Kisah Nabi

Berguru Sabar dan Menahan Amarah dari Kisah Nabi Dzulkifli

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 10/05/2020 17:04 WIB
Ilustrasi Kisah Nabi - Nabi Zulkifli Ilustrasi: Kisah Nabi Dzulkifli mengingatkan setiap calon pemimpin untuk sabar dan mampu menahan amarah. Apalagi setiap hendak memilih keputusan. (Foto: Diolah dari Istock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kisah Nabi Dzulkifli AS tak banyak diceritakan di dalam Alquran. Nama Nabi Dzulkifli setidaknya disebut dua kali yakni dalam Surat Al-Anbiya' dan Sad. Salah satunya menekankan bahwa Nabi Dzulkifli termasuk dalam golongan orang-orang yang sabar.

Kendati tak banyak dikisahkan dalam Alquran, namun Dzulkifli termasuk dalam 25 nabi dan rasul yang wajib diimani umat Islam. Dalam surat Al-Anbiya ayat 85-86 Allah berfirman, "(Ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh". 

Berdasarkan riwayat, Nabi Dzulkifli memiliki nama asli Basyar. Sementara Dzulkifli merupakan julukannya yang berarti, orang yang sanggup memegang amanah.


Dzulkfili adalah putra Nabi Ayub yang selamat dari reruntuhan rumah Nabi Ayub. Ia dikenal sebagai pemuda yang taat beribadah. Bahkan disebut sampai melakukan salat 100 kali sehari.


Sikap sabar dan dermawan yang melekat pada Dzulkifli membuat dia disukai banyak orang.

Dzulkifli tinggal di negeri Rom yang dipimpin oleh seorang Raja yang sudah tua. Sejumlah riwayat menyebut raja itu adalah Nabi Ilyasa.

Raja yang telah renta itu berencana mencari penerus takhta kerajaan. Setelah berunding dengan penasihat kerajaan, Raja pun menggelar sayembara guna mencari penggantinya. Seluruh masyarakat yang berminat diminta hadir di halaman istana.

Nabi Dzulkifli yang mendengar sayembara itu tertarik dan bergabung dengan kerumunan orang di halaman besar tersebut.

Raja lalu mengumumkan sayembara mencari penerus takhta kerajaan dengan persyaratan berpuasa di siang hari, beribadah di malam hari, dan menahan diri dari sifat marah.

Mendengar persyaratan itu, kerumunan pun terdiam. Tak ada yang berani menerima persyaratan tersebut.

Lalu, Nabi Dzulkifli mengangkat tangan seraya berkata bahwa ia menyanggupi seluruh persyaratan itu. Sontak, semua warga terkejut dengan keberanian Dzulkifli lantaran ia masih sangat muda.

Raja memastikan kesanggupan Dzulkifli untuk memimpin kerajaan. Setelah itu, Dzulkifli diangkat menjadi raja.

Ilustrasi Mahkota rajaIlustrasi: Nabi Dzulkifli ikut dalam sayembara menggantikan raja di negeri Rom. (Foto: skeeze/Pixabay)


Ujian Amarah

Saking sabarnya Dzulkifli, setan pun sampai tak suka melihatnya. Hingga pada suatu ketika sekelompok setan menyusun rencana untuk membuat Dzulkifli marah.

Setan menyusun tipu muslihat dengan menyamarkan sebagai lelaki tua dan datang ke istana menemui Dzulkifli.

Setelah memaksa masuk dan berjumpa dengan Dzulkifli, setan itu menyampaikan maksudnya. Setan yang sudah menyamar sebagai lelaki tua itu mengadu, ada seseorang yang menganiayanya. Karena itu ia meminta Dzulkifli untuk menghukum penganiaya tersebut.

Namun, Dzulkifli menolak permintaan tersebut. Dia memberitahu bahwa untuk menyelesaikan persoalan maka perlu keterangan dari kedua belah pihak. Oleh karena itu, Nabi Dzulkifli lantas meminta setan yang menyamar manusia itu untuk datang besok malam bersama dengan orang yang dituduhnya melakukan penganiayaan.

Keesokan paginya, lelaki tua itu datang kembali, tetapi seorang diri.

[Gambas:Video CNN]

Nabi Dzulkifli pun kembali menyampaikan permintaannya untuk menghadirkan pula orang yang dituduh menganiaya. Setan yang menyamar lelaki tua itu diminta datang lagi malam harinya.

Hingga pada hari ketiga orang itu datang kembali. Nabi Dzulkifli tetap sabar menemuinya.

Tapi sebaliknya, setan yang naik pitam karena Nabi Dzulkfli tak kunjung marah. Setan itu akhirnya menampakkan wujud aslinya untuk menakut-nakuti Nabi Dzulkifli.

Nabi Dzulkifli lantas berdoa dan berlindung kepada Allah. Kesabaran Nabi Dzulkifli ini membuatnya diangkat menjadi nabi.


Allah mengutus Dzulkifli untuk memberi peringatan dan mengembalikan kaum Rom yang menyembah berhala kepada jalan kebenaran.

"Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa' dan Dzulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik," firman Allah SWT dalam surat Sad ayat 48.

Dari kisah Nabi Dzulkifli, dapat diambil sejumlah hikmah dan pelajaran. Pertama, untuk menjadi pemimpin, seseorang mesti bijaksana dan taat kepada Allah SWT.

Seorang pemimpin juga mesti adil dan hendaknya tak mengambil sembarang keputusan untuk warganya. Pemimpin juga mesti sabar dan mampu menahan marah untuk dapat mengambil keputusan yang tepat. Sebab selama memimpin, ada kalanya bakal banyak rintangan yang ditemui sehingga dibutuhkan kesabaran dan pikiran jernih yang bebas dari amarah untuk melewatinya. (ptj/NMA)

[Gambas:Video CNN]