Hari Perawat Internasional

Perawat, dari Gerakan Reformasi hingga Garda Depan Covid-19

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 12/05/2020 20:43 WIB
Perawat, dari Gerakan Reformasi hingga Garda Depan Covid-19 Ilustrasi: Hari Perawat Internasional diperingati setiap 12 Mei guna merayakan kontribusi perawat di tengah masyarakat. (Foto: iStockphoto/Hispanolistic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hari ini merupakan International Nurses Day atau Hari Perawat Internasional. Saban 12 Mei setiap tahunnya, orang di seluruh dunia merayakan kontribusi perawat di tengah masyarakat.

Tak bisa dimungkiri, pandemi virus corona (SARS-CoV-2) membuat orang makin sadar peran perawat sebagai garda terdepan Covid-19.

Menilik sejarahnya, 12 Mei adalah hari kelahiran Florence Nightingale, seorang pendiri keperawatan modern yang berasal dari Inggris. Melansir dari Nurses Zone, namanya mengemuka saat menjadi manajer perawat kala Perang Krimea (1853-1856). Di situ ia mengorganisir perawat untuk mengobati para prajurit yang terluka.



Peran Florence Nightingale membuat dunia keperawatan disegani. Persona 'The Lady with the Lamp' begitu lekat sebab perawat berkeliling membawa lampu untuk mengecek kondisi prajurit.

Pada 1860, Nightingale meletakkan dasar keperawatan profesional dengan mendirikan rumah sakit St Thomas di London. Sekolah ini jadi sekolah keperawatan sekuler pertama di dunia dan kini jadi bagian dari King's College London.

Tak hanya itu, dia pun melakukan reformasi sosial termasuk meningkatkan layanan kesehatan untuk semua masyarakat Inggris, advokasi bantuan bencana kelaparan di India, perjuangan penghapusan undang-undang pelacuran yang terlalu keras buat perempuan dan memperluas partisipasi perempuan dalam angkatan kerja.

Sementara itu melalui laman resminya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut tak hanya perawat, bidan pun memainkan peranan penting dalam penyediaan layanan kesehatan. Perawat maupun bidan merupakan orang yang mendevosikan hidup mereka untuk merawat ibu dan anak, memberikan mereka saran terkait kesehatan, menjaga lansia dan memastikan ketersediaan kebutuhan kesehatan.


WHO menyatakan, dunia setidaknya memerlukan lebih banyak perawat dan bidan setidaknya 9 juta orang demi mencapai cakupan kesehatan universal pada 2030.

"Bidan itu investasi 'best buy' buat negara sebab intervensi mereka bisa menurunkan 80 persen kematian saat proses persalinan, keguguran dan kelahiran prematur," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, direktur umum WHO dalam video unggahan WHO.

Oleh karena itu, para perawat dan bidan layak mendapatkan apresiasi juga dukungan. Menurut Ghebreyesus, dukungan ini bisa berupa edukasi yang baik, gaji layak dan tempat kerja yang aman dan suportif. (els/NMA)

[Gambas:Video CNN]