Telepsikiatri, Upaya Kikis Stigma Negatif Gangguan Kejiwaan

tim, CNN Indonesia | Sabtu, 27/06/2020 08:55 WIB
Young Asian man sitting on rooftop of abandoned building with depression stress out during sunset time in the city. Major depressive disorder concept Telepsikiatri adalah bagian dari telemedicine yang melibatkan berbagai pelayanan medis terkait psikiatri atau masalah kejiwaan. ( Istockphoto/Zephyr18)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kesehatan tubuh baik secara fisik maupun secara mental sama pentingnya. Meski demikian, selalu timbul rasa enggan jika berurusan dengan kesehatan mental terlebih jika harus mengunjungi layanan kesehatan jiwa. Dokter Prasilla Darwin, spesialis kesehatan jiwa di RSJI Klender, mengatakan stigma negatif sudah lama ada di masyarakat.

Label gila, kata Prasilla, membuat pasien merasa malu untuk mendatangi layanan kesehatan atau konsultasi ke psikiatri.

"Orang takut dicap 'gila' karena masyarakat kita memahaminya seperti itu. Ke RSJ adalah pasien dengan gangguan jiwa 'gila' padahal kan gangguan jiwa bervariasi dari ringan sampai berat," kata Prasilla dalam webinar bersama Johnson & Johnson, Jumat (26/6).


Rasa enggan untuk mengunjungi layanan kesehatan pun makin bertambah akibat pandemi Covid-19. Meski penerapan protokol kesehatan sudah sedemikian ketat, rasa takut dan khawatir akan penularan tetap ada.

Namun seiring kemajuan teknologi dan desakan akan kebutuhan layanan kesehatan selama pandemi muncul praktik telemedicine. Telemedicine memungkinkan pasien tetap bisa mendapatkan layanan kesehatan tanpa harus mengunjungi fasilitas kesehatan akibat risiko penularan Covid-19.

Telemedicine pun terangkum dalam surat edaran dari Menteri Kesehatan tentang 'Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan  Melalui Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19)'.

Telemedicine memungkinkan untuk dilakukan anamnesa (wawancara keluhan dan permasalahan), pemeriksaan fisik secara audio visual, pemberian anjuran, penegakan diagnosis, pemilihan obat, penulisan resep elektronik, pemberian obat (pengantaran) dan pemberian surat rujukan jika diperlukan.

Secara khusus terkait kesehatan jiwa terdapat telepsikiatri. Menurut Prasilla, telepsikiatri adalah bagian dari telemedicine yang melibatkan berbagai pelayanan medis terkait psikiatri seperti evaluasi psikiatri, terapi baik terapi individu, kelompok maupun keluarga, edukasi pasien dan manajemen terapi.

Prasilla berkata fasilitas telemedicine ini bermanfaat selama masa pandemi. Pasien memperoleh kemudahan layanan, tak ada kecemasan akan penularan, mengurangi keterlambatan pelayanan, jaminan keberlangsungan terapi juga mengurangi beban biaya seperti transportasi ke rumah sakit.

"Ini juga mengurangi hambatan stigma. Stigma (negatif) pada pasien gangguan jiwa. Ada masyarakat yang keberatan cari pertolongan ke psikiater, masuk RSJ nanti ada stigma, ada dampak negatif juga label yang dipikirkan orang," ujarnya.

Selain itu, telemedicine juga bisa membantu mengurangi kekambuhan pada pasien dengan gangguan jiwa berat semisal skizofrenia. Gangguan jiwa berat ini ditandai dengan halusinasi (kesalahan persepsi yang ditangkap panca indera pasien) dan ada gangguan pikiran berupa keyakinan yang tidak lazim sehingga pasien sulit membedakan yang nyata dan tidak nyata.

Skizofrenia termasuk penyakit kronis sehingga memerlukan penanganan tepat. Jika tidak, akan sering terjadi kekambuhan, gangguan keseimbangan, juga penurunan fungsi kognitif sehingga berpengaruh pada kualitas hidup pasien.

Selain skizofrenia, yang turut menjadi perhatian ialah pasien dengan bipolar. Jika tidak ada terapi yang baik, maka timbul kekambuhan yang makin sulit ditangani, stigma negatif, menimbulkan beban keluarga dan gangguan psikososial jangka panjang.

Di samping telemedicine, Prasilla juga berharap masyarakat juga semakin memahami gangguan jiwa melalui beragam platform informasi. Gangguan jiwa, kata dia, tidak sebatas 'gila'.

"Gila ini kemungkinan pasien skizofrenia. Padahal pasien yang memerlukan layanan kesehatan jiwa enggak hanya skizofrenia saja. Angka pasien skizofrenia dibandingkan dengan gangguan jiwa ringan lebih sedikit. Yang banyak gangguan cemas," imbuhnya.

(els/chs)

[Gambas:Video CNN]