Pentingnya Kelola Stres Saat Hadapi Wabah Corona

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 01/04/2020 11:54 WIB
Pentingnya Kelola Stres Saat Hadapi Wabah Corona Ilustrasi: Ahli menyebut isolasi saat pandemi corona jadi salah satu faktor pemicu bunuh diri. Manajemen stres, bisa dilakukan untuk mencegah itu. (Foto: Milada Vigerova)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pandemi virus corona (SARS-CoV-2) selain menyerang kesehatan fisik, juga berdampak pada kesehatan jiwa. Ahli kejiwaan merekomendasikan untuk tetap menjaga 'kewarasan' dengan menjaga ketenangan batin, menghindari kepanikan berlebihan, dan mengelola stres dengan cara yang benar. 

Manajemen stres dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan yang positif dan menyenangkan diri. Lakukan pula aktivitas yang berhubungan dengan orang lain dengan memanfaatkan teknologi seperti menelepon, video call, media sosial, dan bermain game online. Menjaga ketenangan batin, misalnya dengan meditasi, berdoa, dan tetap bergerak dengan aktif di rumah misalnya bekerja giat, melakukan hobi, membereskan rumah, bermain dengan anak, bahkan berkebun dan memasak juga bisa jadi cara untuk mengelola stres di tengah masa penuh kecemasan, stres, depresi, seperti saat ini.

Apa pentingnya menjaga kesehatan mental dan mengelola stres saat ini? 


Dokter spesialis kesehatan jiwa psikiater Nova Riyanti Yusuf mengungkapkan pandemi yang dialami saat ini bisa membuat orang cemas, stres, depresi, hingga memicu bunuh diri. 

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan orang bunuh diri di tengah wabah corona. Salah satu pemicu adalah isolasi selama pandemi.

"Isolasi adalah pemicu utama. Juga ketakutan tertular Covid-19, kehilangan pekerjaan, dan melihat orang-orang terdekat sakit bahkan meninggal karena Covid-19," kata Nova dalam keterangan yang diterima CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Hingga saat ini, di dunia terdapat tiga kasus bunuh diri karena Covid-19. Pertama, seorang perawat berusia 34 tahun di Italia yang takut menularkan virus Covid-19 kepada orang lain.


Kedua, Menteri Keuangan Negara Bagian Jerman Hesse, Thomas Schaefer (54) yang diduga khawatir akan dampak ekonomi Covid-19. Dan ketiga, remaja di Inggris yang tertekan karena isolasi di rumah.

Demi mengerem laju penyebaran virus Covid-19, ahli kesehatan dan otoritas di berbagai negara menerapkan kebijakan isolasi mandiri. Kondisi ini menurut Nova, pada sebagian orang bakal mengakibatkan kecenderungan rasa kesepian, lebih tertekan, dan tidak memiliki hubungan sosial.

Nova pun menjelaskan isolasi yang berkepanjangan dengan situasi serba tak menentu membuat seseorang berada dalam kungkungan. Kata dia, manusia yang tegar dan kuat sekalipun, dapat merasakan behavioral disengagement dan mental disengagement.

Behavioral disengagement adalah kondisi saat seseorang kurang berusaha dalam menghadapi tekanan atau stresor. Orang tersebut dapat menyerah atau menghentikan usaha untuk mencapai tujuan karena terganggu oleh stresor. Kondisi tersebut juga bisa dikatakan sebagai wujud ketidakberdayaan.

Ahli Jelaskan Kaitan Bunuh Diri dan Isolasi saat Wabah CoronaFoto: CNN Indonesia/Laudy Gracivia


Sedangkan mental disengagement adalah kondisi melarikan diri dari masalah dengan cara melamun, mengkhayal, tidur, atau terpaku menonton TV.

Menurut Nova, selain isolasi, terdapat faktor lain penyebab bunuh diri yang berbeda pada setiap orang. Misalnya, gangguan jiwa, genetik, kepribadian, psikososial, faktor nasional dan global.

Pada masa isolasi, pencegahan untuk bunuh diri juga akan lebih sulit lantaran membutuhkan hubungan sosial dengan orang lain.

"Pencegahan bunuh diri biasanya dilakukan dengan koneksi sosial, sementara untuk membatasi penyebaran Covid-19 diterapkan physical distancing (jaga jarak fisik). Tidak ada kehangatan untuk saling memeluk, saling mengobrol empat mata," tutur Nova yang merupakan Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa DKI Jakarta.


Angka bunuh diri karena pandemi Covid-19 diprediksi bakal terus meningkat. Studi pada kasus SARS di Hong Kong tahun 2020 mendapati keterbatasan interaksi sosial, stres, dan kecemasan menyebabkan angka bunuh diri yang tinggi. Selain itu, terdapat hubungan antara pengangguran dan angka bunuh diri yang tinggi.

"Mengingat, Covid-19 masih belum bisa dibasmi dan proses physical distancing akan berlangsung entah sampai kapan sehingga dampak ekonomi akibat berhentinya roda kehidupan manusia tak terhindarkan," kata Nova.

Untuk mencegah bunuh diri selama masa isolasi di rumah saat pandemi, Nova menyarankan setiap orang untuk melakukan manajemen stres dan beradaptasi dengan physical distancing.

Dalam kondisi pandemi ini, menurut Nova, penting pula untuk memikirkan dukungan konkret terkait kesehatan jiwa.

[Gambas:Video CNN]

Masalah depresi jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, Anda disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu, misalnya saja Into The Light (pendampingan.itl@gmail.com) untuk penduduk Jabodetabek, atau Inti Mata Jiwa untuk penduduk Yogyakarta dan sekitarnya (intimatajiwa@gmail.com), bisa pula menceritakan berbagai kondisi mental well being ke email Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa DKI Jakarta (pdskjijaya.covid19@gmail.com).
(ptj/NMA)