Kata 'betutu' berasal dari kata 'tunu' yang berarti bakar dan kata 'be' yang berarti daging. Secara harfiah, betutu artinya daging yang dibakar. Ayam atau bebek utuh dilumuri dengan bumbu khas Bali yang disebut dengan base genep.
Bumbu umumnya terdiri dari, bawang merah, terasi, cabai rawit, daun limau, daun salam, minyak kelapa, kunyit, lengkuas, jahe, serai, gula merah, kencur, kemiri, dan bawang putih. Selain itu juga terdapat bumbu wewangenan seperti, merica hitam, cengkih, merica putih, tabia bun, ketumbar, kemiri, pala, kemenyan, jangu, bangle, dan kulit jeruk purut. Bumbu pun dimasukkan ke dalam rongga abdomen ayam atau bebek. Setelah dilumuri, daging pun siap dibakar atau direbus hingga wangi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:VLOG: Mencicipi Serombotan Khas Bali |
Fadly menyebut ayam betutu awalnya hanya berlaku di praktik ritual atau upacara adat. Ayam betutu memang disajikan di rangkaian upacara odalan, otonan maupun perkawinan. Namun kini hidangan ini sudah bertengger di meja-meja warung makan hingga restoran.
Dia menilai, ayam betutu sangat mampu beradaptasi dan bersaing dengan kuliner kekinian. Ini juga berkat kemasan dan penyesuaian dengan kebutuhan.
"Secara tradisional, daging ayam atau bebek dilapisi daun pinang, disekam di dalam tanah, (di atasnya diberi batu) panas, 8-10 jam. Seiring perkembangan zaman, sebagian tidak memakai teknik tradisional. Sekarang ada alat presto yang bisa memproses kematangan daging hanya 5 jam," jelas Fadly dalam video unggahan Televisi Edukasi milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Akan tetapi, tak jarang yang masih mempertahankan teknik tradisional. Menurutnya, perpaduan teknik asli dan bumbu khas yang masih dipertahankan jadi ciri eksotisme tersendiri. (els/chs)