Survei: Kelestarian Alam, Fokus 'New Normal' Turis Usai Covid

CNN Indonesia | Senin, 11/05/2020 15:36 WIB
Kawasan Taman Nasional Baluran, Banyuwangi, Jawa Timur. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono Kawasan Taman Nasional Baluran. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pascapandemi virus corona sejumlah pakar memprediksi terjadi lonjakan turis domestik dan mancanegara di dunia. Namun kondisi new normal (normalitas yang baru) juga ikut mengiringi.

Kondisi new normal termasuk semakin ketatnya pemeriksaan kesehatan bagi turis hingga aturan jarak sosial di tempat yang ramai.

"Orang-orang masih ingin bepergian, tetapi mereka tentu akan jauh lebih berhati-hati," kata Adam Blake, seorang profesor ekonomi dan kepala penelitian di Departemen Pariwisata dan Perhotelan di Universitas Bournemouth di Inggris, seperti yang dikutip dari CNN Travel pada Rabu (1/4).


Begitu juga dengan urusan tarif. Para pakar memprediksi tarif transportasi bakal lebih murah demi mendatangkan lebih banyak penumpang sebelum akhirnya nanti merangkak naik.

Kondisi new normal juga telah dibayangkan oleh turis Selain faktor harga dan kesehatan, ternyata mereka juga menginginkan adanya perubahan yang lebih baik yang lain di industri pariwisata Indonesia pascapandemi ini.

Dalam survei yang dilakukan CNNIndonesia.com pada Rabu (6/5), sebanyak 48,1 persen dari total 902 suara yang masuk menyatakan bahwa kebersihan lingkungan patut masuk dalam agenda new normal dalam pariwisata Indonesia.

Kebersihan lingkungan di tempat wisata selama ini memang menjadi isu yang sering dikeluhkan turis, mulai dari tumpukan sampah sampai rusaknya terumbu karang.

Staf bidang konservasi Kemenparekraf, Frans Teguh, juga telah mengimbau agar pelaku usaha wisata bisa membenahi urusan kebersihan dan kelestarian lingkungan selama aturan pembatasan perjalanan saat ini.

Sehingga saat pembukaan kembali, turis bisa berwisata di tengah alam Indonesia yang tetap asri.

"Pariwisata berkelanjutan akan jadi konsekuensi dari bagian pengembangan pariwisata di masa depan," katanya dalam acara diskusi daring pada Senin (4/5).

Usaha menjaga kebersihan dan kelestarian alam tempat wisata bukan hanya pekerjaan rumah pemerintah atau pelaku usaha, turis pun bertanggungjawab.

Contoh kasus yang nyata ialah beningnya kanal-kanal di Venesia setelah pandemi virus corona membuat Italia melakukan lockdown.

Kosongnya turis, yang selama ini diduga menjadi sumber limbah dan ramainya lalu lintas gondola, membuat aliran air di sana jadi jauh lebih bersih.

A general view shows clear waters of the Grand Canal near the Rialto Bridge in Venice on March 18, 2020, as a result of the stoppage of motorboat traffic, following the country's lockdown within the new coronavirus crisis. (Photo by ANDREA PATTARO / AFP)Jernihnya air di kanal-kanal Venesia setelah Italia memberlakukan lockdown. (AFP/ANDREA PATTARO)


Lalu sebanyak 21,3 persen suara dalam survei CNNIndonesia.com mengharapkan pembenahan akses transportasi di destinasi wisata Indonesia.

Mari kita membandingkan mudahnya akses transportasi di negara lain, seperti Singapura, Jepang, atau Korea Selatan. Di sana setelah turun dari pesawat, turis bisa langsung naik bus atau kereta menuju objek wisata.

Indonesia seharusnya bisa meniru konsep tersebut sehingga turis bisa mendapat kejelasan soal jadwal dan harga transportasi untuk keliling destinasi wisata.

Minimal transportasi lokal terorganisir dengan sistem harga yang transparan, tanpa perlu khawatir ditipu.



Pembenahan ke-tiga yang juga penting bagi 20,3 persen suara yang masuk ialah soal ketersediaan informasi.

Seperti yang kita tahu, Indonesia kaya akan sejarah dan budaya, namun miskin penjelasan.

Informasi soal artefak atau tradisi lebih banyak ditulis oleh literatur asing. Pemandu wisata juga kadang hanya menjelaskan soal sejarah dan budaya dengan seadanya.

Diharapkan pascapandemi ketersediaan informasi di tempat wisata sejarah dan budaya bisa lebih digalakkan, sehingga turis tidak hanya datang untuk selfie.

[Gambas:Instagram]

Harapan terakhir ialah tentang sistem antrean, baik di pusat transportasi maupun di objek wisata.

Pembatasan jumlah orang yang bisa masuk taman nasional atau pembagian jadwal kunjungan di museum bisa diterapkan untuk hal ini.

Dengan sistem antrean yang terpadu, masalah overtourism atau serbuan turis yang menyebabkan kumuhnya objek wisata juga dirasa bakal terselesaikan.

Sistem antrean dipercaya menjadi salah satu jalan keluar dari keruwetan dan kemacetan. Pengelola tempat wisata harus bisa membuat turis disiplin antre tanpa mengurangi kenyamanan.

Misalnya menyediakan tenda atau kipas angin untuk antrean di tempat terbuka. Atau memberlakukan pembelian tiket masuk secara online, sehingga pengunjung tinggal datang untuk masuk.

(ard/ard)