SURAT DARI RANTAU

Cerita dari 'Silicon Valley' di Tanah Peninggalan Uni Soviet

Dirgantara Ridho Maulana, CNN Indonesia | Minggu, 17/05/2020 14:40 WIB
Sightseeing of Estonia. Cityscape of Sillamae. Mere Boulevard - a popular promenade in the city center Pemandangan pusat kota Sillamäe di Estonia. (Istockphoto/Getty Images/RAndrey)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bulan Februari kemarin, sesaat sebelum Italia mengalami peningkatan kasus COVID-19, seorang teman kuliah menawari saya untuk menghuni tempat tinggalnya.

Waktu itu saya memiliki dua pilihan, "mengungsi" ke Prancis atau Estonia. Saya lalu memilih pilihan kedua, karena berpikir ini satu-satunya kesempatan untuk mengunjungi negara dengan julukan "Silicon Valley (Lembah Silikon) di Eropa" itu.

Terkenal dengan angka Indeks Pembangunan Manusia yang tinggi, negara berpenduduk 1,3 juta jiwa ini merupakan bagian dari Uni Soviet. Sudah pasti Estonia memberikan kesan demografis dan historis yang unik.


Mendarat di Riga, ibukota Latvia, saya berkendara selama 12 jam melintasi Estonia bagian selatan menuju rumah teman yang berada di sebuah kota di perbatasan Rusia dan Estonia, Sillamäe.

Hari pertama kedatangan diisi oleh sambutan hangat dari keluarga teman. Saya sama sekali tidak ada bayangan seperti apa Sillamäe.

Sampai akhirnya pada hari kedua di Sillamäe, saya berkesempatan melihat sekilas pemandangan kota ini: dipenuhi oleh gaya bangunan yang monoton, gedung-gedung yang terabaikan, dan asap dari pabrik industri.

Dari penjelasan teman saya, kota ini dibangun pada tahun 1950 dan seluruh bangunannya diprakarsai oleh pemerintah Uni Soviet. Kala itu Sillamäe memiliki potensi tambang yang bernilai tinggi.

Oleh karena itu, meski bahasa nasional Estonia adalah bahasa Estonia, tetapi penduduk di Sillamäe mayoritas berbicara bahasa Rusia.

Teman saya juga mengatakan bahwa kakeknya merupakan diaspora dari negara Uni Soviet lainnya yang dipindahkan ke Sillamäe untuk bekerja dan mengabdi kepada negara, sehingga apartemen yang saya tempati merupakan tempat tinggal yang ditujukan untuk kaum pekerja.

Dari rumah ini saya semakin bersemangat untuk menggali cerita tentang Sillamäe.

Mengenal Uni Soviet dari arsitektur

Hal yang pertama saya lakukan untuk mengenal Sillamäe adalah mengetahui sejarah pemukiman di sini, yang mayoritas berbentuk apartemen.

Satu gedung apartemen di sini ini berisi sembilan unit hunian. Tingginya sekitar empat sampai lima lantai. Ruangannya sederhana, hanya berisikan sebuah satu kamar mandi, dapur, ruang keluarga, dan satu kamar tidur.

Mungkin efisiensi waktu dan dana menjadi alasan pembangunan apartemen kala itu. Terlebih kota ini dibangun pada tahun 1950-an, dimana pada waktu ini Perang Dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat sedang memuncak, serta Uni Soviet harus memfokuskan kekuatan militernya saat Perang Sipil Korea.

Melihat kota ini saya menyadari bagaimana pemerintah Uni Soviet sangat berusaha mengejar ketinggalan industrialisasi dengan Blok Barat. Contohnya ada perusahaan tambang di sini yang ditujukan untuk mendukung industri nuklir di Uni Soviet. Sampai saat ini sisa-sisa energi radioaktif masih terkubur di sebelah barat Sillamäe.

Di sisi lain, saya tidak begitu merasakan kesenjangan antara penduduk kelas bawah, menengah, dan atas karena seluruh bangunan di Sillamäe memiliki struktur yang sama.

Berbeda dengan waktu saya berada di Italia dan Indonesia di mana status sosial bisa dilihat dari seberapa besar rumah yang dimiliki oleh seseorang. Menurut saya hal inilah yang menjadikan Sillamäe kota yang unik.

Satu-satunya cara untuk mengetahui status atau kelas seseorang adalah dengan mengunjungi apartemen penduduk lokal. Teman saya kebetulan berkenan rumahnya didatangi.

Yang membedakan antara apartemen lama dan baru salah satunya ialah soal fasilitas pengaman rumah. Apartemen baru tentu saja dibekali fasilitas yang serba modern dan canggih.

Surat Dari Rantau EstoniaFoto yang dipajang di rumah. (Dok. Dirgantara Ridho Maulana)

Saya meneruskan penelusuran sejarah ke sudut lainnya. Saya lalu melihat sebuah foto keluarga dengan pigura berwarna emas. Di belakangnya, barisan buku berbahasa Rusia menunjukkan betapa pentingnya budaya membaca di keluarga teman saya ini.

Saya juga menemukan beberapa dokumen mulai dari asuransi, ijazah, sertifikat dan dokumen-dokumen lain dari pemerintah Uni Soviet, salah satunya adalah kartu identitas pekerja yang terdiri dari dua halaman dengan tiga bintang di sudut kiri atas: dua bintang bergambar Lenin dan satu bintang bertuliskan Revolusi Oktober dan gambar palu arit di bawahnya.

Salah satu interpretasi mengapa Uni Soviet memperlihatkan gambar Lenin di dokumen tersebut tidaklah lepas dari kebijakan domestik Stalin yang menekankan betapa pentingnya Lenin sebagai Bapak Pendiri Uni Soviet, meskipun Lenin sendiri tidaklah hadir pada waktu Revolusi Oktober 1917 terjadi.

Meskipun begitu, peran pentingnya dalam mengumpulkan dan menjadi nyawa dari Partai Bolsheviks tidak dapat diabaikan. Selain tercetak di dokumen negara, wajah Lenin juga tercetak di bangunan-bangunan besar seperti auditorium dan museum.

Lebih lanjut lagi, pemerintah Uni Soviet berusaha menciptakan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan dengan menciptakan lapangan kerja bagi perempuan untuk menjadi sosok yang mandiri.

Dari obrolan dengan penduduk lokal yang saya lakukan, saat itu perempuan biasanya bekerja sebagai kasir supermarket, berjualan tiket bioskop dan sebagai petugas medis. Pembagian makanan diberlakukan dan juga perempuan mendapatkan gaji dari pemerintah.

Selama musim panas, perempuan melanjutkan bekerja di kebun keluarga yang terpisah beberapa ratus meter dari apartemen.

Kehidupan sepeninggal Uni Soviet

Sayangnya, setelah kejatuhan pemerintah Uni Soviet di tahun 1991, banyak penduduk Estonia yang kehilangan pekerjaan dan beberapa sektor hiburan mulai terabaikan. Karenanya, tidaklah aneh jika di Sillamäe dan kota-kota sekitarnya memiliki banyak sekali gedung yang kosong.

Contohnya gedung di depan apartemen saya adalah gedung yang ditujukan untuk asrama siswa militer. Namun sekarang hanyalah gedung tak berkaca dengan tumpukan sampah daun di sekelilingnya.

Kehidupan paca-Soviet sangat mempengaruhi wajah Sillamäe saat ini yang dipenuhi oleh kakek-kakek dan nenek-nenek. Banyak dari mereka yang tinggal sendiri dan tidak memiliki penghasilan tetap.

Di tambah lagi dengan sedikitnya kesempatan untuk bekerja di sini, membuat orang-orang muda meninggalkan Sillamäe dan lebih memilih tinggal di ibukota ataupun pergi ke negara lain dengan harapan akan mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang lebih layak.

Surat Dari Rantau EstoniaSalah satu tarian tradisional di Estonia. (Dok. Dirgantara Ridho Maulana)

Sekarang pemerintah setempat sangat berusaha memaksimalkan potensi pariwisata di Sillamäe dengan merenovasi jalan utama, jalan di sepanjang laut Baltik dan jalan di hutan yang menghubungkan Sillamäe dengan kota selanjutnya: Narva.

Pusat kota Sillamäe tidak dapat diragukan lagi sebagai nyawa dari kota ini, dari arsitekturnya sendiri yang unik bahkan lebih cantik lagi saat salju menyelimuti bangunan-bangunan di pusat kota.

Sekarang Sillamäe memiliki tiga pusat perbelanjaan yang cukup besar: dua toko Maxima dan satu toko Coop, pusat olahraga dari mulai kolam renang, lapangan voli, sepak bola, dan lain-lain.

Untuk pendidikan, Sillamäe memiliki sekolah formal di bawah pemerintah dan sekolah non-formal yang menekankan pada pelatihan dan pengasahan bakat berbahasa asing seperti bahasa Inggris, Jerman dan Prancis, kemampuan menari dan bermain instrumen.

Hal tidak terlupakan yang saya alami yaitu perayaan 1 Maret 2020 pada saat orang-orang merayakan akhir dari musim dingin. Dipenuhi oleh penduduk setempat dari tua dan muda yang memakai kostum tradisional, yang menari bersama dan diiringi oleh lagu-lagu daerah Estonia, Rusia, dan Ukraina.

Saya telah berteman dengan beberapa penduduk lokal di sini. Mereka sangat ramah dan berusaha mempermudah komunikasi dengan saya, meskipun saya tidak terlalu cakap berbahasa Rusia.

Berkawan dengan penduduk lokal memberi saya banyak kesempatan untuk mempelajari alasan negara ini pantas dijuluki sebagai 'Lembah Silikon di Eropa', karena generasi muda kunci utama perkembangan negara ini.

Saat ini semakin banyak proyek yang dipimpin oleh anak muda untuk menyelesaikan masalah negara.

Ditambah mobilisasi yang sangat mudah karena transportasi publik yang gratis, juga posisinya yang strategis di laut Baltik membuat aktivitas ekonomi daerah ini berjalan lancar.

Pada akhirnya, Sillamäe telah menjadi rumah ketiga bagi saya setelah Indonesia dan Italia.

-

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi sdr@cnnindonesia.com

(ard)