Geliat Pariwisata Dunia Diprediksi Mulai Bangkit Bulan Juli

CNN Indonesia | Senin, 11/05/2020 14:47 WIB
A driver looks at an arrivals board after most incoming flights have been canceled due to the new coronavirus at the Haneda International Airport in Tokyo, Friday, April 3, 2020. (AP Photo/Jae C. Hong) Ilustrasi. Suasana sepi di Bandara Internasional Haneda di Tokyo, Jepang. (AP Photo/Jae C. Hong)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jumlah kunjungan wisatawan di dunia bisa turun 60 hingga 80 persen pada tahun 2020 akibat pandemi virus corona, kata Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO), merevisi perkiraan sebelumnya yang jauh lebih rendah.

Pembatasan perjalanan serta penutupan bandara dan perbatasan negara untuk mengekang penyebaran virus corona telah menjerumuskan pariwisata internasional ke dalam krisis terburuk sejak pencatatan dimulai pada 1950, badan PBB itu mengatakan dalam sebuah pernyataan seperti yang dikutip dari AFP pada Senin (11/5).

Kunjungan wisatawan internasional turun 22 persen dalam tiga bulan pertama tahun ini, dan 57 persen hanya pada bulan Maret, dengan Asia dan Eropa menderita penurunan jumlah kunjungan wisatawan internasional terbesar, menurut organisasi yang berbasis di Madrid itu.


"Dunia menghadapi krisis kesehatan dan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pariwisata telah terpukul, dengan jutaan orang berisiko kehilangan pekerjaan di salah satu sektor ekonomi yang paling padat karya," kata sekretaris jenderal badan itu, Zurab Pololikashvili.

Maskapai penerbangan paling menderita sejak wabah dimulai di China pada akhir 2019, begitu juga dengan grup hotel, operator kapal pesiar, dan operator tur.

UNWTO telah memperkirakan pada awal tahun bahwa pariwisata internasional akan tumbuh 3,0 sampai 4,0 persen pada tahun 2020, tetapi kemudian merevisi perkiraannya pada akhir Maret, memperkirakan penurunan 20 sampai 30 persen.

Krisis pariwisata internasional dipengaruhi durasi pembatasan perjalanan dan penutupan perbatasan.

Skenario kasus terbaik, dengan pembatasan perjalanan mulai mereda pada awal Juli, kunjungan wisatawan internasional turun hanya 58 persen.

Jika perbatasan dan pembatasan perjalanan dicabut pada awal Desember, penurunan akan lebih dari 78 persen.

Jika pembatasan dicabut pada awal September, badan PBB memperkirakan penurunan hanya 70 persen.

Dalam skenario ini, penurunan perjalanan internasional dapat menyebabkan hilangnya US$910 miliar hingga US$1,2 triliun pendapatan pariwisata dunia, dan 100 hingga 120 juta pekerjaan.

Pariwisata internasional sempat terpukul oleh wabah penyakit di masa lalu, namun pandemi virus corona dirasa menjadi alasan munculnya krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya karena faktor geografis.

Sebagai perbandingan, kunjungan wisatawan internasional "hanya" turun hanya 0,4 persen pada tahun 2003 setelah wabah Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) yang menewaskan 774 orang di seluruh dunia.

Perjalanan untuk liburan bakal pulih lebih cepat

Badan PBB mengatakan sebagian besar ahli percaya akan ada tanda-tanda pemulihan pada kuartal terakhir 2020, tetapi sebagian besar pada 2021, dengan Asia dan Pasifik diperkirakan akan pulih lebih dulu.

Perjalanan domestik diperkirakan akan pulih lebih cepat dari permintaan internasional, tambahnya.

"Berdasarkan krisis sebelumnya, perjalanan untuk liburan diharapkan pulih lebih cepat, terutama perjalanan untuk mengunjungi teman dan kerabat, daripada perjalanan bisnis," tambahnya.

Perusahaan telah membatasi perjalanan karyawan sementara pameran dagang telah dihentikan karena pandemi.

Pengamat perjalanan lebih optimis dengan pemulihan di Afrika dan Timur Tengah, dengan sebagian besar memperkirakan pemulihan masih terus berlangsung hingga akhir tahun 2020.

Pemulihan perjalanan di Amerika adalah yang paling pesimis, dan diperkirakan baru mulai dirasakan pada tahun depan.

Kunjungan wisatawan internasional naik 4,0 persen pada 2019 menjadi 1,5 miliar, dengan Prancis negara yang paling banyak dikunjungi di dunia, diikuti oleh Spanyol dan Amerika Serikat.

Terakhir kali kunjungan wisatawan internasional mencatat penurunan tahunan pada 2009 ketika krisis ekonomi global menyebabkan penurunan 4,0 persen.

Industri pariwisata menyumbang sekitar 10 persen dari produk domestik bruto (PDB) dunia dan pekerjaan.

(AFP/ard)

[Gambas:Video CNN]