Dedikasi Kakek Menjaga Kebun Raya Seorang Diri kala Pandemi

CNN Indonesia | Jumat, 10/07/2020 09:57 WIB
Quindio Botanical Garden di Kolombia Kebun Raya Quindio di Kolombia. (Karolynaroca via Wikimedia Commons (CC-BY-SA-3.0))
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketika pandemi coronavirus melanda Kolombia hingga diterapkannya penguncian wilayah (lockdown) pada bulan Maret, Alberto Gomez memutuskan tetap merawat tanaman-tanaman yang tumbuh subur di kebun raya miliknya.

Kolombia adalah salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, sebuah fakta yang mendorong Gomez (72) untuk membangun sebuah taman ekologis lebih dari 40 tahun yang lalu di lereng Andean di timur laut Quindio.

"Lebih mudah untuk mengatasi karantina pandemi dengan mengurung diri di sini, di tengah kebun raya seluas 14 hektare dengan keanekaragaman hayati ekologis yang tinggi," kata pria kurus yang berambut putih dan berjanggut abu-abu itu kepada AFP, seperti yang dikutip pada Kamis (9/7).


Jauh dari keluarganya dan 30 anggota stafnya di ibukota Bogota, Gomez berjuang sendirian untuk menjaga karya hidupnya agar tidak ditelan oleh hutan Andean.

Karena stafnya tak bisa bepergian akibat lockdown, Gomez harus beradaptasi menjadi kepala tukang kebun, penjaga, pembersih, dan administrator ketika dia menunggu pusat ekologisnya dibuka kembali untuk turis.

Serta "diktator," dia tertawa: "Karena di sini, tidak ada daun yang bisa bergerak tanpa persetujuan saya."

Dia pergi ke bank untuk meminta bantuan agar tetap membayar gaji karyawannya, katanya, sebelum meluncurkan seruan minta tolong di media sosial.

Alih-alih membiarkan mimpinya layu, pandemi virus corona mendorongnya untuk merawat kebunnya.

Sebuah video yang ia buat sebagai bagian dari kampanyenya yang disebut 'SOS untuk Kebun Raya Quindio' mengundang orang untuk membeli pohon, mensponsori tanaman dan bagian taman, dan mendukung proyek-proyek dengan sumbangan.

Di tanah pertanian terdekat, karyawannya telah menanam lebih dari 70 ribu spesimen dari 37 spesies tanaman asli, dan Gomez mampu membayar gaji pada bulan Mei dan Juni dari penjualan.

Sejauh ini, surga botani-nya masih bertahan, katanya, "di tengah deforestasi, degradasi ekosistem, pemanasan global, dan punahnya spesies asli."

Botanist Alberto Gomez cleans a lake at the botanical garden in Quindio, Colombia on July 6, 2020. - When the pandemic broke out in the second most biodiverse country in the world, botanist Alberto Gomez made the botanical garden he founded more than forty years ago, his home. (Photo by Adriana RUIZ / AFP)Alberto Gomez di Kebun Raya Quindo, Kolombia. (AFP/ADRIANA RUIZ)

Sebagai pengacara, kariernya di bidang hukum mencukupi kebutuhan rumah tangganya selama ia membangun kebun raya ini.

"Saya memasuki dunia yang menakjubkan. Seperti kata orang Spanyol, itu seperti menemukan Mediterania yang baru," katanya.

Ada banyak hal yang bisa dikagumi di Kebun Raya Quindio, mulai dari anggrek langka, bromeliad, salam, tanaman akuatik dan obat-obatan, ditambah lagi dengan museum geologi, kebun binatang serangga, taman kupu-kupu, perpustakaan, auditorium dan bioskop.

Sebelum pandemi virus corona, sekitar 60 ribu pengunjung datang setiap tahunnya ke kebun raya yang terletak di distrik Calarca yang dipenuhi kebun kopi.

Ketika gerilyawan FARC menandatangani perjanjian perdamaian pada tahun 2016, mengakhiri konflik Kolombia yang berlangsung paling lama, "jumlah wisatawan mancanegara meningkat lima persen menjadi 20 persen. Tetapi sekarang, pandemi virus corona telah menghancurkan pariwisata."

Kerusakan ekologis

Paduan suara kicauan burung setiap jam 05.00 adalah alarm bangun pagi Gomez.

"Simfoni dimulai dan saya bangun," katanya.

Kolombia adalah rumah bagi hampir 2.000 spesies burung, dan ia telah mengidentifikasi 176 spesies yang berhabitat di Kebun Raya Quindio.

Sebagai presiden Jaringan Nasional Taman Botani Kolombia, Gomez mengatakan dia merasakan tanggung jawab yang sangat besar.

"Tugas menyelamatkan Kolombia dari perusakan ekologis sangat mendesak, dan kita tidak bisa menunggu anak-anak kita melakukannya, kita harus melakukannya sekarang."

Sekitar jam 21.30 malam, dia mengakhiri hari kerjanya dengan minum kopi.

"Selama pandemi ini, setiap hari sama untukku. Tidak ada perbedaan antara hari Minggu dan Senin."

Di surga yang terkunci, pikirannya dipenuhi ide-ide untuk proyek-proyek baru untuk tamannya saat ia menunggu kembalinya wisatawan.

"Satu-satunya hal yang dilarang di taman ini adalah berhenti bermimpi," kata ahli botani itu.

(AFP/ard)

[Gambas:Video CNN]


BACA JUGA