Sepi Wisman, Penduduk Belgia Hibur Diri dengan 'Staycation'

CNN Indonesia | Senin, 01/06/2020 00:47 WIB
Brussels' energy technician Regis Callens points at the Manneken-pis landmark statue in Brussels on April 2, 2019. - City authorities recently discovered that a fault in the 400-year-old statue's plumbing was causing him to pee away 2.5 tonnes of water a day. Brussels was able to detect the anomalous overflow thanks to a new system of electronic monitors dotted around the municipal system. (Photo by EMMANUEL DUNAND / AFP) Keramaian turis di Manneken Pis, Brussels, Belgia, sebelum pandemi virus corona terjadi. (EMMANUEL DUNAND / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Turis asyik berkasih mesra di Grand Place atau yang sedang terkikik di depan Manneken Pis menjadi pemandangan khas kala musim semi di Brussels, ibu kota Belgia. Kini kota itu sepi dari wisatawan mancanegara yang berlibur akibat pandemi virus corona (Covid-19) melanda dunia.

Saat ini Brussels hanya diramaikan penduduk lokal. Sebab tidak ada orang yang datang, rerumputan di Grand Palace mulai tumbuh di antara bebatuannya.

Banyak penduduk Belgia yang bergantung pada industri pariwisata, salah satunya para pembuat cokelat.


Toko cokelat Laurent Gerbaud terletak di pusat tidak jauh dari Grand Place. Makanan dan minuman berbahan cokelat serta buah keringnya membuat toko legendaris ini ramai wisatawan setiap harinya.

"Turis menyumbang sekitar 60 persen untuk omset kami. Karena mereka telah berhenti datang ke Brussels dan ke Belgia pada umumnya, kami berusaha mencari solusi lain," kata salah satu pengelola toko.

"Kami akan mencoba untuk bekerja secara lokal dengan toko-toko kecil di daerah perumahan, dengan platform internet dan dengan kombinasi keduanya untuk mencoba memulihkan sekitar setengah dari omset kami," lanjutnya.

Sektor pariwisata biasanya menyumbang hampir sepersepuluh dari pemasukan negara-negara Uni Eropa.

Jutaan pekerjaan berisiko, terutama di negara-negara yang ekonominya didukung oleh pariwisata, seperti Yunani, Prancis, Spanyol, dan Italia.

Efeknya juga terlihat di Belgia di mana pada tahun 2016 serangan teroris merusak sektor pariwisata.

Salah satu ikon Brussels yang paling dikenal, Museum Atomium, telah mengumumkan akan menghadapi defisit US$3 juta tahun ini.

Atomium diperkirakan akan tetap ditutup sampai Juni, tetapi Mini-Eropa, taman miniatur yang berada di sebelahnya, akan dibuka kembali pada 18 Mei.

Taman Mini-Eropa menawarkan pemandangan sejarah dan warisan budaya Eropa dalam bentuk kecil.

Tahun lalu, situs itu menyambut 420 ribu orang, 80 persen di antaranya berasal dari negara-negara Uni Eropa, serta Timur Tengah, India, dan Amerika, kata pemiliknya.

Direktur dan Pemilik Mini-Eropa, Thierry Meeus, mengatakan semua langkah-langkah keamanan anti-virus sudah ada, termasuk sensor tanpa kontak baru untuk menyalakan musik dan efek khusus. Tapi dia tidak mengharapkan antrean panjang di sini dalam beberapa bulan mendatang.

Meeus menyebut krisis virus corona sebagai "bencana nyata".

"Musim panas ini kita akan kehilangan semua turis mancanegara yang datang ke sini dengan pesawat atau mobil, yang akan melintasi perbatasan. Kita harus melihat apakah orang Belgia akan menghidupkan kembali pariwisata negaranya."

"Saya pikir kita bisa sangat bahagia jika pada akhir tahun ini kita akan memiliki total 150 ribu - 200 ribu pengunjung. Kami pasti akan kehilangan antara 50 dan 60 persen dari penjualan tiket dan pendapatan kami," jelas Meeus.

Wendy Deneve mengunjungi Mini-Eropa bersama kedua putrinya. Taman ini berjarak singkat dengan naik mobil dari Leuven, kota kecil tempat mereka tinggal.

Deneve mengatakan keluarganya kemungkinan akan menunda rencana liburan di Portugal dan sebagai gantinya memilih staycation, alias liburan di dalam negeri.

"Ada banyak objek wisata menarik di Belgia. Sangat senang bisa mengunjunginya tanpa keramaian," kata Deneve.

Di antara beberapa wisatawan yang berkeliaran di sekitar Mini-Eropa adalah Michel Quere, yang tinggal di Brussels.

Quere mengatakan dia berharap krisis Covid-19 akan mendorong orang untuk mengubah kebiasaan bepergian mereka dan berpikir lebih lokal, katanya.

"Di sini ada banyak orang dari berbagai latar belakang. Kita dapat menjangkau dunia di ujung jalan kita," kata Quere.

(AP/ard)

[Gambas:Video CNN]