ANALISIS

Alasan Sosial Orang 'Rela' Berkerumun ke CFD di Tengah Corona

tim, CNN Indonesia | Selasa, 23/06/2020 16:53 WIB
Marathon runners stretching and warming up before the race at sunset. ilustrasi: Seolah tanpa rasa takut pada virus corona, orang-orang 'tumpah ruah' di Car Free Day (CFD) Jakarta, Minggu lalu. Apa alasannya? (istockphoto/skynesher)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seolah tanpa rasa takut pada virus corona, orang-orang 'tumpah ruah' di Car Free Day (CFD) Jakarta, Minggu lalu. Setelah terkurung di rumah selama lebih dari tiga bulan, pekan lalu merupakan kali pertama masyarakat diizinkan untuk berolahraga di CFD.

Pelonggaran kebijakan ini disambut dengan suka cita oleh masyarakat. Protokol kesehatan pencegahan Covid-19 juga tampak diabaikan.

Padahal, di saat yang sama kurva jumlah kasus positif Covid-19 terus menunjukkan peningkatan dengan penambahan rata-rata lebih dari 1.000 kasus per hari. Tak sedikit orang yang merutuki orang-orang yang berkerumun dan bergerombol demi alasan olahraga ini.


Gambaran ini menunjukkan rasa takut dan khawatir pada virus corona dan segala ancaman di baliknya terus memudar.

Alasan apa yang membuat masyarakat rela menembus pandemi untuk berkumpul dan berolahraga bersama? Apakah karena ingin berolahraga di luar rumah atau hanya sekadar ingin keluar rumah dan bertemu teman atau kerabat usai didera bosan stay at home?

Beberapa waktu lalu tim komunikasi Gugus Tugas Covid-19 Indonesia, Reisa Broto Asmoro meminta masyarakat Indonesia untuk tak menjadikan olahraga sebagai alasan untuk berkumpul tanpa melakukan disiplin ketat protokol kesehatan.

"Ingat kembali tujuan olahraga, tujuannya untuk menyehatkan badan, atau tujuannya berbeda hanya untuk bertemu teman atau kerabat? Tolong ingat, praktikkan protokol kesehatan selalu terutama saat di luar rumah. Hindari kerumunan," kata Reisa.

Pengamat sosial budaya Universitas Indonesia Devie Rahmawati ada sejumlah alasan atau dorongan besar yang membuat masyarakat Indonesia 'rela' ramai-ramai bergerombol keluar rumah saat CFD di tengah pandemi.

Pertama, secara biologis manusia merupakan makhluk yang merdeka dan dilahirkan dengan kecenderungan untuk berkumpul dengan orang lain. Kebutuhan biologis ini pula yang menjadi alasan utama seseorang berkumpul dengan orang lain. Kebutuhan itu semakin mendesak lantaran lebih dari tiga bulan masyarakat terkungkung di rumah sendiri.

"Secara biologis manusia diciptakan dengan saling ketergantungan  dan membutuhkan orang lain. ... Saat kemarin dibuka gerbangnya (CFD), orang ingin merayakan, ini merupakan selebrasi kemerdekaan manusia  karena hakikatnya manusia itu merdeka," kata Devie kepada CNNIndonesia.com.

Sebagian orang pun dinilai mengabaikan fakta-fakta soal corona.

"Data-data objektif dan fakta yang ada seharusnya membuat orang takut. Tapi manusia tidak digerakkan oleh faktor rasional. Sehingga kemudian alasan rasional seperti ada penyakit yang berbahaya terkalahkan dengan rasa rindu dan rasa senang yang semuanya adalah emosi," tutur Devie yang merupakan akademisi di Vokasi UI.

Selain itu, faktor rasional yang ada saat ini juga terbilang tidak cukup kuat untuk mengalahkan emosi masyarakat yang sudah lama 'terkurung' di rumah demi memutus rantai infeksi virus corona.

Devie menjelaskan faktor rasional didukung oleh pengetahuan dan pengalaman. Masyarakat dinilai masih belum punya pengetahuan cukup dan juga pengalaman nyata yang langsung berhubungan dengan Covid-19.

Sejumlah pelari saling berlomba pada Makassar Half Marathon 2016 di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (14/6). Lomba lari maraton dalam rangka HUT ke-43 Bosowa yang memperlombakan nomor lari 5K, 10K, dan 21K tersebut sebagai ajang mempromosikan kota Makassar dan diikuti 2.501 peserta dari delapan negara.  ANTARA FOTO/Yusran Uccang/ama/16Foto: ANTARA FOTO/Yusran Uccang
ilustrasi olahraga bersama

"Berbeda dengan DBD, masyarakat bisa jadi lebih takut karena punya pengalaman langsung entah saudaranya, temannya, atau tetangganya. DBD jauh lebih akrab dibanding Covid-19. Masyarakat hanya disuguhi data tentang Covid-19 tapi tidak pernah benar-benar tahu bagaimana wujud dan dampaknya," tutur Devie.

Devie menyebut orang membutuhkan pengalaman yang melibatkan seluruh panca indera seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan peraba untuk meyakinkan ada suatu ancaman bahaya.

"Secara kultural, Indonesia merupakan masyarakat yang simbolik, kalau tidak melihat betul, relatif tidak percaya. Bukan karena bodoh," ucap Devie.

Hal ini senada dengan ungkapan dokter spesialis olahraga Michael Triangto beberapa waktu lalu kepada CNNIndonesia.com.

"Kalau itu bisa dipahami masyarakat luas (soal corona), saya yakin bisa. Tapi kalau melihat sekarang, aturan PSBB saja masih tidak dituruti, saya enggak yakin karena masih ada yang anggap enteng," katanya.

Alasan ini pula yang membuat terjadinya perbedaan sikap masyarakat di saat awal pandemi yang penuh dengan ketakutan. Kini, masyarakat tampak santai meski jumlah kasus sudah mencapai lebih dari 45 ribu kasus positif.

"Waktu pertama kali itu, orang kaget. Tapi, setelah setelah tiga bulan kita tahu, ternyata gini aja toh. Kita enggak punya pengalaman yang nyata seberapa bahayanya Covid-19 ini.

Faktor lain adalah manusia juga merupakan makhluk yang pandai bertahan hidup. Saat CFD digelar, sejumlah pedagang bermunculan karena kebutuhan akan ekonomi dan juga untuk bertahan hidup.

Menurut Devie, fenomena ini tak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di seluruh dunia.

"Ini terjadi pada seluruh manusia manapun di belahan dunia manapun," ucap Devie.

Olahraga di rumah

Jika memang tujuan awal CFD atau lari sore di GBK adalah untuk olahraga demi kesehatan, maka ada baiknya sedikit bersabar lebih lama untuk bisa kembali olahraga di luar ruangan.

"Yang harus dipahami, olahraga ada tiga tujuan, untuk sehat, fun, dan kompetisi. Dan olahraga untuk sehat tidak harus berat, tidak harus keringatan. Seperti misalnya olahraga pernapasan chikung. Itu gerakannya pelan tapi itu olahraga sehat dan itu cukup. Sedangkan olahraga fun itu misalnya di gym, golf. Kalau kompetisi itu misalnya tinju."

Beberapa jenis olahraga untuk kesehatan yang bisa dilakukan antara lain aerobik, chikung, joging, jalan cepat, treadmill, sepeda statis, skipping.

Beberapa olahraga yang disarankan untuk orang yang mengalami nyeri lutut osteoarthritis adalah berjalan perlahan di kolam air.

Reisa Broto Asmoro juga mengungkapkan bahwa ada beberapa jenis olahraga yang bisa dilakukan di rumah.

"Banyak opsi yang dapat kita pilih, misalnya dengan gerakan-gerakan tanpa alat seperti senam SKJ, zumba, dan lainnya atau pakai barang-barang lain seperti kursi, botol air minum, tanggal," ucap Reisa saat jumpa pers Rabu (17/6).

"Kalau kita mau olahraga di luar rumah ingat kembali unsur keamanan, yang paling utama. Tentunya berkaitan dengan penularan covid-19.

Dia menegaskan warga harus mengikuti protokol utama jika ingin beraktivitas di luar. 

"Kita tahu, virus ini menular melalui droplet, maka usahakan jaga jarak aman dengan orang lain. Terutama kalau kita tidak bisa pakai masker saat olahraga."

(ptj/chs)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK