Pandemi Corona dan Kisah Tuna Netra yang Terabaikan

Tim, CNN Indonesia | Senin, 30/03/2020 15:00 WIB
Wabah corona mengubah sebagian rutinas harian Aria Indrawati. Bukan itu saja, ia juga ikut was-was akan kondisi sesama rekan tunanetra. Ilustrasi: Waspada virus corona di Jakarta. Wabah corona mengubah sebagian rutinas harian Aria Indrawati. Bukan itu saja, ia juga ikut was-was akan kondisi sesama rekan tunanetra. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aria Indrawati (55) anteng menunggu tak jauh dari tukang sayur langganannya. Dari penglihatan yang tersisa 10 hingga 15 persen itu, lamat-lamat diamatinya ibu-ibu yang mengantre dan memilih kebutuhan dapur. Kalau kerumunan mereda, ia baru mendekat ke tukang sayur langganannya.

Saban dua hari sekali, ia memang membeli kebutuhan dapur di sana. Jika biasanya Aria cuek saja berdesakan dengan yang lain. Ini kali tak begitu.

Imbauan pemerintah untuk menjaga jarak dan menghindari kerumunan ia camkan betul. Aria mencoba tertib.


"Saya berusaha nggak dekat-dekat kerumunan. Kalau mau ambil sesuatu di tukang sayur, ya saya tunggu agak lega dulu. Takes more time sih, karena saya memilih enggak berkerumun, tapi ya enggak apa-apa," kata dia kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.

Sejak virus corona jenis baru atau SARS-CoV-2 sampai ke Indonesia, sejumlah cara diupayakan untuk mengerem laju penyebarannya. Di antaranya dengan menjaga jarak fisik serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti, mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun.


Kasus positif diumumkan Presiden Joko Widodo pertama kali pada awal Maret 2020. Virus corona penyebab Covid-19 ini memunculkan gejala menyerupai flu--tapi bukan flu. Penderitanya akan demam lebih 38 derajat celcius, batuk hingga sesak napas. Tapi ada juga yang terinfeksi tapi tak menunjukkan gejala. Biasanya ini karena daya tahan tubuh yang kuat.

Aria tahu informasi tersebut. Itu sebab sejak wabah menjalar, ia lebih rajin jalan-jalan pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB. Sekitar 30 hingga 45 menit setiap hari.

"Ini kan juga dalam rangka meningkatkan daya tahan tubuh. Saya jalan pagi lebih sering. Karena jalanan juga sepi, jadi kalau untuk tunanetra, morning walk itu lebih aman," ia menjelaskan.

Lagipula toh, bila sekadar olahraga ringan di areal sekitar rumahnya, Aria tak memerlukan pendamping. Ia sudah hapal betul kawasan di bilangan Jakarta Selatan tersebut.

"Kan lingkungannya saya sudah kenal, orang-orang yang ada di lingkungan kan juga sudah tahu saya tunanetra. Tapi kalau saya pergi ke suatu tempat yang masih asing, saya harus dengan pendamping," sambung dia lagi.

Jika biasanya setelah jalan pagi ia mampir ke pasar dan pulang naik angkutan umum, kini rutinitas itu ditinggalkan. Aria memilih jalan kaki sekalipun jauh.

"Biasanya kalau pulang jalan pagi lalu belanjaan berat, saya naik angkot Jaklingko, sekarang saya jalan terus pokoknya. Nggak mau naik angkot, biarin enggak apa-apa. Daripada berisiko. Sekalian membakar lemak," ucap dia diikuti tawa.

Keseharian yang Berubah sampai Was-was Nasib Sesama TunanetraFoto: CNN Indonesia/Fajrian


Selain tiga hal itu--menjauhi kerumunan saat belanja di tukang sayur, lebih rajin jalan kaki pagi hari juga menghindari angkutan umum--ia merasa tak banyak yang berubah dari kesehariannya sejak corona ditetapkan sebagai pandemi. Oh tapi, satu lagi, sudah sepekan ia bekerja dari rumah atau work from home.

Work from home juga berarti dia tak butuh pendamping untuk menemaninya beraktivitas dan ini hal ini juga sekaligus menerapkan imbauan physical distancing. Namun, kata dia, tak masalah jika teman-teman tuna netra lainnya masih membutuhkan bantuan pendamping, asalkan mereka tetap menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat termasuk mencuci tangan dengan sabun sampai bersih setelah kontak langsung dengan pendamping. 

Yayasan Mitra Netra dan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) tempat ia berkegiatan, sejak 20 Maret 2020 menerapkan work from home. Yayasan dan organisasi pemberdayaan para tunanetra ini tak lagi membuka layanan tatap muka. Seluruh kegiatan dilakukan secara daring atau online, termasuk pelayanan.

Mulanya staf memang masih masuk, tapi kondisi yang memburuk membuat organisasi mempertimbangkan faktor keselamatan. Apalagi mengingat, kedua kantor terletak di wilayah Jakarta Selatan-yang ditandai sebagai zona merah corona.

"Ya pasti berbeda [kerja dari rumah], karena koordinasi ada delay, kami harus janjian dulu. Kalau di Mitra Netra itu kan ketua yayasan suka rapat mendadak, sekarang, ya nggak bisa. Kalau mau rapat atau diskusi, harus janjian dulu. Ada prosedur yang pasti berbeda," terang Aria yang menjadi salah satu pengurus di Yayasan Mitra Netra tersebut.

Perempuan yang menjabat sebagai Ketua Umum Pertuni ini telah mengimbau anggotanya untuk terus memperbarui informasi mengenai Covid-19 demi kewaspadaan. Meski, ia juga melontarkan kritik.


'Tak Ramah' Tuna Netra

Untuk pemerataan informasi Covid-19 ini, Aria merasa kelompok tunanetra jadi salah satu disable yang kerap dilupakan--seperti juga tunarungu. Contohnya, saat surat edaran Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tentang imbauan work from home disebarkan dalam bentuk hasil scan. Kelompok tunanetra tak bisa membacanya. Sebab para tunanetra hanya bisa 'mengakses' ketika format dokumen itu berbentuk pdf.

Hal lain ditunjukkan dari pelbagai kampanye pencegahan yang juga disebutnya tak ramah tunanetra.

"Tunanetra masih sering ditinggalkan, informasi yang dimuat di media sosial itu hanya gambar yang tidak disertai teks. Lalu kalau video harus voice over narasi yang menjelaskan," kata dia.

ilustrasi pemijat tunanetraFoto: CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama
ilustrasi pemijat tunanetra


Alhasil, Aria dan organisasinya berinisiatif membuatkan narasi untuk beberapa langkah pencegahan. Salah satunya, kampanye cuci tangan dengan benar. Kendati tetap perlu dicatat pemerintah untuk tak melupakan mereka, deretan problem itu masih bisa dia siasati.

Yang masih perlu dipikirkan di tengah wabah ini sebetulnya, adalah kelompok tunanetra dengan ekonomi rentan. Ia mengungkapkan, dari total 800 anggota Pertuni di DKI Jakarta, 500 di antaranya tercatat memerlukan bantuan untuk jaminan hidup sehari-hari.


"Persoalannya adalah, teman-teman tunanetra dewasa yang less-educated kan pekerjaannya pemijat. Mereka, dengan kondisi ini-yang harus jaga, tidak boleh berinteraksi langsung-kan jadi tidak didatangi customer-nya. Mereka jadi tidak punya penghasilan," ungkap Aria menceritakan keadaan anggotanya.

Sumiati salah satunya, tunanetra yang bekerja sebagai pemijat. Upah memijat ia gunakan untuk mencukupi kebutuhan harian dirinya dan keluarga.

Tapi wabah, kecemasan warga, juga imbauan menjaga jarak membuat periuk nasinya terganggu.

"Dalam kondisi biasa, penghasilan saya per hari rata-rata Rp150.000. Namun dengan adanya virus corona, saya hanya mampu menghasilkan Rp240.000 per hari," tutur Sumiati kepada CNNIndonesia.com melalui keterangan tertulis.

Saat ini, pengguna jasa Sumiati enggan mengontak. Kalaupun masih ada yang perlu jasanya, pelanggan akan menyambangi kontrakan Sumiati. Tapi itu pun, sepekan paling banter empat orang.

"Sejak ada anjuran itu [menjaga jarak fisik], saya tidak lagi menerima panggilan untuk memijat di rumah pelanggan. Saya hanya bisa menunggu pelanggan datang di rumah ... dengan tarif Rp60.000 per orang," tutur dia.

[Gambas:Video CNN]

(NMA/chs)