Mengenal Herd Immunity, Cara yang Disebut Bisa Tekan Covid-19

Tim, CNN Indonesia | Senin, 23/03/2020 21:15 WIB
Mengenal Herd Immunity, Cara yang Disebut Bisa Tekan Covid-19 Ilustrasi: Penanganan pasien Covid-19. Herd Immunity disebut-sebut di tengah upaya mengerem laju penyebaran virus jenis baru atau SARS-CoV-2. (Foto: AP/Luca Bruno)
Jakarta, CNN Indonesia -- Istilah herd immunity mengemuka dan populer beberapa waktu terakhir. Herd immunity disebut-sebut sebagai cara yang dapat menyetop penyebaran infeksi virus corona atau Covid-19. Pemerintah Inggris bahkan sempat mencanangkan membentuk herd immunity, walaupun kemudian diklarifikasi sebagai konsep ilmiah.

Herd immunity tersebut pernah dianggap berhasil mengakhiri penyebaran zika pada 2017 di Salvador, Brasil.

Kekebalan kelompok atau yang disebut herd immunity merupakan bentuk perlindungan tidak langsung dari penyakit menular. Namun kondisi ini baru akan terjadi ketika sebagian besar populasi kebal terhadap infeksi, sehingga mampu menciptakan perlindungan bagi individu yang tidak kebal.


Kebal terhadap infeksi, dalam hal ini, bisa didapat melalui pernah terpapar infeksi atau vaksinasi. Karena hingga kini vaksin untuk virus corona belum ditemukan, maka herd immunity bisa terjadi ketika banyak orang kebal terhadap virus karena sudah terpapar atau terinfeksi.


Dikutip dari MIT Technology Review, herd immunity pada virus corona bisa terbentuk ketika sudah cukup banyak orang yang terinfeksi SARS-CoV-2. Artinya, virus terus dibiarkan menyebar sehingga banyak orang terinfeksi dan jika bertahan hidup akan kebal.

Sehingga jika sudah begitu, wabah akan hilang dengan sendirinya. Sebab ketika banyak orang yang kebal, virus akan semakin sulit menemukan inang yang rentan dan penyebaran akan berhenti secara alami.

Kekebalan pada seseorang muncul saat terinfeksi virus, lalu sembuh ketika sistem kekebalan tubuh berhasil melawan virus tersebut. Orang tersebut akan kebal terhadap virus karena sistem imun mereka sudah memiliki antibodi untuk melawan virus.

Namun, konsep ini dinilai mengerikan karena akan membiarkan banyak orang terinfeksi lebih dulu dan akan banyak pula orang yang meninggal dunia. Untuk bisa mencapai herd immunity, para ahli memperkirakan dibutuhkan lebih dari 50 persen populasi yang terinfeksi.

Mengenal Herd Immunity, Cara yang Disebut Bisa Tekan Covid-19Foto: CNN Indonesia/Fajrian


"Mirip dengan pandemi flu tahun 1918, dan itu menyiratkan bahwa akhir dari epidemi ini akan membutuhkan hampir 50 populasi yang kebal, baik dari vaksin atau dari infeksi alami," kata Ahli epidemiologi Harvard University Marc Lipsitch.

Virus corona diperkirakan mampu menularkan pada 2-2,5 orang, sehingga berdasarkan perhitungan matematis dibutuhkan 60-70 persen orang yang terinfeksi. Berbeda dengan campak yang menjadi penyakit dengan penularan paling cepat yakni 12 orang membutuhkan 90 persen orang kebal untuk mencapai herd immunity.

Di sisi lain, tingkat kekebalan orang yang sudah dinyatakan sembuh dari corona juga belum dapat dipastikan. Saat ini lebih dari 100 ribu orang di dunia dinyatakan sembuh dari virus corona. Kemungkinan besar mereka akan kebal dari virus walaupun bisa juga tidak kebal karena virus bersifat dinamis dan dapat terus berubah.


"Saya akan terkejut, tetapi tidak sepenuhnya terkejut, jika orang tidak menjadi kebal," kata ahli penyakit menular di University of Maryland, Myron Levine.

Sementara ahli molekuler Ahmad Rusdan Handoyo Utomo sempat menyinggung soal herd immunity dalam diskusi daring "Meliput Covid-19" yang digelar pekan lalu. Terkait penanganan virus corona ini, ia mengatakan lebih memilih pendekatan aggressive testing jika dibandingkan dengan herd immunity.

Pernyataan itu ia utarakan ketika ditanya soal perbandingan strategi menekan sebaran virus Covid-19 di antara kedua cara itu.

"Pendekatan [herd immunity] ini betul-betul radikal. Apa landasan berpikirnya, ini terkait sudah kelabakannya fasilitas kesehatan, seperti di Itali. Jadi, sekarang Eropa memikirkan, sudah biarkan saja yang tidak punya harapan hidup itu mati," tutur Ahmad melalui pesan suara.

"Artinya apa, orang itu memang tidak punya imunitas yang cukup, sehingga daripada membebani dia mending mati saja sehingga menyisakan orang-orang yang survive--ini sudah terseleksi secara alami. Ini radikal sekali," kata dia lagi.

Sedangkan pendekatan aggressive testing atau pengetesan massal secara agresif dianggap lebih manusiawi dan menghasilkan rencana penanganan yang lebih matang. Konsep ini akan melakukan pengetesan sebanyak mungkin dan mengelompokkan siapa saja yang positif terjangkit, lantas ditangani.


"Saya sih cenderung ke aggressive testing, karena kita tahu, sains tidak berdiri sendiri. Karena sebagai bangsa, kita punya value," kata Ahmad yang juga peneliti utama di Stemcell and Cancer Institute KalGen Laboratory Kalbe tersebut.

Kendati, memang ia mengakui masing-masing pendekatan menyimpan untung dan ruginya. Tes sebanyak-banyaknya misalnya, juga memerlukan biaya yang mahal.

"Kalau herd immunity itu kan kesannya memang tidak ada planning di awal. Dan kesannya juga, ada ekonominya. Karena kan kalau di Eropa, setiap pasien masuk ICU itu kan harus dibayar oleh negara dan negara merasa kewalahan, sudah kemahalan. Yasudah biarkan saja mati," jelas Ahmad lagi.

Berdasarkan data John Hopkins University, hingga Senin (23/3) ada lebih 350 ribu orang yang terinfeksi Covid-19 di seluruh dunia. Angka kematian mencapai lebih dari 15 ribu orang sementara lebih 100 ribu orang berhasil sembuh.

Pada awal Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan tingkat kematian virus corona sekitar 3,4 persen.

[Gambas:Video CNN]

(ptj/NMA)