerika Serikat (AS) biasanya menjadi musim ramai turis (high season) di Miami Beach, sebuah kota di lepas Pantai Miami yang dikelilingi restoran, kelab malam, dan bar dengan papan nama berhiaskan lampu neon nan meriah.


Saat ini virus corona telah menginfeksi 7.700 orang dan menewaskan lebih dari 110 orang di AS, termasuk tujuh orang di Florida.

Jika banyak warga kota di AS yang memilih menghabiskan waktu di rumah sesuai anjuran pemerintah, tidak dengan para pelajar muda yang tengah spring break di Miami saat ini.

Mereka masih terlihat asyik berenang, berjemur, sampai kongko di sekitar pantai, meski sejumlah tempat publik di sana saat ini wajib tutup setelah matahari terbenam.

Foto dan video viral yang menunjukkan pelajar-pelajar itu sedang asyik berpesta di Miami memicu reaksi netizen di media sosial.

Bahkan Presiden Donald Trump mengkritik pelancong muda di sana saat menggelar konferensi pers Rabu (18/3).

Dia memperingatkan mereka, bahwa mereka bisa membuat orang lain dalam risiko terinfeksi virus yang menular dan dapat mematikan itu.

"Kami tidak ingin mereka berkumpul," katanya.

"Dan saya melihat mereka berkumpul, termasuk di pantai dan termasuk di restoran."

[Gambas:Instagram]

Tidak terkalahkan

Menanggapi penyebaran virus corona, pemerintah kota Miami Beach mengambil langkah untuk mengakhiri musim pesta tahun ini.

"Anda harus memikirkan orang yang ada di sekitar dan bahkan orang yang tidak Anda kenal," kata Walikota Miami Beach Dan Gelber pada Selasa (17/3) mengenai kehadiran spring-breakers di kotanya.

"Kalian harus menghentikan kegiatan semacam ini sekarang," katanya.

Pemerintah kota Miami meminta bar, kelab malam, dan pusat kebugaran untuk menutup pintu mereka sejak Selasa (17/3) pukul 23.00 sampai pemberitahuan lebih lanjut, dengan restoran hanya dapat menjual makanan untuk dibawa pulang.

Kelompok lebih dari 10 orang dilarang berkerumun di taman dan pantai.

Pesta Pora Tahunan Pelajar Muda di Miami yang Harus UsaiTuris berusaha masuk Pantai Miami yang telah ditutup sebagai antisipasi penyebaran virus corona. (AFP/CHANDAN KHANNA)

Tetapi keesokan harinya, turis muda yang mendominasi South Beach tampaknya tidak ada yang mengindahkan instruksi tersebut.

Shelly Hill, seorang siswa berusia 21 tahun yang tinggal di negara tetangga Georgia, terlihat frustrasi bersama lima temannya di sudut jalan, mencoba mencari tahu apa yang harus dilakukan.

"Banyak tempat ditutup," kata Hill kepada AFP.

"Pada saat yang sama, orang perlu merasa aman dan mendapat karantina, karena penyebarannya sangat cepat. Jadi, saya tidak bingung. Perasaan saya campur aduk sekarang," kata Hill.

Kelompoknya lalu memutuskan pulang.

Tutupnya tempat kongko di Miami akibat virus corona dikeluhkan oleh pelayan yang biasanya mendapat tip dari tamu sebesar 18 persen sampai 20 persen.

Pekerja Pizzeria, Arquimedes Blandone, duduk di luar restoran di salah satu jalan tersibuk di South Beach, terlihat bosan dan sedang merokok.

Tidak banyak yang bisa dia lakukan sekarang.

"Semuanya sangat serius," kata pria berusia 33 tahun itu.

"Ini adalah hari terburuk yang kami alami sejak kami buka setahun yang lalu."

Restorannya biasanya tutup pukul 03.00, menyediakan pizza untuk para pengunjung pesta yang mabuk dan masih berkeliaran di sekitar Pantai Miami hingga larut malam.

Tapi sekarang mereka harus tutup paling lambat pukul 22.00.

"Kota ini benar-benar mati. Benar-benar mati."

[Gambas:Video CNN]

(AFP)