SURAT DARI RANTAU

Berdamai dengan WFH Selama Lockdown di Italia

Firda Fadhilah, CNN Indonesia | Sabtu, 04/04/2020 14:57 WIB
Siapa sangka saat WFH saya bisa merasa sangat bahagia kala mendengar buah hati berhasil mengucapkan satu kata baru. Ilustrasi WFH (Pixabay/kropekk_pl)
Lombardia, CNN Indonesia -- Hari Kamis (2/4) adalah hari ke-39 saya dan kurang lebih 1 juta warga di Milan, Italia, menjalani karantina mandiri di rumah setelah pemerintah menyatakan negara dalam kondisi lockdown.

Hingga saat ini, Italia menjadi negara nomor satu kasus Covid-19 terbanyak di Eropa dan terbanyak kedua di dunia.

Kurang lebih sebulan yang lalu, tepatnya Jumat, 21 Februari 2020, saya masih melaksanakan penelitian di laboratorium seperti biasa. Meneliti tentang sel kanker, saya berkesempatan magang di sebuah rumah sakit besar di pusat kota Milan, di laboratorium Oncology and Hemoto-oncology.


Magang di laboratorium adalah cara saya memenuhi syarat tugas akhir. Saya mengambil jurusan Bioteknologi Molekuler di University of Milan.

Berkat dukungan beasiswa DSU dari Kementerian Pendidikan Italia dan Pemerintah Lombardia, sampailah saya di semester akhir pendidikan magister ini.

"Ci sono 3 persone positive di Covid-19 a Lodi!" seru teman saya, seorang teknisi lab yang memang berasal dari Milan. Ia terkejut akan adanya tiga orang positif Covid-19 di daerah Lodi (40km dari Milan). Berita ini menjadi bahasan top di hari itu.

Saya tetap berpikir positif bahwa kasus ini tidak akan bertahan lama mengingat sistem kesehatan di Italia yang mumpuni. Meleset, ternyata Senin (24/02), kasus melonjak dari tiga menjadi 150 dalam tiga hari! Sejak itulah Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte menerapkan status karantina di rumah berikut lockdown negara. 

Semua orang diminta berdiam di dalam rumah, hanya boleh keluar jika ada urusan darurat atau penting.

Penelitian termasuk kegiatan esensial menurut dekrit lockdown yang diterbitkan. Namun, apa boleh buat, laboratorium tempat saya magang membatasi personel yang bekerja. Diutamakan untuk teknisi yang bekerja untuk diagnostik kanker.

Berdamai dengan WFH Selama Lockdown di ItaliaTransportasi publik masih tersedia, namun penumpangnya dibatasi sehingga suasananya sangat sepi. (Dok. Firda Fadhilah)

Saya tinggal di rumah. Mengasuh anak saya yang masih berusia 17 bulan sembari work from home (WFH). Mengerjakan laporan, berkirim surel, dan berdiskusi dengan asisten dan professor melalui daring. Hanya keluar rumah untuk ke supermarket.

Tidak mudah memang melaksanakan peran ganda, menjadi full-time mom sambil bekerja di rumah. Lelah yang luar biasa secara fisik dan mental terjadi pada saya di awal masa lockdown.

Hingga minggu ketiga lockdown, usaha WFH tetap saya lakukan. Perlahan, saya mulai memahami pola aktivitas anak. Saya dan suami sepakat mengatur jadwal giliran bekerja. Kami mendisiplinkan diri dan mulai bisa beradaptasi dengan metode smart working ini.

Minggu keempat, saya mulai menikmati bekerja dari rumah. Selain itu, ternyata banyak hal-hal positif yang dirasakan. Yang paling terasa adalah waktu dengan keluarga menjadi lebih berkualitas. Saya merasakan kebahagiaan luar biasa ketika bisa mendampingi tumbuh kembang anak.

Hal-hal sederhana seperti melihatnya takjub dengan mesin cuci yang berputar, bermain mobil-mobilan sambil berceloteh, dan mengucapkan satu kata baru adalah momen yang luar biasa! Ia menginjak 18 bulan di minggu keempat masa lockdown ini, beralih dari bayi menjadi toddler.

Kami berjanji mengajaknya main di taman jika lockdown sudah berakhir. Namun sepertinya kami harus menunda lagi karena dekrit terbaru pada Rabu (01/04) menyatakan masa lockdown diperpanjang hingga 13 April 2020.

Berdamai dengan WFH Selama Lockdown di ItaliaBermain bersama anak menjadi kegiatan di sela WFH. (Dok. Firda Fadhilah)

Karena di rumah saja, kreatifitas untuk menciptakan permainan ala-ala DIY (do it yourself) juga terasah. Misalnya, kotak pos dari kardus sereal, rumah-rumahan dari seprai, dan sensory play dari bahan bahan yang tersedia di dapur.

Tidak perlu yang rumit dan mahal. Biasanya saya mencari inspirasi dari Youtube. Sebut saja BabyCentre, MultiCare Health System, Help Me Grow MN, Keluarga Kita, Indonesia Baik ID, dan lainnya.

Kesenangan bertambah karena kesempatan untuk menghubungi keluarga di Indonesia menjadi lebih banyak. Kesempatan langka yang biasanya hanya bisa dilakukan singkat di akhir pekan karena terkendala perbedaan waktu.

Yang ingin saya sampaikan, WFH dapat menjadi tantangan yang luar biasa bagi sebagian orang. Namun, bukan berarti tidak bisa kita taklukan! Kuncinya adalah keinginan untuk berpikir positif dan usaha untuk beradaptasi dengan kondisi. Saya pun masih terus belajar untuk hal ini.

Bersyukur, selama masa lockdown ini saya menyelesaikan draft final untuk thesis magister, suami menyelesaikan target pekerjaannya, dan anak saya mendapat perhatian lebih dari orang tuanya.

Berdamai dengan WFH Selama Lockdown di ItaliaPengunjung supermarket juga ikut dibatasi dan wajib berjarak. (Dok. Firda Fadhilah)

Saya tidak mengatakan semua harus work from home, tidak. Pemerintah Italia saja tidak menerapkan WFH untuk pekerjaan tertentu.

Misalnya, transportasi publik termasuk taksi, penyedia informasi dan komunikasi, pekerja pos dan kurir, pekerja pabrik, dan sebagainya yang dianggap esensial.

Saya akui, mereka adalah pahlawan masyarakat, tetap bekerja di luar rumah di tengah wabah Covid-19 ini.

Dari pengalaman satu bulan menjalani work from home, saya menarik satu kesimpulan. Tidak semua orang mendapat kesempatan untuk bekerja dari rumah.

Bagi sebagian orang yang mendapat kesempatan untuk WFH, ini adalah kesempatan emas untuk memantik kembali suasana kekeluargaan di rumah yang mungkin sempat redup ketika sibuk bekerja di luar.

-

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi sdr@cnnindonesia.com

[Gambas:Video CNN]

(ard)