Agar Anak Tak Berlebihan Pakai Internet dan Gawai Saat PSBB

tim, CNN Indonesia | Minggu, 26/04/2020 08:52 WIB
Pretty kid playing game smartphone indoor Selama masa pandemi corona, sekolah diliburkan dan anak-anak diminta untuk belajar online di rumah. Namun ini bukan alasan untuk membebaskan anak main internet.(Istockphoto/LDProd)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selama masa pandemi corona, sekolah diliburkan dan anak-anak diminta untuk belajar online di rumah.

Namun usai belajar, anak-anak seringkali masih ingin bermain di luar, atau bahkan jadi ketagihan karena bisa mengakses internet untuk menonton video kesukaan mereka.

Spesialis Perlindungan Anak, UNICEF Indonesia, Astrid Gonzaga Dionisio, mengatakan orang tua perlu membuat kesepakatan bersama anak agar tidak berlebihan menggunakan internet saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di mana anak harus belajar dari rumah.


"Sebaiknya orang tua membuat kesepakatan dengan anak, karena anak juga harus bersosialisasi dengan keluarga, melakukan kegiatan perilaku sehat bersih, waktu ibadah. Orang tua harus menentukan kapan anak dapat melakukan akses internet dan apa saja konten yang bisa diakses itu penting," ujar Astrid dalam konferensi pers daring, dikutip dari Antara.

Salah satu caranya adalah dengan melakukan pembatasan akses pada internet, aplikasi, atau penerapan family pairing atau settingan internet ramah anak. Orang tua juga sebaiknya mendampingi anak ketika anak mengakses internet.

Berdasar riset UNICEF pada 2019, dia menyebutkan sebanyak 98,3 persen anak dan remaja memiliki akses ke perangkat seluler.

Penelitian UNICEF tersebut juga menunjukkan bahwa 90,7 persen di antara anak dan remaja yang menggunakan smartphone mendapat akses internet yang digunakan untuk mengakses media sosial, game online atau menonton film streaming.

"Indonesia salah satu negara dengan jumlah anak pengguna internet terbanyak," kata Astrid.

Data 2019 tersebut juga menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja menghabiskan lima jam dalam sehari untuk mengakses internet saat bukan hari libur, dan tujuh jam sehari pada hari libur. Angka ini diyakini meningkat saat pandemi seperti saat ini.



Tingginya paparan terhadap internet, menurut Astrid juga meningkatkan risiko anak terkait agresi kekerasan terhadap diri sendiri. Anak juga terpapar kekerasan, termasuk kekerasan seksual, yang berujung pada eksploitasi terhadap anak, bukan hanya eksploitasi untuk mendapat keuntungan, tetapi juga komersial, seperti pornografi.

"Bagi orang tua tidak ada kata telat, terlambat atau gaptek mari belajar internet agar bisa mendampingi anak, dan jadilah pendengar teman bagi anak remaja, baik itu online atau offline, baik cerita permasalahannya sehari-hari, atau yang menyenangkan," ujar Astrid.

Cara batasi gawai dan internet pada anak


1. Mengaktifkan kontrol orang tua

Orang tua harus memasang fitur 'kontrol orang tua' pada telepon pintar sebelum digunakan anak. Fitur ini dapat membatasi hal-hal yang boleh diakses oleh anak selama menggunakan gadget. Orang tua juga dapat memantau aktivitas anak.

2. Jangan beri gawai

Jangan diberikan anak kepemilikan gawai, tapi dipinjamkan dengan persyaratan atau perjanjian. Misalnya, kalau nanti ada apa-apa gadget akan diambil kembali.  Dengan begitu, orang tua masih memiliki hak untuk mengecek gadget milik anak.

3. Sering pantau

Orang tua diminta untuk sering memantau aktivitas anak di gadget dengan memeriksa history ataupun percakapan anak di media sosial. Jika ada yang mencurigakan, sebaiknya beri nasihat pada anak dengan baik.



4. Batasi waktu penggunaan

Penelitian menyebut penggunaan gadget untuk anak maksimal 4 jam 17 menit setiap harinya. Diena menyarankan agar anak hanya diizinkan memegang gadget di siang hari. Sementara, terapkan waktu tanpa gadget pada pukul 6-9 malam.

Agar anak dapat lepas dari gadget, cari kegiatan lain yang lebih bermanfaat seperti kursus di bidang seni atau olahraga sesuai dengan minat anak.

5. Jangan di kamar tidur

Letakkan komputer, laptop atau tablet menghadap ke ruangan jadi kegiatan anak bisa dilihat. (chs)

[Gambas:Video CNN]