Pasar Emas di Dubai yang Kembali Berkilauan

CNN Indonesia | Selasa, 19/05/2020 04:41 WIB
Merchants stand wearing face masks, due to the COVID-19 coronavirus pandemic, at a jeweller's shop at the Dubai Gold Souk in the Gulf emirate on May 12, 2020, as markets re-open amidst an easing of pandemic restrictions. - Evening dresses made of gold mesh, gilded sunglasses and glittering crowns are sparkling again from the windows of Dubaiís historic gold souk which was shuttered during the coronavirus lockdown. Though customers are still missing, for business owners, the reopening of one of the worldís biggest gold markets is a vital move towards normality ahead of the autumn tourist season, in a city that prides itself on shop-'til-you-drop experiences. (Photo by Karim SAHIB / AFP) Salah satu toko yang menjual emas di Dubai Gold Souk. (Karim SAHIB / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Deretan toko penjual emas di Dubai Gold Souk, Dubai, terlihat kembali berkilauan setelah pemerintah melonggarkan pembatasan perjalanan demi menekan penularan virus corona.

Namun masih ada satu elemen yang hilang: pembeli.

Tetapi bagi pemilik toko, pembukaan kembali salah satu pasar emas terbesar di dunia ini adalah langkah vital menuju new normal atau normalitas baru jelang puncak kedatangan turis di musim gugur di kota yang terkenal dengan wisata belanjanya itu.


"Membuka kembali toko-toko adalah langkah besar bagi kami ... Faktor utama di sini adalah psikologis," kata Tawhid Abdullah, ketua Grup Emas dan Perhiasan Dubai.

"Kami berharap pada Juli atau Agustus ketika bandara dibuka kembali ... kami akan mendapatkan kembali 50 persen dari kegiatan bisnis kami," katanya seperti yang dikutip dari AFP pada Senin (18/5).

Sektor pariwisata menjadi andalan Dubai, yang didatangi lebih dari 16 juta turis mancanegara sepanjang tahun lalu dan menargetkan kedatangan 20 juta turis mancanegara pada tahun ini, sebelum pandemi virus corona melumpuhkan pariwisata dunia.

Pusat perbelanjaan mewah, restoran kelas atas, dan pasar tradisional telah ditutup selama sebulan untuk melawan penyebaran virus.

Negara-negara Teluk berjuang melawan penyakit ini, yang menyebar dengan mudah di antara populasi besar pekerja migran yang hidup dalam kondisi padat, dan Uni Emirat Arab telah melaporkan sekitar 19 ribu kasus positif virus corona, dengan 203 kematian.

Liburan di tengah pandemi

Diapit gedung pencakar langit, Dubai Gold Souk yang terletak di kawasan Old Dubai ditutup pada 24 Maret dan dibuka kembali pada 26 April dengan aturan kebersihan dan jarak sosial yang ketat.

Saat aturan jam malam resmi berakhir, beredar video viral saat penduduk Dubai turun ke jalanan dan bersorak sorai.

"Ketika kami datang ke sini pada hari pertama seolah-olah kami datang ke tempat baru, jadi kami mensterilkan semuanya. Kami sangat senang bisa kembali," kata pemilik toko perhiasan Chandu Siroya.

"Semua orang ingin berlibur, tapi kali ini sebaliknya. Liburan itu terlalu lama sehingga kami sangat ingin kembali," tambahnya, dikelilingi oleh selusin karyawannya yang mengenakan masker.

Pemilik toko meninggalkan emas mereka di toko selama lockdown. Ini menjadi bukti reputasi Dubai sebagai salah satu kota teraman di dunia.

Tempat ikonik

Menempati jalanan yang ramai dan ditutupi dengan atap yang terbuat dari daun kurma, di sebelah Dubai Gold Souk ada pasar lainnya yang menjual rempah-rempah dan karpet.

"Ini adalah tempat ikonik, jantung kota kami, dan sangat senang untuk melihatnya kembali dibuka," kata Abdullah.

Sektor emas dan perhiasan juga merupakan salah satu pilar ekonomi Dubai, di antara banyak kawasan di Tanah Arab yang hanya bergantung pada minyak.

Pemerintah mengatakan 14 persen dari seluruh sirkulasi emas di dunia berasal dari Dubai.

Tetapi dua minggu setelah pembukaan kembali, Dubai Gold Souk yang biasanya ramai kini masih sepi.

Penjual yang menggoda wisatawan untuk membeli jam tangan telah menghilang, dan sebagian besar toko tutup. Karyawan di toko yang buka terlihat menjaga jarak satu sama lain.

"Sulit dipercaya bahwa hal seperti ini bisa terjadi," kata Chetan Dhanak, yang telah bekerja sebagai karyawan salah satu toko emas di Dubai sejak ia tiba dari India 17 tahun lalu.

"Bisnis benar-benar menderita. Hanya tiga atau empat pelanggan yang datang sejak kami buka kembali, sementara kami biasa menerima hingga 10 setiap hari tergantung musim. Tapi itu akan kembali normal."

Kepala Pariwisata Dubai Hilal al-Marrion mengatakan dalam sebuah wawancara televisi bulan lalu bahwa setelah menghentikan kedatangan turis mancanegara pada bulan Maret, kota ini dapat dibuka kembali untuk pariwisata internasional pada bulan Juli.

Katia Abu Samra, kepala pengembangan bisnis di Samra Jewellery, mengatakan lockdown mendorong perusahaannya untuk mengalihkan fokusnya ke pelanggan lokal.

"Kondisi ini telah membuka pintu yang sebelumnya tidak pernah kita miliki," katanya.

Abu Samra yakin bisnis akan hidup kembali sebelum musim turis dimulai pada bulan September.

Namun jika kondisi Dubai sudah normal seperti sedia kala, ia punya keinginan lain.

"Saya ingin mengunjungi kakek dan nenekku serta mencium mereka," katanya.

[Gambas:Video CNN]

(AFP/ard)